Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Tuan Albert dan Nyonya Albert


__ADS_3

Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di rumah sakit di mana Maria dan Ibunya sudah selesai makan dan minum. Ibunya Maria meminta Maria untuk di cek ke dokter namun Maria menolaknya karena dirinya tidak apa - apa.


"Mommy ingin Kamu di cek sama dokter, kalau tidak mulai besok kemanapun Kamu pergi akan di kawal sama anak buah Daddy." ucap ibunya dengan nada mengancam.


Maria menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya karena Maria tahu kalau perkataan Ibunya benar - benar dilakukan jika dirinya menolaknya untuk di periksa.


Maria akhirnya diperiksa ke dokter dan dokter mengatakan kalau Maria baik - baik saja namun Ibunya Maria memaksanya untuk di rawat sehari atau dua hari. Dokter itupun hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah karena orang tuanya Maria mempunyai lima belas persen saham rumah sakit.


Hal itulah membuat dokter tersebut patuh mengikuti permintaan Ibunya Maria dan kini Maria berada di ruang perawatan dengan wajah cemberut.


"Mommy Aku bosan, pulang aja ya Mom." pinta Maria setelah hampir lima belas menit berbaring di ranjang.


"Kamu memang tidak apa-apa?" tanya Mommynya.


"Tidak apa - apa, Mom hanya saja Aku bosan." Jawab Maria sambil menampilkan wajahnya yang pura - pura sedih.


"Ya sudah, kalau begitu Mommy akan mengurus administrasi terlebih dahulu." Ucap mommynya yang tidak tega melihat wajah sedih Maria.


"Baik, Mom." Jawab Maria sambil tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan pulang.


Ibunya Maria langsung pergi meninggalkan Maria sendirian di ruang perawatan. Karena bosan Maria membaca novel lewat ponselnya di aplikasi Noveltoon karya Yakasa namun baru setengah membacanya ponselnya tiba - tiba berdering nyaring.


Belahan Jiwaku


Maria tersenyum kekasihnya mengganti nama panggilan dari Kak Hendrik menjadi Belahan Jiwaku. Maria langsung menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ponselnya ke telinganya.


("Hallo belahan jiwaku." Ucap Maria dengan suara menggoda).


("Hallo juga jantung hatiku." Goda Hendrik membalas ucapan Maria).


("Ada di mana?" Tanya Hendrik).


("Masih di rumah sakit." Jawab Maria).


("Oh ya, sejak kapan kak Hendrik mengganti nama kak Hendrik menjadi belahan jiwaku di ponselku?" tanya Maria penasaran)


"Waktu kita makan bersama di kantin di mana kamu mencuci tangan di wastafel dan ponselmu kamu tinggal di meja makan. Aku penasaran dan ingin tahu namaku yang di tulis di ponselmu dan Aku cek ternyata kak Hendrik terus Aku ganti saja namanya menjadi belahan jiwaku. Kamu sukakan? Atau merasa keberatan?" tanya Hendrik menjelaskan dengan suara berbeda).


("Suka darling dan Aku tidak akan mungkin menghapusnya." Ucap Maria dengan wajah bersemu merah).


("Syukurlah aku ikut senang. Maaf nanti malam Aku tidak bisa datang karena hari ini Aku mau ke luar kota selama dua hari. Jadi selama Aku pergi kamu jangan nakal ya." pinta Hendrik).


("Ada acara apa?" tanya Maria dengan nada cemburu).


("Perusahaan cabang mengalami masalah jadi Aku harus ke sana." Ucap Hendrik mejelaskan).


("Apakah darling cemburu?" goda tanya Hendrik yang mendengar suara Maria agak berbeda).


("Tidak. Kenapa Aku cemburu?" Tanya Maria sambil tersenyum malu karena mengira Hendrik ingin menemui wanita lain).


("Syukurlah kalau tidak cemburu. Soalnya perusahaan cabang banyak gadis cantik dan seksi." Ucap Hendrik dengan suara menggoda).


