Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Tamat


__ADS_3

"Hiks... Suamiku galak hiks...hiks... Aku kan hiks... hiks... ingin tahu hiks... hiks.. Apakah suamiku sudah benaran sembuh atau hiks..hiks.. belum hiks .. hiks.." Ucap Mommy Davina sambil terisak.


Daddy Aberto yang melihat istrinya menangis langsung memeluk tubuh istrinya dengan perasaan bersalah.


"Maafkan Daddy, Daddy tidak sengaja membentak Mommy." ucap Daddy Aberto sambil memeluk kembali istrinya.


"Huwaaa... huwaaa...." tangis Mommy Davina pecah.


Daddy Aberto melepaskan pelukannya kemudian menatap ke arah Maria begitu pula dengan Maria menatap Daddy Aberto kemudian sahabatnya yang bernama Mommy Davina.


Tidak berapa lama pintu ruang perawatan terbuka di mana Hendrik masuk ke dalam ruang perawatan dan melihat Mommy Davina sedang menangis seperti anak kecil sambil memeluk suaminya kemudian berjalan mendekati istrinya.


'Ada apa?' Tanya Hendrik dengan suara pelan di telinga istrinya.


'Tadi Aku di suruh sahabatku untuk memegang tangan Tuan Muda Aberto terus suaminya marah sambil menatap tajam ke Davina. Sudah gitu nangis deh.' Bisik Maria menceritakan apa yang telah terjadi.


"Lho memangnya Kenapa?" tanya Hendrik yang tidak mengerti.


"Tadi pas megang perawat tangannya Tuan Muda Aberto tidak alergi lagi karena itu memintaku untuk mencoba memegang tangan Tuan Muda Aberto." Jawab Maria.


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya." Ucap Hendrik.


"Ayolah sayang maafkan Daddy." mohon Daddy Aberto yang tidak bisa melihat istrinya menangis.


"Baiklah tapi dengan satu syarat." pinta Mommy Davina.


"Baiklah. Apa syaratnya?" Tanya Daddy Aberto dengan nada pasrah.


"Sentuh tangan Maria karena Mommy hanya ingn tahu apakah Daddy sudah sembuh atau belum." Jawab Mommy Davina.


Daddy Aberto menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah cantik istrinya di mana bibirnya mengerucut.


"Baiklah." Jawab Daddy Aberto dengan singkat.


"Hendrik, Aku boleh menyentuh tangan istrimu?" Tanya Daddy Aberto.


"Boleh Tuan Muda." Jawab Hendrik.


Sebenarnya Hendrik tidak rela kalau tangan istrinya di sentuh oleh pria lain tapi untuk hal ini pengecualian karena Daddy Aberto hanya menyentuh tangan tidak ada maksud lain.


Maria mendekati bos majikannya kemudian Daddy Aberto menyentuh tangan Maria tanpa menggenggam tangannya karena bagaimanapun dirinya tipe setia. Mereka semua terkejut melihat tangan Aberto tidak memerah dan gatal - gatal.


"Sayang, tanganku tidak gatal -gatal lagi dan memerah." Ucap suaminya sambil tersenyum bahagia kemudian memeluk istrinya.


Daddy Aberto kini sudah sembuh dari penyakitnya membuat dirinya sangat bahagia karena tidak perlu dirinya memakai sarung tangan lagi bila dirinya bersentuhan dengan lawan jenis.


"Syukurlah Dad, Mommy sangat bahagia." Ucap istrinya sambil membalas pelukan suaminya.


Hendrik dan Maria saling berpelukan mereka juga bahagia karena Daddy Aberto sudah sembuh dari penyakitnya.


Tidak berapa lama pintu ruang perawatan terbuka dengan lebar di mana Tuan Abertos membuka pintu ruang perawatan VVIP. Ke tiga anak kembar masuk ke dalam ruang perawatan dan di susul Nyonya Abertos dan Tuan Abertos.


Mereka melihat dua pasang suami istri saling berpelukan membuat Nyonya Abertos dan Tuan Abertos menatapnya dengan tatapan bingung.


"Kenapa kalian berpelukan?" tanya Tuan Abertos penasaran begitu pula dengan Nyonya Abertos.


"Daddy dan Mommy. Aberto sudah sembuh dan sekarang jika Aberto bersentuhan dengan wanita lain sudah tidak alergi lagi." Jawab Daddy Aberto sambil tersenyum bahagia.


"Mommy dan Daddy sudah tahu." Ucap Tuan Abertos dan Nyonya Abertos dengan serempak yang belum sadar dengan ucapan putra sulungnya.


hening


hening

__ADS_1


"What's??" Teriak ke dua orang tuanya dengan serempak.


"Aish Daddy dan Mommy kebiasaan deh teriak." ucap Daddy Aberto sambil menutup ke dua telinganya.


"Kamu serius sudah sembuh?" tanya Tuan Abertos yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Benar Daddy, sekarang Aberto sudah tidak alergi lagi." Jawab Daddy Aberto.


