
Kini Hendrik dan Maria sudah selesai memasukkan barang - barang belanjaan kemudian mereka masuk ke dalam restoran sambil berpelukan dari arah samping.
"Honey, mau makan apa?" tanya Maria sambil melihat buku menu.
"Apa saja suka yank." Ucap Hendrik sambil sepasang mata lentik milik Maria.
"Ok." Jawab Maria dengan singkat.
Maria memesan makanan untuk dirinya dan Hendrik di mana pelayan restoran sedang menunggu mereka. Selesai mencatat pelayan itupun pergi meninggalkan mereka.
"Perasaan memanggilku kadang yank dan kadang sayang." Ucap Maria sambil menatap wajah tampan Hendrik.
"Hehehehe .... Kamu juga yank, kadang honey dan kadang Sayang." ucap Hendrik tidak mau kalah.
"Masa sih sayang perasaan tidak." Ucap Maria sambil berpikir.
"Nah itu barusan sayang tadi honey." Ucap Hendrik,
"Hehehehe ... Hmmm bagaimana kalau kita ganti nama panggilan." Usul Maria.
"Ganti apa yank?" tanya Hendrik.
"Kita sama - sama memanggil dengan sebutan darling, bagaimana darling?" Tanya Maria sambil mengedipkan matanya.
"Ok darling, no problem." ucap Hendrik sambil membalas kedipan Maria.
Hendrik dan Maria langsung tertawa bersama, mereka sangat bersyukur mempunyai pasangan yang saling mencintai dan menerima apa adanya padahal mereka baru kenal beberapa hari.
"Oh ya setelah ini mau kemana?" Tanya Hendrik.
"Aku mau ke supermarket mau beli roti berbagai rasa dan botol minuman plus plastik ukuran sedang kira - kira lima puluh sampai tujuh puluh." Jawab Maria.
"Untuk apa membeli roti berbagai rasa sebanyak itu?" tanya Hendrik dengan wajah bingung.
"Nanti darling akan tahu. Darling tenang saja Aku yang akan membayar roti, botol minuman dan plastik." Ucap Maria yang mengira Hendrik tidak mau membayarnya.
ctak
__ADS_1
"Aduh ... Darling sakit tahu." Ucap Maria sambil mengelus keningnya karena di sentil oleh Hendrik.
Hendrik meniup kening Maria kemudian mengusapnya dengan lembut.
"Maaf Darling, Aku tidak melarangmu membeli roti, botol minum dan kantong plastik tapi Aku hanya bingung, kenapa darling memborong roti sebanyak itu. Apalagi uangku adalah uangmu juga jadi jangan mengatakan itu lagi ya darling, karena jujur Aku tidak suka." Ucap Hendrik dengan nada tegas.
"Baik darling, maafkan Aku." Ucap Maria sambil menatap mata kekasihnya dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa - apa darling asal jangan diulangi lagi." Ucap Hendrik sambil mengusap rambut Maria dengan lembut.
Setelah lama menunggu akhirnya pesanan mereka datang dan merekapun makan namun sebelumnya mereka berdoa terlebih dahulu. Selesai makan dan minum mereka pergi ke supermarket untuk membeli roti, botol minum dan kantong kresek serta beberapa cemilan untuk mereka di kantor.
Setelah selesai mereka langsung menuju ke arah kasir dan semua belanjaan di bayar Hendrik kemudian mereka berdua berjalan keluar dari supermarket.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Hendrik.
"Kita langsung ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan yang kemarin belum selesai. Oh ya semua roti dan botol minuman langsung dimasukkan ke dalam kantong plastik lalu dimasukkan ke dalam bagasi mobil." Ucap Maria.
"Ok." Jawab Hendrik dengan singkat.
Mereka berdua berjalan ke arah parkiran sambil mendorong troli hingga mereka sampai di mobil milik mereka barulah Hendrik menekan remote mobil dan pintu bagasi mobil terbuka. Hendrik memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi.
Maria membuka tasnya dan mengambil amplop berwarna putih untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik tersebut membuat Hendrik bingung dengan apa yang dilakukan oleh Maria.
"Amplop itu ising uang? Sebenarnya untuk apa?" Tanya Hendrik penasaran.
"Benar isinya uang dan untuk apa nanti Kak Hendrik akan tahu." Jawab Maria.
Hendrik menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian ikut membantu Maria memasukkan amplop ke dalam kantong plastik. Setelah selesai mereka masuk ke dalam mobil kemudian Hendrik mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Darling, Aku ingin jujur padamu." Ucap Hendrik sambil melirik sekilas ke arah Maria.
