
Malam menjelang pagi Maria mengendarai mobil menuju ke mansion Daddy Aberto untuk menemui sahabatnya yang bernama Mommy Davina. Namun di tengah jalan sebuah mobil mengalami kecelakaan di mana semua pengendara mobil hanya melihat saja tanpa ada yang mau menolongnya.
Seorang wanita paruh baya melambaikan tangannya dengan kepalanya mengeluarkan darah segar untuk meminta bantuan. Maria yang tidak tega menepikan mobilnya kemudian turun dari mobil.
"Nona, tolong suamiku." Mohon wanita paruh baya tersebut.
"Baik Aku akan membantu suami Nyonya." Ucap Maria sambil tersenyum.
Maria membuka pintu mobil kemudian mengeluarkan pria paruh baya dengan di bantu istri dari pria paruh baya tersebut. Maria membawa pria paruh baya tersebut yang tidak sadarkan diri dengan menggunakan mobilnya kemudian membawanya menuju ke rumah sakit.
Dua puluh menit kemudian Maria sudah sampai di rumah sakit dan membawa pria paruh baya tersebut ke UGD. Namun ketika seorang perawat menanyakan biaya administrasi rumah sakit wanita paruh baya tersebut kebingungan pasalnya dirinya tidak mempunyai uang sepeserpun.
"Aku akan meminjam uang ke adik iparku tapi yang penting selamatkan suamiku." Mohon wanita paruh baya tersebut.
"Maaf Nyonya, sesuai peraturan rumah sakit bagi siapa saja yang sakit harus membayar uang DP kalau tidak kami tidak bisa mengobati suami Nyonya." Ucap perawat tersebut.
"Selamatkan suami Nyonya ini, masalah biaya biar Aku yang menanggung semuanya." Ucap Maria yang tidak bisa melihat orang menderita.
"Kalau begitu silahkan Nona membayar administrasinya." Ucap perawat tersebut.
Maria hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah bagian administrasi. Wanita paruh baya tersebut mengucapkan terima kasih atas bantuan Maria. Maria hanya tersenyum mendengar ucapan wanita paruh baya, setelah selesai mereka kembali menunggu di ruangan UGD.
"Lebih baik Nyonya juga di rawat." ucap Maria.
"Tapi ..." Ucapan wanita paruh terbaya terpotong oleh Maria.
"Saya akan membayar semua biaya perawatan." Ucap Maria.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab wanita paruh baya tersebut.
Wanita paruh baya tersebut masuk ke dalam ruangan ugd untuk di rawat hingga lima belas menit kemudian wanita paruh baya tersebut keluar dari ruangan ugd dengan kondisi keningnya di perban.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Maria penasaran ketika wanita paruh baya tersebut duduk di sampingnya.
"Kami meminjam mobil milik adik ipar kami untuk pergi ke makam putri kami tapi di tengah jalan mobilnya tiba - tiba mogok bersamaan mobil kami di tabrak dari arah belakang dan akhirnya seperti yang kamu lihat." Jawab wanita paruh baya tersebut dengan wajah berkaca - kaca.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya putri Nyonya." Ucap Maria.
"Terima kasih." Ucap wanita paruh baya.
"Oh ya kenalkan namaku Maria kalau Nyonya?" Tanya Maria memperkenalkan diri.
"Namaku Kelly. Panggil Aku Mommy, kamu maukan menjadi putriku?" Tanya wanita paruh baya tersebut yang saat ini sangat merindukan putrinya yang sudah meninggal dunia sambil membalas uluran tangan Maria.
Maria hanya menganggukkan kepalanya karena tidak tega melihatnya membuat wanita paruh baya tersebut memeluk Maria dan Maria membalas pelukan wanita paruh baya tersebut. Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya kemudian mereka saling mengobrol.
"Oh ya, kenapa kamu menolong kami waktu kami kecelakaan? Padahal semua orang yang melihat kami kecelakaan hanya melihatnya tanpa mau menolong kami? Apa kamu tidak takut jika seandainya kami orang jahat dan tidak mau membayar uang untuk membayar biaya rumah sakit?" Tanya Nyonya Kelly dengan beruntun.
"Sesama manusia harus saling tolong menolong dan mengenai masalah Mommy tidak mau membayar uang untuk membayar biaya rumah sakit, Aku tidak masalah jika tidak di ganti." Jawab Maria.
"Uang itu sangat banyak, apakah tidak sayang?" Tanya Nyonya Kelly dengan wajah terkejut.
"Kebetulan Aku ada rejeki." Jawab Maria.
"Orang tuaku selalu mengajarkan untuk berbuat baik tanpa membeda - bedakan dan menolong orang tanpa pamrih. Selain itu Mommy juga mengajarkan agar jangan memikirkan harta duniawi karena harta tidak bisa di bawa mati." Sambung Maria.
__ADS_1
Nyonya Kelly diam membatu ketika dirinya mendengar ucapan Maria. Dirinya mulai menyadari kesalahan yang selama ini dilakukan begitu pula dengan suami dan putrinya yang sudah meninggal dunia.
"Oh ya satu lagi pesan dari Mommyku, jangan menyimpan dendam karena dendam bisa merusak hati kita." Ucap Maria.
Nyonya Kelly terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan tiba - tiba ponsel milik Maria berdering membuat Maria mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam tas. Maria melihat di layar ponselnya panggilan dari kekasihnya membuat Maria menggeser tombol berwarna hijau.
("Hallo Darling." Panggil Hendrik).
("Hallo." Jawab Maria).
("Ada di mana?" tanya Hendrik).
("Di rumah sakit." Jawab Maria).
("Siapa yang sakit? Kamu baik - baik sajakan?" Tanya Hendrik dengan nada panik).
("Aku baik - baik saja. Tadi dalam perjalanan ke rumah Davina, Aku melihat ada kecelakaan mobil dan Aku membawanya ke rumah sakit." Jawab Maria).
("Aku ke sana ya." Ucap Hendrik yang sangat merindukan kekasihnya).
("Darling tidak kerja?" Tanya Maria).
("Kerja, kebetulan tidak terlalu banyak makanya ingin bertemu dengan kekasihku." Jawab Hendrik sambil menatap pekerjaannya yang masih segunung).
("Oke. Aku tunggu." Jawab Maria yang juga sangat merindukan kekasihnya).
Tut Tut Tut
__ADS_1
Sambungan komunikasi terputus kemudian Maria kembali mengobrol dengan Nyonya Kelly. Hingga lima belas menit kemudian Hendrik datang menemui Maria namun tiba - tiba Hendrik dan Nyonya Kelly saling menatap dengan wajah sangat terkejut.
"Nyonnya Kelly / Hendrik?" panggil mereka bersamaan dengan wajah masih sangat terkejut.