Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Dua Pasang Mata


__ADS_3

"Jelaskan!" perintah Tuan Abertos dengan nada dingin.


"Maaf Tuan Abertos, kami kekurangan stok darah golden blood atau darah emas." ucap dokter tersebut menjelaskan.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Bukan darahnya yang berwarna emas, dalam istilah medis golongan darah ini disebut Rh-null karena tak adanya rhesus antigen pada sel darah merah.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


"Bukankah stock darah golden blood selalu tersedia?" tanya Tuan Abertos dengan wajah kuatir.


Pasalnya yang mempunyai darah golden blood adalah istrinya sedangkan istrinya jika darahnya di ambil langsung tidak sadarkan diri karena sangat takut dengan jarum suntik.


"Ya benar tadi kami sudah memakainya waktu mengambil peluru Tuan Muda Aberto tapi ternyata masih kurang karena Tuan Muda Aberto banyak kekurangan darah karena di bawa ke rumah sakit lumayan lama." Jawab dokter tersebut menjelaskan apa yang terjadi.


"Kalau begitu pakai darah Saya saja, Dok." ucap Mommy Davina.


"Silahkan ikuti suster Julia." Ucap dokter tersebut.


"Ok." Jawab Mommy Davina dengan singkat.


"Terima kasih atas bantuannya kamu memang menantu kami yang baik." Ucap Tuan Abertos sambil menggenggam tangan Mommy Davina.


"Sudah seharusnya seorang istri membantu suaminya, Dad." ucap Mommy Davina sambil tersenyum dan membalas genggaman tangan Tuan Abertos.


Mommy Davina berjalan mengikuti perawat tersebut untuk di ambil darahnya. Belum ada setengah jam Mommy Davina sudah kembali ke ruang UGD dan duduk di samping Tuan Abertos mertuanya.


Tidak berapa lama datang David, Edward, Hendrik dan Maria menuju ke ruang UGD.


"Selamat malam Tuan Besar dan Nyonya Muda." Sapa Hendrik dan Maria bersamaan.


"Kak Hendrik dan Maria panggil aku Davina jangan ditambahkan Nyonya Muda." Ucap Mommy Davina.


"Maaf kami tidak pantas jika memanggilnya dengan sebutan nama saja." Ucap Hendrik menjelaskan.


"Kenapa tidak pantas? Kalian merupakan bagian dari keluarga kami terlebih ponakan kami sudah menganggap kalian sebagai Paman dan Tantenya." Ucap David.


"Apa yang dikatakan adikku benar, kalian sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga besar kami." Sambung Edward.


"Baik." jawab Hendrik dan Maria dengan serempak.


"Oh ya maaf telah mengganggu malam pertama kalian." Ucap Mommy Davina merasa tidak enak hati.


"Tidak apa - apa, kami mengerti kenapa kami dihubungi. Bagaimana keadaan Tuan Muda Aberto ?" tanya Hendrik dengan nada kuatir.


Ketika Mommy Davina ingin menjawab pintu ruang operasi terbuka dan tampak seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya.


"Bagaimana keadaan putraku dok?" tanya Tuan Besar Abertos.


"Bagaimana keadaan suamiku dok?" tanya Mommy Davina bersamaan

__ADS_1


"Keadaannya sudah lumayan baik dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan." Jawab dokter tersebut.


"Terima kasih dokter." Jawab mereka dengan serempak sambil tersenyum bahagia.


"Sama - sama, maaf Saya pergi dulu mau mengecek kondisi pasien lainnya." Ucap dokter tersebut.


Mereka hanya menganggukkan kepalanya kemudian dokter tersebut meninggalkan mereka. Tidak berapa lama pintu operasi terbuka dua orang perawat mendorong brankar di mana Daddy Aberto masih memejamkan matanya karena masih ada efek obat biusnya.


Kini mereka berada di ruang perawatan VVIP mereka semua berdiri kecuali Nyonya Abertos yang duduk di samping ranjang putranya. Mommy Davina menggenggam tangan suaminya dengan air mata tidak berhenti keluar.


Perlahan Daddy Aberto membuka matanya dan melihat sekelilingnya untuk mencari istri yang sangat dicintainya yang ternyata sedang menggenggam tangannya sambil menangis.


"Sayang, kenapa menangis?" tanya Daddy Aberto dengan nada lemah.


Mommy Davina tanpa menjawab langsung memeluk suaminya dari arah samping kemudian terisak.


"Hiks... hiks .. hiks... Aku sangat takut kehilanganmu hiks... hiks..." Jawab Mommy Davina.


"Aku tidak mungkin meninggalkan istriku yang sangat cantik ini. Sekarang jangan menangis lagi ya." Pinta Daddy Aberto sambil membalas pelukan istrinya.


Mommy Davina melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan suaminya.


"Apakah ada yang sakit?" tanya Mommy Davina dengan wajah kuatir.


"Tidak ada yang sakit sayang." Jawab Daddy Aberto sambil tersenyum dan menghapus air mata istrinya dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


"Syukurlah mommy jadi tenang." Ucap Mommy Davina sambil membalas senyuman suaminya.


"Hmmm mentang - mentang sudah ada istrinya terus Mommy dan Daddy dilupakan." Goda Tuan Abertos.


Daddy Aberto tidak menjawab ucapan Tuan Abertos, hanya tersenyum malu sambil menggenggam tangan istrinya.


