Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Perang - Perangan


__ADS_3

"Selama ini Kami melatih ketiga anakmu dan juga para sepupu ketiga anak kembar sekaligus ponakan kami untuk melakukan permainan perang - perangan bersama para orang yang lebih tua dengan menggunakan pistol air. Karena itulah Aku dan Kakakku memintamu untuk diam dan melakukan apa yang diminta oleh ke tiga ponakan kami sekaligus putramu." Jawab Paman David menjelaskan.


"Apa yang kami latih selama ini ternyata tidak sia - sia karena mereka bisa membaca gerakan lawan." Sambung Paman Edward.


"Kenapa mereka di latih perang - perangan? Bukankah mereka masih kecil?" Tanya Daddy Aberto dengan wajah terkejut begitupula dengan Paman Hendrik.


"Karena Kami keluarga besar dan keluarga terkaya nomer satu di negara ini. Jadi bisa dipastikan anggota keluarga besar kami menjadi incaran musuh di mana musuh menculik atau menyerang kami di saat yang tidak terduga." Jawab Paman Edward.


"Dengan adanya pelatihan seperti ini membuat mereka bisa berpikir apa yang harus dilakukan tanpa punya rasa takut sedikitpun." Sambung Paman David.


'Terlebih kami keluarga mafia dan bisa dipastikan banyak musuh yang menyerang kami secara tiba- tiba.' Sambung Paman David dan Paman Edward bersamaan.


"Kalau seandainya tadi kita mengatakan Kami sudah tahu dan yang ada ketiga anakmu akan sangat sedih." ucap Paman Edward.


"Kini Aku mengerti dan terima kasih sudah melatih ketiga anak kembarku." Ucap Daddy Aberto dengan wajah terharu.

__ADS_1


Apa yang dikatakan Paman Edward dan Paman David memang benar karena Daddy Aberto sering membunuh dan menyiksa para musuhnya baik mati terkadang dibiarkan hidup namun dalam keadaan cacat.


Bisa jadi di antara mereka ingin membalaskan dendam terhadap Daddy Aberto lewat ke tiga anak kembarnya. Karena itulah Daddy Aberto mengucapkan banyak terima kasih ke tiga anak kembarnya di latih perang - perangan.


"Oh ya satu lagi apa yang dikatakan ketiga putramu jangan menyela atau mengatakan Daddy sudah tahu dan tidak perlu diajari. Karena jika mengatakan itu bisa dipastikan ketiga putramu tidak lagi mengeluarkan pendapatnya." Ucap Paman David.


"Baik akan aku ingat perkataan Kak David dan terima kasih sudah diingatkan." Ucap Daddy Aberto.


'Mereka sudah datang.' Ucap Daddy Aberto dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh ke tiga anak kembarnya.


"Kalian kok lama? Apa yang kalian bawa?" Tanya Daddy Aberto yang melihat ketiga ponakannya membawa tiga paper bag.


"Kami lama karena kamarnya seperti kapal pecah dan banyak barang - barang berserakan." Jawab Dave.


"Karena itulah kami memasukkan barang - barang tersebut ke dalam paper bag dan membawanya kesini sekalian ingin bertanya ada barang yang tidak kami mengerti." Sambung Daven.

__ADS_1


"Seperti ini Daddy ...(David menjeda kalimatnya kemudian mengeluarkan bungkusan panjang dan berminyak dari saku celananya) ... Daddy apakah ini balon?" Tanya David polos sambil bersiap mengarahkan mulutnya ke dalam lubang untuk di tiup.


Daddy Aberto, Paman Edward dan Paman David yang melihatnya langsung refleks mengambilnya agar David jangan meniupnya. Namun Paman Edward lebih dulu mengambilnya kemudian memasukkannya ke dalam paper bag dengan perasaan jijik padahal benda tersebut masih baru.


"Sayang ini bukan balon." Ucap Daddy Aberto.


Sambil berbicara Daddy Aberto menlap tangan David dengan menggunakan sapu tangan hingga bersih kemudian membuang sapu tangan di tong sampah lalu menggendong David.


"Tapi kenapa banyak Daddy?" Tanya David dengan wajah polosnya.


"Ada banyak?" Tanya ulang Daddy Aberto dengan wajah bingung sambil menatap ke arah Paman Edward dan Paman David secara bergantian.


"Iya sangat banyak dengan berbagai rasa tadi David ingin meniupnya tapi dilarang sama Kak Dave dan Kak Daven." Jawab David dengan wajah sendu.


"Lihat ini." Ucap Paman Edward sambil membuka paper bag kemudian memperlihatkan ke Daddy Aberto yang mengerti arti tatapan Daddy Aberto.

__ADS_1


Daddy Aberto sangat terkejut namun berusaha bersikap biasa saja kemudian tersenyum menatap ke arah putra bungsunya.


"Apakah kalian lapar?" Tanya Daddy Aberto mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2