Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Sangat Panik


__ADS_3

Baru kali ini Daddy Aberto menangis karena selama hidupnya, Daddy Aberto tidak pernah sedikitpun menangis. Daddy Aberto selalu bersikap dingin, arogant dan membunuh tanpa pandang bulu baik wanita maupun pria.


Tidak berapa lama Daddy Aberto juga tidak sadarkan diri karena Daddy Aberto juga mengalami luka hanya saja istrinya yang paling parah karena memeluk dirinya.


Sedangkan Maria yang memeluk David dan menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya ikut tidak sadarkan dirinya dengan kondisi tubuhnya mengeluarkan darah segar.


Sedangkan David tidak mengalami cedera hanya lecet kemudian David menghubungi kakak kembarnya yang bernama Daven menggunakan ponsel mungil dan untunglah ponselnya tidak rusak hanya retak.


Daven bersyukur karena deringan pertama langsung di angkat oleh kakak kembarnya.


"Ada apa dek?" tanya Kak Daven dengan nada santai.


"Hiks... Hikss... kakak... Hikss.." Ucap David sambil terisak.


"Kamu kenapa dek?" tanya Daven dengan nada panik karena adik bungsunya menangis.


"Kakak Hiks... Hiks... Mommy dan Daddy... hikss... Tante Maria.... Hikss... Hiks.." ucap David sambil menangis.


"Paman Hendrik, tepikan mobilnya!" Perintah Daven.


"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Hendrik sambil mengurangi kecepatan mobil kemudian berhenti di pinggir jalan dengan wajah terkejut begitu pula dengan yang lainnya.


"Kak Dave, lacak GPS David!" perintah Daven dengan nada panik.


"Baik." Jawab Dave patuh.


"Paman pinjam laptopnya." pinta Dave.


"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Hendrik sambil memberikan laptopnya.


Mereka semua sangat panik mendengar ucapan Daven yang agak keras dan terlihat jelas wajah panik Daven.


"Daven ada apa?" tanya Tuan Abertos penasaran begitu pula dengan yang lainnya.


"Opa, David menangis menyebut nama Daddy, Mommy dan Tante Maria." Jawab Daven.


"Apa??" Teriak Mereka dengan serempak.


"David ceritakan ada apa?" tanya Daven dengan nada lembut agar adiknya berhenti menangis dan menceritakan apa yang telah terjadi.


"Tadi Tante Maria loncat dari mobil sambil menggendongku terus kami terguling di rumput hiks.. hiks...." Jawab David sambil terisak.


"Kenapa Tante Maria dan Kamu loncat dari mobil?" tanya Daven dengan nada terkejut begitu pula dengan orang - orang yang berada di dalam mobil.


"Kenapa Tante Maria tega sama cucu kita? Lalu kenapa Mommy Kalian diam saja?" tanya Nyonya Abertos dengan menahan kesal terhadap menantu dan temannya Mommy Davina sambil mengusap wajahnya dengan kasar dan tidak berapa lama air matanya keluar.


"Apakah putra kita baik - baik saja?" Tanya Nyonya Abertos dengan nada kuatir.


"Sssttt kita dengarkan saja dulu." Ucap Tuan Abertos sambil berusaha menenangkan istrinya dengan cara memeluknya dari arah samping kemudian mengusap punggungnya dengan lembut.

__ADS_1


"Ketemu. Paman Hendrik cepat balik lagi ke jalan xxxx." ucap Dave tiba - tiba bicara.


"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Paman Hendrik dengan patuh.


"David kenapa Tante Maria meloncat dari mobil?" tanya Daven mengulangi perkataanya.


"Karena ada truk yang menabrak mobil milik Daddy hiks.... hikss... dan mobil Daddy terdorong terus terguling - guling... hiks... hiks..." ucap David sambil masih menangis.


"Coba Kamu lihat mobilnya Daddy." pinta Daven dengan nada masih lembut.


David berjalan ke arah mobil milik daddy, matanya membulat sempurna melihat Mommy dan Daddy diam tidak bergerak sama sekali.


"Daddy.... Mommy...hiks... hikss... Ja ... ngan tinggalkan David...hiks... hiks...!" teriak David dengan suara terbata - bata dan menangis.


"Mommy dan Daddy kenapa David?" tanya Daven.


Sambil berbicara Daven menahan rasa sesak di hatinya karena mendengar adik kesayangannya menangis terlebih dirinya sangat kuatir dengan keadaan adik kesayangannya terlebih ke dua orang tuanya.


"Kakak... hiks .. hiks... Mommy ... hiks... Daddy hiks.. Mommy memeluk Daddy dan David panggil diam saja hiks .. hiks.... Tubuh Mommy dan Daddy mengeluarkan darah." ucap David sambil menangis terisak dan berusaha membuka pintu mobil.


"Apa??" teriak Daven kemudian menutup mulutnya dan tidak berapa lama air matanya ikut mengalir dengan deras seperti adik kembarnya.


Semua yang ada di dalam mobil sangat terkejut membuat Nyonya Abertos memeluk Daven. Mereka bisa mendengar suara David karena mereka meminta agar suaranya di loud speaker.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nyonya Abertos penasaran.


"Mobil Daddy di tabrak truk dan Mommy memeluk Daddy dengan kondisi tubuh Mommy dan Daddy berdarah dengan mata terpejam." Jawab Daven dengan air mata tidak berhenti keluar.


"Hendrik cepat!" Perintah Tuan Abertos sambil menghubungi mobil ambulance.


"Tante Maria sedang apa?' Tanya Daven.


"Tante Maria sama seperti Mommy dan Daddy, tubuhnya mengeluarkan darah dan dibangunin tapi tidak bangun - bangun." Jawab David.