Maria hanya diam saja menunggu cerita selanjutnya sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah tampan Hendrik dari arah samping.
"Dulu orang tuaku sangat miskin sehari kami makan sekali, Ayahku melakukan pekerjaan serabutan dan ibuku menjadi buruh cuci. Ketika Aku kelas tiga SMP, Aku membantu orang tuaku mencari uang dengan cara melakukan pekerjaan serabutan sama seperti pekerjaan Ayahku dikarenakan ayahku mengalami kecelakaan kerja hingga membuatnya lumpuh sampai aku lulus SMA. Lulus SMA aku melamar kerja tapi selalu di tolak hingga aku bertemu dengan Tuan Muda Aberto." Ucap Hendrik memulai ceritanya.
"Kami bertemu ketika Tuan Muda Aberto di keroyok oleh para preman dan Aku membantunya karena Aku tidak tega melihat orang di keroyok atau di siksa oleh orang jahat." Sambung Hendrik kemudian menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
__ADS_1
Maria hanya diam tanpa mengeluarkan suara sambil menunggu cerita selanjutnya.
"Tuan Muda Aberto memberikan Aku pekerjaan sebagai asistennya, Tuan Muda Aberto dengan sabar mengajariku hingga aku bisa menghandle semua pekerjaan perusahaan sampai saat ini ." Ucap Hendrik.
"Kamu masih ingat dengan wanita yang berada di toko perhiasan tadi?" tanya Hendrik yang tidak ingin menutupi semua masalalunya.
Hendrik mengatakan hal itu karena Hendrik tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Maria sebab lama atau cepat Maria pasti akan tahu siapa Hendrik sebenarnya.
"Ya Aku masih ingat, Aku masih kesal dengan wanita itu. Angkuh dan sombong senang merendahkan orang lain. Rasanya Aku ingin melakban mulutnya agar tidak bicara lagi." Ucap Maria dengan nada mengebu - gebu.
Hendrik melirik ke arah Maria dan tersenyum ketika mendengar ucapan Maria yang apa adanya.
"Dia teman sekolahku dulu dan Aku menyukai wanita itu. Karena Aku mendapatkan pekerjaan yang pasti maka Aku memberanikan diri untuk melamarnya tapi ke dua orang tuanya dan Dia menghinaku habis - habis san." ucap Hendrik sambil menggenggam erat stir kemudi untuk menyalurkan kemarahannya.
"Apakah darling masih mencintainya?" tanya Maria dengan nada cemburu.
"Tidak, Aku mengatakan ini semua karena Aku tidak ingin ada kesalahan pahaman di antara kita karena Aku ingin jika kita memulai sesuatu hubungan harus saling mempercayai." Jawab Hendrik dengan nada tegas.
"Aku mempercayaimu darling yang pasti jika darling tidak menginginkan Aku lagi maka Aku akan pergi dari kehidupan darling untuk selamanya." ucap Maria.
Walau berat tapi Maria akan tetap melakukannya karena untuk apa mempertahankan suatu hubungan jika salah satu tidak mencintainya.
"Tidak darling Aku laki - laki bodoh jika Aku melepaskan dirimu karena Aku sangat mencintaimu darling." Ucap Hendrik dengan nada tulus.
"Terima kasih darling." Ucap Maria sambil tersenyum bahagia.
"Sama - sama darling. Darling, kini darling sudah tahu masalaluku apakah darling tidak malu menikah denganku? Pria dari keluarga yang sangat miskin ini?" tanya Hendrik sambil menatap ke arah depan tapi pikirannya sangat takut jika dirinya harus menerima rasa kecewa untuk ke dua kalinya terlebih rasa cintanya lebih dalam pada Maria dari pada dengan Violet.
"Kenapa Aku harus malu, darling? Aku mencintai darling apa adanya bukan ada apanya." Jawab Maria sambil menggenggam tangan kiri Hendrik agar Hendrik semakin yakin dengan dirinya.
Hendrik mengecup punggung tangan Maria karena hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Maria.
"Terima kasih darling." Ucap Hendrik sambil tersenyum.
"Sama - sama darling." Ucap Maria sambil tersenyum bahagia.
Mereka mengobrol tanpa mengetahui kalau sebuah mobil berwarna hitam mengikuti mobilnya sambil menatap ke arah mobil di mana Hendrik sedang mengendarai mobil.
__ADS_1
"Aku akan mencari kesempatan untuk menabrak kalian berdua." ucap orang tersebut sambil menggenggam stir kemudi sambil menahan amarah dan dendam.