"Sudahlah dad, jangan goda putra kita, dulu Daddy waktu masih muda begitu juga tidak memperdulikan orang tua Daddy dan hanya Mommy yang Daddy perdulikan sampai Mommy tidak enak dengan orang tua Daddy." ucap istrinya sambil tersenyum dan mengingat masa lalu ketika dirinya remaja.


"Sudahlah Mom jangan membuka kartunya Daddy." ucap suaminya.


"Berarti buah jatuh tak jauh dari pohonnya yang artinya sifat anak tidak jauh dari orangtuanya. Makanya Daddy jangan protes kalau sifat anaknya mirip dengan Daddy." Ucap Daddy Aberto sambil tersenyum.


Orang tuanya hanya membalas senyuman putranya dan hatinya sangat bahagia semenjak kehadiran menantunya, putranya lebih sering tersenyum begitu pula dengan Hendrik asisten yang paling setia karena Hendrik tahu bagaimana sifat tuannya.


"Hendrik dan Maria kok ada di sini?" tanya Daddy Aberto baru tersadar.


"Mereka membantu kita dad." Ucap Mommy Davina menjelaskan


"Apa? Maaf karena telah mengganggu malam pertama kalian." ucap Daddy Aberto merasa tidak enak hati dengan asisten setianya.


"Tidak apa - apa Tuan, karena itu tugasku untuk melindungi tuan sekeluarga." Ucap Hendrik.


"Terima kasih ya Hen, gajimu bulan ini naik dan dapat bonus." Ucap Daddy Aberto.


"Maaf Tuan tidak perlu repot-repot karena Saya menolongnya dengan ikhlas terlebih Tuan besar dan Nyonya Besar sangat baik padaku jadi sudah sepantasnya Aku membalas kebaikannya." Ucap Hendrik.

__ADS_1


"Tidak Hen, kamu pantas mendapatkannya anggap saja ini hadiah pernikahan untuk kalian." Ucap Daddy Aberto.


"Tuan sudah memberikan hadiah yang sangat banyak apalagi semua acara pernikahan kami Tuan Muda menanggung semuanya." Ucap Hendrik merasa tidak enak hati.


"Aku tidak suka menerima penolakan, sekarang kalian pulanglah dan lanjutkan malam pertama kalian." Ucap Daddy Aberto.


"Sekali lagi terima kasih Tuan Muda. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Hendrik yang tidak sabar ingin belah duren.


Hendrik dan Maria berpamitan dengan ke dua orang tua Daddy Aberto kemudian dilanjutkan dengan Daddy Aberto dan Mommy Davina lalu meninggalkan mereka di ruang perawatan VVIP.


"Daddy dan Mommy istirahat saja biar Aku yang menjaga suamiku." Ucap Mommy Davina.


"Tapi kalau lelah bangunkan Daddy agar Daddy yang menjaga putra Daddy." ucap Tuan Abertos.


"Baik dad." Jawab Mommy Davina dengan patuh.


Ke dua orang tua Daddy Aberto langsung istirahat di ranjang khusus menunggu pasien karena ruang perawatan VVIP tersebut sangat besar dan ada tiga ranjang, ranjang pasien dan dua ranjang untuk yang menunggu pasien.


"Mommy, Daddy sangat haus." Ucap Daddy Aberto dengan nada manja.


"Ok." Jawab Mommy Davina singkat sambil mengambil gelas yang sudah ada sedotan dan dimasukkan ke mulut suaminya.


Suaminya meminum hingga tersisa setengah gelas kemudian Mommy Davina meletakkan kembali gelasnya di meja.


"Mommy temani Daddy tidur ya?" pinta Daddy Aberto sambil menggeserkan tubuhnya.


"Tapi Daddy kan lagi sakit." Tolak Mommy Davina.


"Daddy tidak bisa tidur kalau tidak di peluk Mommy." ucap Daddy Aberto dengan nada manja.


"Kenapa Daddy jadi manja?" tanya Mommy Davina sambil menatap wajah tampan suaminya sambil membelai wajahnya.


"Apakah tidak boleh manja dengan istri sendiri?" tanya Daddy Aberto dengan wajah cemberut.


"Boleh sayang, senang banget kalau manja denganku." Ucap Mommy Davina.


Selesai berbicara Mommy Davina mengecup bibir suaminya kemudian berbaring di samping suaminya. Mommy Davina menghadap suaminya sambil memeluknya begitu pula dengan suaminya.


"Kalau kita di kamar, Daddy ingin menerkam Mommy." Ucap Daddy Aberto.


"Aish...Daddy sakit - sakit kok pikirannya masih mesum." Ucap Mommy Davina sambil mengeleng - gelengkan kepalanya.


"Apa hubungannya sayang? Tidak sakit atau sedang sakit yang namanya mesum tidak pernah mungkin hilang. Apa lagi mesum sama istri sendiri tidak masalah kan sayang?" tanya Daddy Aberto.


"Iya tidak salah sayang, ayo kita tidur." Ucap Mommy Davina sambil memejamkan matanya.


Mommy Davina terpaksa mengalah karena dirinya tidak pernah menang jika berdebat dengan suaminya terlebih dirinya sangat mengantuk.


"Selamat malam sayang." Ucap Daddy Aberto kemudian mengecup bibir istrinya dengan singkat.


"Selamat malam sayang." Ucap istrinya sambil tersenyum tanpa membuka matanya.

__ADS_1


Tidak berapa lama mereka tidur sambil berpelukan dan tanpa mereka sadari kalau ada dua pasang mata yang menatap Mommy Davina dan Daddy Aberto.


__ADS_2