("Syukurlah, semoga kak Hendrik bahagia dan bertemu dengan orang yang kak Hendrik cintai." Ucap Maria dengan nada ketus).

__ADS_1


("Hmmm... tapi kok suara kekasihku rada ketus ya?" Tanya Hendrik dengan suara menggoda).


Tiba - tiba sambungan komunikasi langsung terputus membuat Hendrik panik karena mengira Maria marah padanya sedangkan Maria sangat kesal karena tiba - tiba ponselnya lowbat.


"Aduh, kenapa Aku bisa lupa mengecas ponsel?" Tanya Maria dengan nada kesal.


Tiba - tiba pintu ruang perawatan terbuka membuat Maria menatap ke arah pintu perawatan dan melihat Ibunya sedang berjalan ke arah dirinya membuat Maria turun dari ranjang.


"Maria tadi Daddy telepon Mommy, katanya kita harus pergi ke negara A. Daddy sudah menunggu kita di bandara karena nenek sakit keras." Ucap mommynya.


"Baik Mom." Ucap Maria.


Ibunya Maria dan Maria langsung berjalan ke luar dari ruang perawatan dan berjalan menuju ke arah jalan raya karena mereka ingin pergi ke bandara dengan menaiki taksi.


xxxxxxx


Di tempat yang berbeda di mana Hendrik mencoba menghubungi kekasihnya tapi ponselnya tidak aktif membuat Hendrik sangat panik dan langsung berangkat menuju ke rumah sakit.


Singkat cerita kini Hendrik sudah sampai di rumah sakit tapi Maria sudah tidak ada di ruang perawatan. Hendrik menanyakan bagian administrasi dan ternyata Maria sudah keluar sejak tadi membuat Hendrik semakin frustasi.


'Aku hanya bercanda darling, kenapa kamu tidak mempercayaiku?' Tanya Hendrik dalam hati.


Tiba - tiba ponsel milik Hendrik berdering, Hendrik dengan cepat mengambil ponselnya dari saku jasnya dan tanpa melihat siapa yang menghubungi dirinya langsung di angkat.


("Hallo darling, kamu di mana?" tanya Hendrik dengan nada kuatir sekaligus panik).


("Siapa Darling, Paman? Tante Maria ya?" tanya Dave).


("Maaf Tuan Muda Kecil, Saya pikir Tante Maria yang menghubungi Paman. Ada apa Tuan Muda Kecil?" tanya Hendrik merasa tidak enak hati karena tidak melihat siapa yang menghubungi dirinya).


("Masalah di kantor cabang sudah selesai jadi Paman tidak perlu ke sana dan pelakunya sudah di hukum oleh Opa." Ucap Dave menjelaskan).


("Kalau boleh tahu siapa yang menyelesaikannya?" tanya Hendrik penasaran).


("Adikku Daven, sekarang paman pergi ke negara A." Ucap Dave).


("Kenapa Paman harus ke negara A?" tanya Hendrik dengan nada bingung).


("Paman ada meating di negara A dan Paman harus datang ke negara A. Mengenai dokumennya sedang dikerjakan oleh David nanti dikirim lewat email paman." Ucap Dave menjelaskan).


David selain bisa ilmu bela diri, David mengerti sedikit tentang IT dan juga bisnis begitu pula dengan ke dua kakak kembarnya. Hal itu dikarenakan mereka bisa saling bekerja sama jika ada masalah seperti ini contohnya.


("Baiklah, alamatnya Tuan Muda Kecil?" tanya Hendrik dengan pasrah).


Sebenarnya Hendrik ingin mencari keberadaan Maria di mansion milik orang tuanya namun dirinya terpaksa harus menundanya karena panggilan tugas.


("Jl. xxxxxxx. Ingat, Paman harus datang karena kata Daddy pertemuan ini sangat penting." Ucap Daven dengan nada tegas).


("Baik Tuan Muda Kecil Dave." Jawab Hendrik dengan patuh).


("Paman aku Daven." Ucap Daven).


("Maaf Tuan Muda Kecil, suara Tuan Muda Kecil sangat mirip dengan Tuan Muda Kecil Dave." Jawab Hendrik menjelaskan sambil memijat keningnya yang tidak pusing).

