
Acara pertunangan kemarin sudah selesai dan berlangsung dengan sangat mewah mengingat Maria putri satu - satunya. Kini di pagi hari seperti biasa Hendrik sudah berada di kantor sejak pagi tadi dan menunggu Daddy Aberto untuk datang karena hari ini ada meating dengan perusahaan Angkasa Biru.
Biasanya Hendrik selalu menjemput Daddy Aberto tapi karena bosnya memintanya untuk tidak menjemput maka Hendrik berangkat sendiri. Hendrik menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah menerima telepon dari atasannya.
Daddy Aberto berkata ingin menenami istrinya di mana perban di tubuh istrinya akan di lepas padahal banyak pekerjaan yang menggunung belum lagi asisten yang membantunya mendadak berhenti dengan alasan ibunya sakit parah dan ingin merawatnya. Daddy Aberto tidak memperdulikan hal itu membuat Hendrik sangat stres dan pusing tujuh keliling.
"Hahh... Sungguh sangat menyebalkan setengah jam lagi mau meating sedangkan dokumen menumpuk segunung belum Aku kerjakan sama sekali." Keluh Hendrik.
"Kenapa sih asistenku pakai berhenti segala?" Tanya Hendrik dengan nada mengomel sambil menatap tumpukan dokumen tanpa ada minat untuk mengerjakannya.
Tiba - tiba ponselnya berdering dan tanpa melihat siapa yang menghubungi dirinya Hendrik langsung menggeser tombol berwarna hijau.
("Hallo." Panggil Hendrik tidak semangat).
("Hallo darling? Ada apa kok pagi - pagi tidak semangat?" tanya Maria dengan nada bingung).
("Ini darling bosku tega banget pakai acara libur segala." Adu Hendrik dengan nada manja).
("Mau Aku temani tidak?" tanya Maria sambil tersenyum mendengar suara manja calon suaminya).
("Boleh darling, Aku tunggu ya." Ucap Hendrik sambil tersenyum bahagia karena setidaknya ada yang bikin semangat untuk bekerja).
("Ok." Jawab Maria dengan singkat).
Sambungan komunikasi pun langsung terputus tanda mengakhiri obrolan mereka berdua. Hendrik menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya kemudian mengambil satu dokumen untuk dikerjakan.
Hingga tiga puluh lima menit kemudian terdengar suara ketukan pintu dan Hendrik bisa menebak kalau yang datang pasti calon istrinya yang bernama Maria.
"Masuk." Jawab Hendrik.
Maria membuka pintu ruang wakil CEO dan melihat tunangannya dalam suasana hati yang tidak enak untuk di pandang mata.
"Darling kenapa?" tanya Maria sambil berjalan mendekati tunangannya.
"Lihatlah darling dokumen yang menumpuk di meja." Ucap Hendrik sambil berdiri kemudian berjalan mendekati tunangannya lalu memeluknya.
"Mau Aku bantu darling?" tanya Maria sambil membalas pelukan Hendrik.
__ADS_1
"Mau banget darling." ucap Hendrik.
"Tapi sekarang ini Aku lagi malas darling." Ucap Maria berbohong.
"Lho katanya mau membantu?" Tanya Hendrik dengan wajah cemberut sambil mendorong tubuh Maria.
"Iya bantu dalam doa dan bantu melihat darling mengerjakan pekerjaan kantor." Jawab Maria sambil tersenyum menggoda tunangannya.
"Kamu senang banget menggoda tunanganmu." ucap Hendrik sambil mencubit hidung mancung tunangannya dengan gemas.
"Hehehehe ..." Tawa Maria.
"Darling, Aku mau meating dulu. Darling di sini ya tungguin Aku selesai meating." Ucap Hendrik.
"Ok." Jawab Maria dengan singkat.
Hendrik mengecup bibir tunangannya dengan singkat kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang meating. Maria duduk di kursi kebesaran milik tunangannya kemudian mengerjakan dokumen satu demi satu hingga tidak terasa dua jam lebih lamanya akhirnya Maria selesai mengerjakan semua pekerjaan kantor milik tunangannya.
