
"Daddyku. Waktu bayi Daddyku menyentuh tubuhku ketika Aku dimandikan dan dipakaikan baju sama seperti Daddy waktu Daddy masih bayi di rawat oleh orang tua." Jawab Mommy Davina.
Daddy Aberto hanya tersenyum karena apa yang dikatakan istrinya benar adanya di mana setiap bayi di rawat oleh ke dua orang tuanya.
"Jika suatu saat alergi itu hilang Apakah daddy akan mencari wanita lain?" tanya istrinya penasaran.
"Maksud Mommy?" tanya Daddy Aberto.
"Jika suatu saat Daddy di sentuh oleh wanita dan Daddy tidak alergi oleh sentuhan. Apakah Daddy akan mencari penggantiku?" tanya Mommy Davina dengan wajah sendu.
"Kenapa Mommy bicara seperti itu? Bagi Daddy wanita yang paling Daddy cintai hanya Mommy. Jadi Daddy minta jangan pernah Mommy mempunyai pikiran seperti itu. Walau Daddy bisa menyentuh atau di sentuh oleh wanita diluaran sana tapi yang berhak menyentuh tubuh Daddy hanya Mommy." ucap Aberto dengan nada tegas.
"Terima kasih sayang." Jawab istrinya sambil memeluk tubuh kekar suaminya.
Suaminya membalas pelukan istrinya, setelah agak lama mereka melepaskan pelukannya. Istrinya melanjutkan melap tubuh suaminya dan setengah jam kemudian istrinya sudah selesai.
Kini suaminya sudah memakai pakaian santai dan duduk di ranjang sambil mengobrol dengan istrinya. Tidak berapa lama pintu ruang perawatan VVIP di buka oleh seseorang membuat mereka melihat seorang perawat yang tadi ingin menlap tubuh Daddy Aberto.
Ketika ketiga anak kembar tersebut keluar dari ruang perawatan bersama Tuan Abertos dan Nyonya Abertos, mereka melihat Hendrik ingin mengusir perawat tersebut namun ketiga anak kembar memintanya untuk diberikan kesempatan ke dua.
Hendrik hanya menatap Tuan Abertos sedangkan Tuan Abertos hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya untuk mengikuti permintaan ke tiga cucu kembarnya. Akhirnya perawat tersebut tidak jadi di hukum dan diberikan kesempatan ke dua atas permintaan ke tiga anak kembar Daddy Aberto.
Perawat tersebut berjalan sambil membawa nampan dan berjalan ke arah ranjang Daddy Aberto. Perawat tersebut tersenyum manis membuat Daddy Aberto menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
'Pasti ketiga putraku meminta Hendrik untuk memberikan kesempatan kedua.' ucap Daddy Aberto dalam hati yang bisa menebak kenapa perawat tersebut masih bekerja di rumah sakit miliknya.
"Suster letakkan saja di atas meja, nanti Aku akan menyuapi suamiku." Ucap Mommy Davina sambil masih menggenggam tangan suaminya.
"Maaf Nyonya, biar Saya saja yang menyuapi Tuan Muda karena ini tugas saya." Ucap perawat itu yang masih penasaran dengan penolakan Daddy Aberto.
"Lakukan apa yang dikatakan istriku." Ucap Daddy Aberto dengan nada dingin.
"Tapi Tuan Muda, Saya ingin menyuapi Tuan Muda karena ini merupakan tugas Saya sebagai seorang perawat." Ucap perawat itu bersikeras sambil mengedipkan matanya.
"Apakah tugas seorang perawat menggoda pasien?" tanya Mommy Davina sambil menatap tajam ke arah perawat itu.
"Tutup mulutmu wanita murahan, walau kamu istrinya tapi Saya sangat yakin kalau Tuan Muda Aberto akan lebih tertarik dengan Saya daripada wanita murahan seperti Nyo.." ucapan perawat tersebut terpotong oleh tamparan keras dari Mommy Davina.
"Kamu itu wanita murahan sekaligus perawat yang tidak tahu diri. Sudah jelas - jelas pria ini adalah suamiku masih berani menggodanya. Seharusnya sebelum mengatakan itu pikir pakai otak jangan asal bicara." Ucap Mommy Davina sambil jari telunjuknya di arahkan ke kening perawat itu.
Perawat itu sangat marah sambil memegang ke dua pipinya yang sangat perih di tambah perawat itu juga tersinggung ketika keningnya di tunjuk oleh Mommy Davina. Hal itu membuat dirinya langsung mengangkat tangannya untuk membalas tamparan Mommy Davina tapi tangan kanan Daddy Aberto menahannya kemudian tangan perawat itu di putar kemudian di dorongnya dengan kasar.
"Akhhhhhhhh!" teriak perawat itu kesakitan ketika bokongnya mencium lantai.
"Jangan sekali - sekali menyentuh atau menyakiti istriku!" Bentak Daddy Aberto sambil menatap tajam ke arah perawat tersebut.
Tiba - tiba pintu ruang perawatan terbuka di mana Hendrik membuka pintu untuk menengok keadaan bosnya bersama istrinya yang bernama Maria. Hendrik dan Maria terkejut melihat Daddy Aberto sedang mendorong perawat itu hingga terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Ada apa Tuan Muda?" Tanya Hendrik yang bisa menebak kalau perawat tersebut ingin merayu Daddy Aberto.
"Hendrik usir wanita ini dan pecat. Jangan di terima bekerja di manapun jika mereka nekat maka buat perusahaannya bangkrut!" Perintah Daddy Aberto tanpa menjawab ucapan Hendrik.
"Baik Tuan Muda." Jawab Hendrik dengan patuh.
Hendrik menarik paksa wanita itu ke luar dari ruang perawatan VVIP sedangkan Maria hanya diam dan hanya bisa menatap sahabatnya yang sedang menahan amarahnya.
"Biasanya sahabat yang Aku kenal dulu bisa menahan emosinya tapi kenapa kini tidak bisa mengontrol emosi?" tanya Maria penasaran.
"Apa kamu lagi hamil?" tanya Maria lagi.
"Aku juga tidak tahu, kenapa hari ini hawanya ingin marah tapi mau marah sama siapa? Di tambah perawat itu datang bikin Aku kesal ya sudah Aku luapkan ke perawat itu." Jawab Mommy Davina.
"Daddy, Mommy minta di peluk." Pinta Mommy Davina yang ingin meredakan amarahnya.
Tanpa menjawab Daddy Aberto langsung memeluk tubuh mungil istrinya.
"Oh iya Daddy. Tadi Daddy menyentuh tangan perawat itu, apakah tangannya gatal dan memerah?" tanya istrinya sambil membalas pelukan suaminya dan menghirup aroma suaminya yang membuat dirinya merasa tenang.
Suaminya sangat terkejut dan mendorong perlahan tubuh istrinya dan melihat ke dua tangannya sama sekali tidak memerah.
"Apakah Daddy sudah sembuh? Kenapa tidak memerah?" Tanya Daddy Aberto dengan wajah terkejut begitu pula dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Maria coba sentuh tangan suamiku." pinta Mommy Davina.
"Apakah Mommy menyuruh Daddy untuk selingkuh?" Tanya Daddy Aberto naik satu oktaf sambil menatap tajam ke arah istrinya.