__ADS_1


Tanpa menjawab Daven langsung memutuskan ponselnya secara sepihak membuat Hendrik sangat kesal dengan dirinya sendiri.


"Arghhhhh .... Aku lagi pusing di mana Maria berada, ini malah di suruh meating di negara A." Ucap Hendrik dengan nada kesal.


Tiba - tiba ponselnya berdering sekali tanda ada pesan masuk membuat Hendrik membuka pesan wa dan ternyata dari Tuan Muda Kecil Dave.


"Jangan menggerutu terus nanti cepat tua, berangkat sekarang!"


"Kenapa Tuan Muda Kecil bisa tahu?" Tanya Hendrik dengan wajah bingung.


Ponselnya berdering sekali membuat Hendrik penasaran dan langsung membaca isi pesan tersebut dan kali ini dari Tuan Muda Kecil Dave.


"Aku tahu apa yang Paman lakukan, berangkat sekarang atau gaji di potong lima puluh persen. Menggerutu lagi potong tujuh puluh lima persen."


Hendrik langsung terdiam tapi kepalanya di angkat ke atas dan melihat sekelilingnya dan pas di samping paling atas ada cctv yang menempel di dinding membuatnya menghela nafasnya dengan berat. Hendrik langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit menuju ke bandara sambil menggerutu dalam hati.


Singkat cerita kini Hendrik sudah berada di negara A dan sudah berdiri di pintu utama tempat alamat yang ditunjuk oleh Dave. Seorang bodyguard membuka pintu utama dan di depan sudah ada kepala pelayan yang berdiri menunggu Hendrik.


"Silahkan Tuan." Ucap kepala pelayan dengan ramah.


Kepala pelayan berjalan dan di ikuti oleh Hendrik menuju ke ruang keluarga.


"Tuan Albert." Panggil Hendrik dengan wajah terkejut.


"Tuan Hendrik, kenapa ke sini?" tanya Tuan Albert dengan wajah tak kalah terkejutnya.


"Maaf Tuan, bukankah bos saya Tuan Muda Aberto meminta saya untuk datang ke sini?" tanya Hendrik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Tuan Muda Aberto?" Tanya ulang Tuan Albert dengan wajah masih bingung.


"Iya katanya saya di suruh ke sini karena membicarakan tentang bisnis." Jawab Hendrik.


"Bukankah kemarin sudah kita bicarakan?" tanya Tuan Albert dengan wajah masih bingung begitu pula dengan Hendrik.


"Kalau begitu saya meminta maaf Tuan, mungkin ada kesalahan. Kalau begitu Saya permisi dulu Tuan." Pamit Hendrik.


Hendrik hanya bisa menahan amarahnya terhadap Tuan Muda Aberto dalam hati karena perjalanannya sia - sia saja terlebih dirinya ingin mencari kekasihnya yang bernama Maria.


"Jangan Tuan, lebih baik kita makan bersama terlebih Tuan sudah jauh - jauh datang ke sini." ucap Tuan Albert.


"Maaf Tuan, Saya tidak ingin merepotkan Tuan." Ucap Hendrik menolak permintaan Tuan Albert secara halus.


"Tidak merepotkan kok. Ayo kita makan bersama sekalian Aku perkenalkan istri dan putriku." Ucap Tuan Albert.


Hendrik hanya bisa pasrah dan mengikuti Tuan Albert menuju ke meja makan. Mereka melihat istri Tuan Albert sudah selesai meletakan makanan dan minuman di atas meja makan.


"Sayang, putri kita belum pulang dari rumah teman kuliahnya?" tanya Tuan Albert sambil duduk di kursi makan begitu pula dengan Hendrik.


"Sebentar lagi sayang." Jawab Nyonya Albert.


"Mommy, Daddy." Panggil seorang gadis cantik dan seksi.


Jantung Hendrik berdetak kencang ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya dan membuat hatinya tidak tenang. Hendrik langsung berdiri dan membalikkan badannya dan matanya membulat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2