Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Meeting


__ADS_3

"Kak Daven memang hebat Paman dalam bisnis." Puji David.


" Kalau begitu Paman akan ambilkan lagi dokumennya." ucap Paman Hendrik sambil berdiri dan berjalan ke arah meja untuk mengambil dua dokumen yang belum di periksa.


Daven menerima satu dokumen untuk di periksa sedangkan Paman Hendrik melanjutkan memeriksa dokumen yang satunya. Setelah selesai memeriksa Daven melihat data di laptopnya untuk disamakan.


"Paman lihatlah pemasukan dan pengeluaran lebih banyak pengeluaran. Daven melihat ada beberapa pengeluaran yang tidak masuk akal." ucap Daven sambil meletakkan dokumen di depan meja Paman Hendrik.


Paman Hendrik langsung menghentikan kegiatannya dan melihat yang ditunjukkan oleh Daven.


"Berarti bagian keuangan ada yang korupsi." celetuk Dave yang sejak tadi terdiam.


"Bisa jadi kak." Jawab Daven.


"Paman coba yang punya Paman aku cek." pinta Daven.


"Silahkan Tuan Muda Daven Daven." Jawab Paman Hendrik sambil menyerahkan dokumen yang tadi dipegangnya.


Daven menerima dokumen tersebut dan mengeceknya namun baru saja membaca sudah ada kejanggalan membuat Daven langsung berhenti.


"Paman, pemasukan dan pengeluaran berbeda dengan yang berada di laptop. Pengeluaran bulan lalu sangat besar di bandingkan dengan dua bulan yang lalu." ucap Daven sambil kembali memberikan dokumen tersebut.


Tanpa banyak bicara Paman Hendrik langsung mengambil dokumen tersebut dan mengecek dokumen tersebut.


"Tuan Muda Daven Daven, benar - benar hebat." puji Paman Hendrik sambil tersenyum bangga.


"Terima kasih Paman. Sekarang Paman minta ke bagian keuangan untuk memperbaikinya." ucap Daven.


"Baik Tuan Muda Daven." Jawab Paman Hendrik dengan patuh.


'Tuan Muda Daven sangat hebat, umur masih kecil tapi bisa tahu ada kejanggalan dalam laporan keuangan. Seandainya Aku punya anak sepintar Tuan Muda Daven senangnya.' Sambung Daven dalam hati.


Paman Hendrik berdiri dan berjalan ke arah meja untuk menghubungi bagian manager keuangan untuk datang ke ruangannya. Setelah selesai menghubungi Paman Hendrik duduk di kursi kebesaran sedangkan ke tiga anak kembar menunggu kedatangan manager keuangan. Hingga dua belas menit kemudian terdengar suara ketukan pintu dan mereka tahu siapa yang mengetuk pintu.


tok


tok


tok


"Masuk." jawab Paman Hendrik.


ceklek


Pintu terbuka tampak seorang pria paruh baya memberi hormat dengan membungkukkan badannya setengah kemudian pria bertumbuh gempal itu masuk ke dalam ruangan CEO.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pria paruh baya itu dengan ramah.


"Kamu manager keuangan?" tanya Paman Hendrik dengan nada dingin.


"Benar tuan, perkenalkan nama lengkap Saya Jono Si Paku Lancip panggil saja dengan nama Jono." Ucap Jono dengan nada sopan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baik. Tuan Jono laporan tiga bulan ini salah semua silahkan perbaiki kembali." Ucap Paman Hendrik sambil mengembalikan laporan keuangan selama tiga bulan.


"Baik Tuan." Jawab Jono tersenyum dan dengan nada masih sopan sambil mengepal tangan kirinya menahan amarahnya sedangkan tangan kanannya menerima laporan keuangan selama tiga bulan.


'Si*l, selama ini tidak ada yang mengecek dokumenku karena pemilik sebelumnya percaya denganku.' Ucap Jono dalam hati.