Maria turun dari kursi kebesaran milik tunangannya kemudian berjalan ke arah jendela yang menghadap jalan raya sambil meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.
Maria mendengar suara pintu terbuka dan dirinya tahu siapa yang datang hingga seseorang berjalan ke arah dirinya dengan perlahan.
"Tidak apa - apa darling." Jawab Maria sambil memegang ke dua tangan tunangannya yang memeluk tubuhnya.
"Aku ingat dulu sebelum kita tunangan." Ucap Hendrik kemudian menyium leher tunangannya.
"Sama Aku juga mengingatnya." ucap Maria sambil tersenyum dan menahan geli ketika lehernya di cium.
"Lucu sekali ya?" Tanya Hendrik.
"Ya benar sangat lucu." Jawab Maria.
"Daddy menjodohkanku dengan putrinya dan kamu juga dijodohkan dengan rekan bisninya tapi ternyata kalau yang dijodohkan Daddy adalah kita." Ucap Hendrik sambil tersenyum bahagia.
"Aku sangat berhutang budi dengan Tuan Muda Aberto dan ke tiga anak kembarnya." Ucap Hendrik.
"Benar darling." Ucap Maria yang sangat bersyukur suami dan ke tiga anak sahabatnya memberikan kejutan untuk dirinya dan tunangannya.
__ADS_1
"Aku sangat berharap Nyonya Muda Aberto bisa pulih sediakala agar kita segera menikah." Ucap Hendrik penuh harap.
"Amin." Jawab Maria.
Tidak berapa lama ponsel milik Hendrik berbunyi membuat Hendrik dan Maria melepaskan pelukannya. Kemudian Hendrik mengambil ponselnya di saku jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
Tuan Muda Aberto Is Calling
"Tuan muda Aberto telephon." Ucap Hendrik sambil memperlihatkan ponselnya ke arah Maria.
"Angkatlah siapa tahu penting." Ucap Maria.
"Ok. " Jawab Hendrik dengan singkat.
Hendrik menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.
("Selamat siang Tuan Muda." Sapa Hendrik).
("Wajah istriku baik - baik saja dan istriku mengatakan agar secepatnya kalian menikah." ucap Daddy Aberto tanpa basa basi).
("Benarkah tuan?" tanya Hendrik tidak percaya mendapatkan kabar yang sangat membahagiakan).
("Benar, pakailah gedung milik orang tuaku untuk acara pernikahan kalian." Ucap Daddy Aberto).
("Apakah tidak terlalu mewah Tuan Muda?" tanya Hendrik merasa tidak enak hati).
("Kamu sudah Aku anggap saudara sedangkan calon istrimu adalah sahabat istriku dan Aku sangat berhutang budi padanya karena di saat istriku butuh sandaran calon istrimu selalu ada menemaninya. Jadi kamu dan Maria pantas mendapatkan kemewahan termasuk catering, dan sepasang pakaian pengantin dan juga undangan pernikahan." Jawab Daddy Aberto).
("Terima kasih banyak Tuan Muda." Jawab Hendrik).
Hendrik sangat terharu karena Daddy Aberto sangat baik padanya dan memperlakukan dirinya seperti seorang saudara bukan sebagai atasan dengan bawahan.
("Kini kamu berundinglah dengan Maria untuk menentukan tanggal pernikahan kalian. Setelah kalian sudah menentukan tanggal pernikahan temuilah Tuan Axelo Guetta untuk mencetak undangan pernikahan dan juga temui Nona Kimberly untuk membicarakan catering. Semua menjadi tanggungan keluarga kami jadi kamu tenang saja." Ucap Daddy Aberto menjelaskan).
("Sekali lagi terima kasih banyak Tuan. Semoga Tuan dan Nyonya bahagia selalu." ucap Hendrik dengan nada tulus).
("Tapi ..." Ucap Daddy Aberto menggantungkan kalimatnya).
__ADS_1
(Tapi apa Tuan Muda?" Tanya Hendrik sambil menatap ke arah Maria).