"Syukurlah Daddy dan Mommy ikut senang." Ucap Nyonya Abertos sambil berjalan mendekat putra sulungnya diikuti oleh suaminya.


Mommy Davina yang tahu ibu mertuanya akan memeluk suaminya langsung melepaskan pelukannya kemudian memundurkan kursi rodanya.


Tuan Abertos dan istrinya langsung memeluk putra sulungnya karena hatinya sangat bahagia. Kini putranya sudah bisa hidup dengan normal terlebih tidak seperti dulu selalu memakai sarung tangan karena tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis. Setelah agak lama mereka melepaskan pelukannya dan mendekati menantu kesayangan nya.


"Terima kasih berkat kehadiranmu, hidup putraku lebih berwarna." Ucap ibu mertuanya sambil memeluk menantu kesayangannya diikuti oleh suaminya.


"Maksud mommy?" tanya Mommy Davina sambil membalas pelukan ke dua mertuanya.


"Dulu kami tidak pernah melihat putra kami tersenyum tapi semenjak ada kamu dan ke tiga cucu kami semuanya langsung berubah." Jawab ibu mertuanya.


"Aku juga sangat beruntung mempunyai Mommy dan Daddy juga suamiku yang sangat sayang padaku." Ucap Mommy Davina sambil tersenyum.


Tidak berapa lama merekapun melepaskan pelukannya dan mereka kembali mengobrol bersama.


Tiga Hari Kemudian


Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya dan kini Daddy Aberto sudah sembuh dan bersiap - siap untuk pulang ke mansion.


"Kalian tinggal di mansion kami kan?" tanya Nyonya Abertos penuh harap.


"Maaf Mommy, kami ingin tinggal di mansion milik istriku." Ucap Daddy Aberto yang ingin membina rumah tangga bersama keluarga barunya karena selama ini mereka tinggal di mansion milik orang tuanya Daddy Aberto.


"Milikku?" tanya Mommy Davina menunjuk dirinya sendiri.


"Apa?? Tidak Daddy, Mommy tidak mau." Tolak Mommy Davina dengan nada tegas.


Orang tua Daddy Aberto dan Daddy Aberto sangat terkejut dengan ucapan Mommy Davina karena mengira kalau Mommy Davina tidak lagi mencintai pria miskin seperti Daddy Aberto.


"Kamu sekarang tidak mencintai putraku?" tanya Nyonya Abertos sambil menahan amarahnya.


"Maaf Mommy, maksud Davina bukan itu." Jawab Mommy Davina


"Lalu maksudmu apa?" tanya Nyonya Abertos sambil masih menahan amarahnya.


"Aku sangat mencintai suamiku tapi Aku tidak membutuhkan semua harta itu. Karena bagiku sudah cukup suamiku mencintaiku dengan tulus dan juga menyayangi ke tiga anak kami. Aku tidak mau serakah dengan semua kemewahan." Jawab Mommy Davina dengan nada tegas sambil memeluk tubuh kekar suaminya.


"Aku sangat - sangat dan sangat mencintaimu sayang karena kehadiran Daddy di samping kami itu sudah cukup buat Mommy dan Mommy tidak ingin yang lainnya." Sambung Mommy Davina.


Orang tua Daddy Aberto dan Daddy Aberto sangat terharu dengan ucapan Mommy Davina.


"Aku tidak pernah salah memilihmu terlebih dengan perkataanmu membuat Daddy semakin mencintaimu." Ucap Daddy Aberto sambil membalas pelukan istrinya.


"Kalian tinggallah bersama kami karena mansion kami sangat luas dan jika kalian tinggal di mansion kalian yang ada Mommy dan Daddy akan kesepian." Ucap Nyonya Abertos mengulangi perkataan yang tadi.


"Seminggu sekali kami akan menginap di mansion milik Mommy dan Daddy." Ucap Daddy Aberto sambil melepaskan pelukannya begitu pula dengan istrinya.


Nyonya Abertos hanya diam saja sedangkan Mommy Davina menatap ke arah Nyonya Abertos yang sangat sedih membuat Mommy Davina tidak enak hati dan tidak tega dengan ibu mertuanya. Mommy Davina kembali menatap wajah tampan suaminya yang masih setia menatap dirinya.


'Sayang kan baru sembuh bagaimana kalau kita semua menginap di mansion Mommy dan Daddy.' usul istrinya dengan suara berbisik sambil memberikan kode ke suaminya agar menatap ke arah ke dua orang tua Daddy Abertos.


"Baiklah kami akan menginap di mansion milik Mommy dan Daddy." Jawab Daddy Aberto yang tidak tega melihat ke dua orang tuanya sedih.


"Benarkah? Terima kasih sayang." Ucap Nyonya Abertos sambil memeluk menantunya.

__ADS_1


"Mansion itu nantinya milik kalian." Sambung Tuan Abertos yang ingin memberikan semua aset berharganya untuk putra sulungnya.