Tanpa sepengetahuan Jono, Daven yang bisa membaca raut seseorang bisa melihat kalau senyuman Jono adalah palsu dan juga melihat kalau tangan kirinya mengepal tanda dirinya sedang menahan emosinya.


'Kak Dave, tolong retas cctv tempat kerja Paman Jono.' Pinta Daven dengan suara berbisik agar tidak terdengar oleh Jono.


"Ok." Jawab dengan Dave singkat.


"Permisi Tuan." Ucap Jono kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Paman Hendrik turun dari kursi kebesaran kemudian berjalan ke arah Dave yang sibuk mengutak atik laptopnya.


"Apa yang Tuan Muda Kecil lakukan?" Tanya Paman Hendrik penasaran.


"Dave ingin meretas cctv tempat kerja Paman Jono?" Tanya Paman Hendrik.


"Memangnya ada apa, Tuan Muda Kecil Dave?" tanya Paman Hendrik penasaran.


"Paman Jono sangat mencurigakan Paman." Jawab Daven yang menjawab pertanyaan Paman Hendrik.


"Mencurigakan kenapa?" tanya Paman Hendrik dengan wajah bingung sambil menatap ke arah Daven.


"Pertama senyuman Paman Jono itu palsu dan ke dua ketika Paman Hendrik meminta untuk diperbaiki laporannya aku melihat Paman Jono mengepalkan tangan kiri menahan emosi. Karena itulah Aku meminta tolong Kak Dave untuk meretas cctv tempat kerja Paman Jono." Ucap Daven menjelaskan apa yang tadi di lihatnya.


"Tentu saja bisa Paman. Seperti sekarang ini Aku bisa membaca wajah Paman kalau Paman sangat kagum akan kepintaran kami dan aku juga bisa membaca kalau Paman orangnya setia dan tulus bekerja dengan Daddy." ucap Daven menjelaskan.


'Karena itulah perusahaan atas nama Paman akan Aku berikan untuk Paman atas kesetiaan dan ketulusan selama bekerja dengan Daddy.' Sambung Daven dalam hati.


Tanpa sepengetahuan Paman Hendrik kalau ketiga anak kembar akan memberikan perusahaan yang baru dibelinya di mana perusahaan tersebut sudah atas nama Paman Hendrik. Karena itulah Ke tiga anak kembar mengecek data perusahaan agar nantinya Paman Hendrik dengan mudah menjalankan perusahaannya tanpa ada orang yang berani korupsi.


Untuk Paman David, ke tiga anak kembar juga memberikan perusahaan ke Paman David karena selama ini Paman David selalu ada ketika membutuhkan sosok seorang ayah dan menemani kemana ke tiga anak kembar pergi.


"Tuan Muda Kecil Daven sangat hebat bisa membaca wajah seseorang." puji Paman Hendrik sambil tersenyum.


"Terima kasih atas pujiannya Paman." Jawab Daven sambil ikut tersenyum.


'Tuan Muda Kecil Daven mirip Nyonya Muda Davina begitu pula dengan Tuan Muda Kecil David sedangkan Tuan Muda Kecil Dave mirip Tuan Muda Aberto.' Ucap Hendrik dalam hati.


"Apa yang dikatakan Paman dalam hati memang benar." ucap Daven.


"Memang apa yang Paman katakan?" Tanya Paman Hendrik, Dave dan David bersamaan dengan wajah penasaran.


"Tanya saja sama Paman Hendrik, apa yang Paman katakan barusan dalam hati." Jawab Daven sambil tersenyum.


"Apa Paman?" Tanya Dave dan David bersamaan sambil menatap ke arah Paman Hendrik untuk membaca raut wajahnya karena tadi mereka tidak memperhatikannya.


"Hehehehe ... Tidak begitu penting .... Oh iya bagaimana dengan wakil CEO?" tanya Paman Hendrik sambil memalingkan wajahnya ke arah samping dan mengalihkan pembicaraan tanpa berani bicara dalam hati.

