
"Kata Daddy besok kita liburan sekeluarga ke villa." Jawab Mommy Davina setelah berpikir beberapa saat.
"Iya Mom , kita besok pergi bersama." Jawab Daven tanpa curiga sedikitpun.
"Sekarang kita makan dulu jangan mengobrol." ucap Daddy Aberto mengalihkan pembicaraan.
"Baik." Jawab mereka serempak.
Mereka pun makan dalam diam tidak ada satupun yang berbicara. Dua puluh menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum lalu berkumpul di ruang keluarga.
"Besok kita berangkat jam enam pagi untuk menghindari macet." Ucap Daddy Aberto menjelaskan.
"Kenapa tidak berangkat sore saja jadi malam sudah sampai di villa jadi kita bisa menginap di sana." usul Tuan Abertos.
"Bagus juga usul Daddy, sore ini kita berangkat." ucap Daddy Aberto.
"Kalau begitu aku mau merapikan pakaian dulu." ucap Mommy Davina sambil berdiri.
"Mommy juga." ucap Nyonya Abertos sambil ikut berdiri.
"Ok. Jawab mereka dengan serempak.
Mommynya Aberto dan Nyonya Abertos berjalan ke kamarnya masing - masing untuk merapikan pakaiannya meninggalkan para pria.
"Apakah ada masalah di perusahaan?" tanya Tuan Abertos dengan wajah serius tidak seperti tadi tersenyum dan penuh kehangatan.
"Sedikit Daddy tapi sudah di atasi." Jawab Daddy Aberto.
"Perusahaan pusat apa cabang?" tanya Tuan Abertos karena dirinya tidak tahu apa yang dilakukan oleh ke tiga cucu kembarnya.
"Perusahaan yang diakuisisi oleh ke tiga cucu Daddy dan Mommy." Jawab Daddy Aberto menjelaskan.
__ADS_1
"Ke tiga cucu? Maksud mu apa Aberto? Daddy tidak mengerti." tanya Tuan Abertos.
Daddy Aberto pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup - tutupi membuat Tuan Abertos membuka mulutnya dengan lebar saking terkejutnya.
"Begitulah Daddy ceritanya. Daddy tolong tutup mulutnya takut nanti lalat masuk ke mulut Daddy." ucap Daddy Aberto usil.
"Kamu bercanda kan?" tanya Tuan Abertos tidak menjawab ucapan putra sulungnya.
"Daddy, aku serius kalau Daddy tidak percaya tanya saja sama asisten ku." Jawab Daddy Aberto.
"Benar begitu Hendrik." Tanya Tuan Abertos.
"Benar Tuan Besar, apa yang Tuan Muda katakan memang benar adanya." Jawab Paman Hendrik.
"Bukan itu saja Dad, Dave juga berhasil meretas dataku dan apakah Daddy masih ingat awal pertemuan dengan Davina dan ke tiga anakku?" tanya Daddy Aberto.
" Iya Daddy masih ingat, jangan bilang kalau itu juga karena Dave cucu opa." Tebak Tuan Abertos.
Daddy Aberto hanya menganggukkan kepalanya membuat Tuan Abertos hanya menggelengkan kepalanya memikirkan betapa geniusnya ke tiga cucu kembarnya.
Tidak berapa lama datang kepala pelayan memberikan hormat ke mereka.
"Selamat siang Tuan Besar, Tuan Muda Besar dan Tuan Hendrik." Sapa kepala pelayan dengan nada sopan.
"Ada apa?" tanya Tuan Abertos tanpa menjawab sapaan kepala pelayan.
"Ada tamu seorang gadis katanya sahabat nya Nyonya Muda Davina." Jawab kepala pelayan dengan nada sopan.
"Apakah Maria?" tanya Daddy Aberto yang mengingat istrinya menyebut nama sahabatnya.
"Benar Tuan Muda Besar." Jawab Kepala Pelayan dengan patuh.
__ADS_1
"Suruh masuk saja." ucap Daddy Aberto.
"Baik Tuan Muda Besar." Jawab kepala pelayan dengan nada yang masih sopan.
Kepala pelayan itupun pamit meninggalkan mereka.
"Hendrik, Kamu temani sahabat istriku karena Aku ingin menemui istriku." ucap Daddy Aberto sambil berjalan.
"Baik Tuan Muda." Jawab Paman Hendrik dengan nada pasrah.
Paman Hendrik malas bertemu atau menemani seorang gadis yang ujung - ujungnya menempel dirinya seperti lem. Wajah Paman Hendrik tampan namun lebih tampan Daddy Aberto.
"Daddy juga sama mau menemui istriku." ucap Tuan Abertos sambil berjalan meninggalkan Paman Hendrik sendirian di ruang keluarga.
"Sedih banget mereka pergi dengan pasangannya sedangkan Aku? Masa Aku hanya melihat kemesraan mereka mendingan aku tidur di rumah menikmati liburan." Guman paman Hendrik sambil menunggu Maria di ruang tamu.
Tidak berapa lama kemudian Paman Hendrik melihat sahabat Mommy Davina yang sangat cantik dan seksi sedang berjalan dengan santai menuju ke ruang tamu.
Kepala Pelayan mengikuti sahabat Mommy Davina dari arah belakang di mana Maria sambil memainkan ponselnya.
"Silahkan duduk Nona." Ucap Kepala Pelayan dengan nada sopan.
"Terima kasih Paman." Jawab Maria sambil tersenyum manis mengalahkan gula.
"Sama-sama Nona." Jawab Kepalanya Pelayan sambil ikut tersenyum.
'Nyonya Muda Davina sangat sopan dan temannya pun juga sopan.' Sambung Kepala Pelayan dalam hati sambil pergi meninggalkan Mereka berdua.
"Selamat siang Nona Maria." sapa paman Hendrik basa basi.
"Siang Tuan Hendrik." Jawab Maria sambil tersenyum dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Panggil saja Hendrik." ucap paman Hendrik
"Bagaimana kalau kak Hendrik? Karena kalau panggil nama tidak sopan." jawab Maria dengan suara merdu.