Hal itu dikarenakan putra bungsunya tidak ada kabar beritanya di tambah ketika diberikan perusahaan Abertosa menolaknya mentah - mentah membuat ke dua orang tuanya sangat sedih dengan perubahan putra bungsunya.


Daddy Aberto dan Mommy Davina yang mendengar ucapan Tuan Abertos hanya tersenyum bukan karena mereka gila harta tapi kasih sayang dan perhatian Tuan Abertos dan Nyonya Abertos membuat mereka sangat bahagia.


Jika Abertosa menginginkan mansion milik orang tuanya mereka akan memberikannya dengan ikhlas karena harta tidak bisa di bawa mati. Terlebih Daddy Aberto dan Mommy Davina sudah sangat kaya dan hartanya tidak akan habis bahkan sampai tujuh turunan.


"Cucu - cucu Opa dan Oma ayo kita pulang." Ajak Tuan Abertos.


"Baik opa." Jawab ke tiga anak kembarnya dengan serempak.


Mereka pun pulang dengan menggunakan satu mobil sedangkan di belakangnya diikuti dua mobil anak buah Daddy Aberto di mana mereka berjaga - jaga agar kejadian waktu itu tidak terjadi lagi. Setengah jam lamanya akhirnya mereka sudah sampai di mansion.


"Mommy, Daddy, Opa dan Oma kami istirahat dulu." Pamit ke tiga anak kembar dengan serempak.


"Baik sayang." Jawab mereka dengan serempak.


"Mommy dan Daddy, Kami juga istirahat dulu." Ucap Daddy Aberto.


"Ok, Daddy dan Mommy juga ingin istirahat." ucap Tuan Abertos.


Merekapun berjalan ke kamar masing-masing untuk istirahat terlebih tubuh mereka lumayan lelah kecuali Daddy Aberto yang sudah puasa selama empat hari lebih.


"Mommy, Daddy ingin itu, bolehkah?" tanya Daddy Aberto sambil memeluk istrinya dari arah belakang setelah mengunci pintu kamarnya.


"Siang - siang begini?" Tanya istrinya dengan wajah terkejut.


"Iya, apakah mommy tidak merasakan ada sesuatu yang bergerak - gerak?" Tanya suaminya sambil memainkan dua gunung kembar milik istrinya.


"Mommy tahu tapikan Daddy baru sembuh." Ucap istrinya sambil menikmati sentuhan suaminya.


"Tapi Daddy lagi pengen Mommy." Ucap suaminya dengan suara semakin berat tanda hasratnya ingin segera dituntaskan sambil masih memainkan ke dua gunung kembar milik istrinya.


"Baiklah Daddy." Ucap istrinya yang tidak tega melihat suaminya yang menahan hasratnya.


Tanpa menunggu lama Daddy Aberto menggendong istrinya dan berjalan ke arah ranjang kemudian membaringkan istrinya dengan perlahan. Merekapun melakukan kegiatan suami istri pada siang hari hingga terdengar suara merdu yang keluar dari mulut mereka berdua.


Tiga Hari Kemudian


Seperti biasa setiap pagi Mommy Davina bangun pagi sikat gigi dan membersihkan wajahnya kemudian memasak untuk ke dua mertuanya, suaminya dan ke tiga anak kembarnya. Selesai memasak Mommy Davina berjalan menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya.


Mommy Davina membuka pintu kamarnya dan melihat suaminya yang masih setia memejamkan matanya. Mommy Davina menyiapkan air hangat untuk suaminya. Setelah air di bathtub penuh Mommy Davina memutar kran agar air berhenti mengalir.


Mommy Davina memberikan aroma mewangian kesukaan suaminya kemudian Mommy Davina berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping suaminya.


"Sayang bangun sudah siang." ucap istrinya sambil membelai wajah tampan suaminya.


Suaminya menarik tangan istrinya hingga menimpa tubuh suaminya. Istrinya berada di atas tubuh suaminya sedangkan suaminya memeluk tubuh mungil istrinya dengan mata masih terpejam.


"Sebelum mandi satu ronde ya Mom?" pinta suaminya.


Istrinya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan hal itu tidak disia - siakan oleh suaminya. Daddy Aberto langsung membalikkan tubuhnya dan kini tubuhnya berada diatas sedangkan istrinya berada di bawah, Mereka pun melakukan kegiatan panasnya di pagi hari.


Mommy Davina dan Daddy Aberto hidup bahagia dan tidak ada lagi musuh yang menyerang mereka untuk saat ini. Begitu pula dengan Hendrik dan Maria, di mana mereka hidup bahagia dan saling mencintai satu sama lainnya.


Tamat


xxxxxxxxxxxxxxxxxx


Tidak terasa novel ini sudah tamat dan akan dilanjutkan ke judul baru dengan judul : Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath 2


__ADS_1


__ADS_2