__ADS_1


"Paman harus berhati - hati dengan wakil CEO dan sepertinya mereka bekerja sama untuk korupsi perusahaan ini. Kalau bisa Paman mengadakan meating dan kami ikut meating agar kami bisa mengamati mana yang tulus dan mana yang tidak bekerja di perusahaan ini." jawab Daven menjelaskan dengan wajah serius.


"Apakah Tuan Muda Kecil Dave, Tuan Muda Kecil Daven dan Tuan Muda Kecil David bisa membaca raut wajah seseorang?" tanya Paman Hendrik penasaran.


"Bisa Paman, kami bertiga bisa membacanya mana yang tulus dan yang mana tidak." Ucap Daven.


"Mintalah untuk semua departemen manager untuk memberikan laporan selama tiga bulan terakhir." sambung Dave.


"Kalau begitu Paman akan mengadakan meeting tapi kalau di tanya kenapa Tuan Muda Kecil ikut meeting jawabannya apa?" tanya Paman Hendrik dengan wajah polos.


"Biasanya Paman Hendrik mempunyai ide - ide yang cemerlang tapi kenapa ketika dekat dengan kami pikirannya langsung blank?" Tanya Dave dengan nada dingin.


Paman Hendrik hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tanpa merasa tersinggung sama sekali.


"Bilang saja Paman dipercayakan untuk menjaga kami karena itulah mengajak kami ikut meating." ucap David sambil menyenggol Kakak kembarnya untuk lebih sopan dalam hal bicara.


"Benar kata adikku, sediakan kami dua laptop untukku dan juga untuk kak Dave." Sambung Daven sambil ikut menyenggol Kakak kembarnya.


"Maafkan perkataan Dave, Paman." ucap Dave dengan nada masih dingin.


"Tidak apa - apa Tuan Muda Kecil. Oh ya dua laptop untuk apa Tuan Muda Kecil Daven?" tanya Paman Hendrik penasaran.


"Nanti Paman akan tahu." Jawab Dave dan Daven dengan serempak.


"Baiklah." ucap Paman Hendrik dengan pasrah.


"Oh iya kenapa Tuan Muda Kecil David tidak meminta laptop?" tanya Paman Hendrik penasaran.


"Adik kami David tidak begitu tertarik dengan bisnis kecuali bela diri." Jawab Dave dan David dengan serempak.


Paman Hendrik hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti kemudian Paman Hendrik menghubungi wakil CEO untuk mengadakan meating secara mendadak sebelum makan siang dan masing - masing di minta membawa laporan selama tiga bulan terakhir.


Tiba - tiba ponsel milik Paman Hendrik berdering dan Paman Hendrik mengambil ponselnya di saku jasnya.


"Siapa yang telephone Paman?" tanya Daven penasaran.


"Daddy kalian." Jawab Paman Hendrik.


"Bilang saja kami belum bisa pulang karena hari ini Paman ada meeting dan ada masalah di perusahaan." ucap Daven.


"Baik Tuan Muda Kecil Daven." Jawab Paman Hendrik dengan patuh.


Paman Hendrik menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.


("Selamat siang Tuan Muda." Sapa Paman Hendrik).


("Hendrik, kenapa ke tiga putraku belum pulang?" tanya Daddy Aberto dengan nada kesal karena dirinya sangat merindukan ke tiga anak kembarnya dan ingin sekali bermain serta bercanda).


("Maaf Tuan Muda, di perusahaan sedang ada masalah dan sebentar lagi ada meeting." Jawab Paman Hendrik).


("Batalkan saja meetingnya dan ganti hari besok!" perintah Daddy Aberto dengan nada tegas).

__ADS_1


Paman Hendrik terdiam beberapa saat karena dirinya mengalami dilema, antara mengikuti permintaan ke tiga anak kembar majikannya atau Daddy Aberto selaku orang tua ke tiga anak kembar.


__ADS_2