Tuan Abertos dan Nyonya Abertos merasa bersalah dengan menantunya dan sahabat menantunya yang bernama Maria. Sepasang suami istri tersebut mengira Mommy Davina dan Maria tidak sayang dengan cucunya David. Kini sepasang suami istri tersebut mengerti kenapa Maria keluar dari mobil dengan cara meloncat sambil membawa David karena ada alasannya yaitu agar David selamat dari kecelakaan. Hingga dua puluh menit kemudian Mereka sudah sampai di tempat yang di tuju.


"Dave dan Daven sama oma saja yang lainnya keluar." Ucap Nyonya Abertos.


"Baik Oma." Jawab ke duanya dengan serempak.


Tuan Abertos dan Paman Hendrik turun dari mobil dan langsung menyebrang jalan. Mereka melihat David berada di dalam mobil berusaha menarik Mommy Davina sambil menangis.


Paman Hendrik langsung menggendong Daddy Aberto dengan di bantu bodyguard yang tadi diperintahkan Hendrik untuk datang sedangkan Tuan Abertos menggendong menantunya yang bernama Mommy Davina.


Untuk Maria di gendong salah satu bodyguard sedangkan David di gendong oleh salah satu bodyguard sambil mengusap punggungnya agar berhenti menangis.


"Mommy .... Hiks... Hiks... Daddy hiks..hiks..." ucap David sambil mengalungkan ke dua tangannya ke arah leher bodyguard tersebut.


David menyandarkan kepalanya di dada bidang bodyguard sambil menangis dan menatap ke dua orang tuanya yang di bawa ke arah mobil ambulance.

__ADS_1


"Tuan Muda Kecil, sabar ya. Pasti Tuan Muda dan Nyonya Muda baik - baik saja." Ucap bodyguard tersebut dengan nada lembut.


Setelah Mommy Davina, Daddy Aberto dan Maria masuk ke dalam mobil ambulance, Tuan Abertos langsung mengambil David dari gendongan bodyguardnya.


"David, Kamu baik - baik saja?" Tanya Tuan Abertos.


"Baik - baik saja Opa." Jawab David sambil sesekali meringis menahan rasa sakit.


"Aku akan menjaga Mereka." Ucap paman Hendrik.


"Oke. Tapi bawa sekalian David sepertinya ada yang luka." Jawab Tuan Abertos sambil memberikan David ke Paman Hendrik.


"Baik Tuan." Jawab Paman Hendrik sambil menggendong David.


Tuan Abertos memerintahkan salah satu bodyguardnya untuk mengenderai mobil menuju ke rumah sakit sedangkan Paman Hendrik masuk ke dalam mobil di mana Daddy Aberto berbaring.


Merekapun pergi menuju ke rumah sakit dengan menggunakan mobil pribadi dan mobil ambulance diikuti dua mobil bodyguard. Hanya membutuhkan waktu dua puluh lima menit mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung di bawa ke unit gawat darurat. Kini mereka sedang duduk di ruang tunggu dengan hati cemas.


"Paman Hendrik aku pinjam lagi laptopnya." Ucap Dave dengan nada dingin dan terlihat jelas wajahnya menahan amarahnya.


"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Paman Hendrik sambil menyerahkan laptopnya.


"Biar Opa yang pegang laptopnya." ucap Tuan Abertos mengingat tubuh Dave masih kecil.


"Dave, Daven dan David ikut Opa ke ruang perawatan VVIP agar kalian istirahat dan untuk kamu Hendrik ambilkan koperku dan kopermu karena baju kita terkena noda darah." Sambung Tuan Abertos.


"Baik Tuan Besar." Jawab paman Hendrik dengan patuh.


"Baik Opa." Jawab ke tiga cucu kembarnya secara bersamaan.


Mereka pergi ke ruang perawatan VVIP sedangkan Nyonya Abertos berada di ruang ugd menemani David di periksa oleh dokter dan di jaga oleh beberapa pengawal.


Tuan Abertos membuka pintu dengan lebar agar ke dua cucunya masuk ke dalam ruang perawatan di mana ada ruang istirahat khusus menunggu pasien.


Dave berjalan ke arah sofa kemudian duduk di sofa dan diikuti oleh Tuab Abertos sedangkan adik kembarnya yang bernama Daven istirahat. Jari jemari mungil milik Dave sangat lincah mengutak atik laptopnya sedangkan Tuan Abertos hanya memperhatikan cucunya.


'Benar yang dikatakan oleh putraku dan Hendrik ternyata cucuku sangat genius. ucap Tuan Abertos dalam hati.


ceklek


Tiba - tiba pintu ruang perawatan di buka lebar membuat mereka menatap ke arah pintu dan melihat Paman Hendrik membawa dua koper kemudian satu koper diberikan ke Tuan Abertos.


"Tuan Besar, maaf ini kopernya." Ucap paman Hendrik dengan nada sopan.


Tuan Abertos langsung menerima kopernya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tuan Abertos membuka koper tersebut kemudian mengambil satu stel pakaian santai karena pakaiannya terkena bercak darah dari tubuh Mommy Davina.


Tuan Abertos masuk ke dalam kamar mandi hingga dua puluh satu menit kemudian Tuan Abertos sudah mengganti pakaiannya dan kini giliran Paman Hendrik membersihkan diri.


Tuan Abertos mendekati cucu pertamanya kemudian duduk di sampingnya yang masih mengutak atik laptopnya dengan wajah serius mirip seperti dirinya masih muda. Setelah hampir tiga puluh lima menit barulah Dave menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


"Opa kenal pelayan ini?" tanya Dave dengan nada dingin.


__ADS_2