Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Ada Apa Darling


__ADS_3

"Darling sudah dengarkan kata perawat tadi." Ucap Hendrik sambil tersenyum dan membelai rambut Maria dengan lembut.


'Huh... sama Aku menatap nya seperti tatapan ingin membunuhku tapi dengan kekasihnya menatapnya penuh dengan cinta padahal aku juga tidak kalah cantiknya dengan wanita itu bahkan aku lebih cantik dan seksi.' Ucap perawat tersebut dalam hati.


'Pria itu sangat tampan tapi sayang arogant dan dingin tapi aku sangat suka." sambung perawat itu dalam hati.


"Kenapa bengong? Bawa kekasihku ke ruang perawatan!" Perintah Hendrik dengan nada dingin sambil menatap tajam ke arah perawat.


"Ba...baik Tuan." jawab perawat dengan gugup.


"Darling, Aku tidak apa-apa tapi kenapa Aku mesti di rawat?" tanya Maria dengan nada protes.


"Darling,Aaku tidak suka di bantah." Ucap Hendrik sambil menoel hidung mancung Maria.


"Baiklah." Jawab Maria sambil bibir bawahnya dimajukan.


"Darling menggodaku?" tanya Hendrik sambil mengedipkan matanya.


"Aish.. siapa yang menggoda darling?" Tanya Maria dengan nada protes.


"Itu bibirmu sepertinya mau di cium." ucap Hendrik dengan nada menggoda.


"Aish ... Dasar mesum." Ucap Maria.


"Mesum sama kekasihku tidak masalah kan?" Tanya Hendrik sambil mengusap rambut Maria.


"Ehem..Maaf Tuan, kami ingin mendorong brankar nona Maria." Jawab perawat itu ketika melihat Maria ingin bicara.


'Memangnya Aku nyamuk? Nyebelin banget ... Awas saja akan Aku rebut pria itu agar Kamu menangis darah.' ucap perawat tersebut dalam hati.


"Oke." Jawab Hendrik dengan singkat dan dengan nada dingin.


Ke dua perawat itupun mendorong brankar menuju ke ruang perawatan dengan diikuti oleh Hendrik. Sampai di ruang perawatan salah satunya pergi meninggalkan ruang perawatan karena tidak mau menjadi nyamuk.


Melihat kemesraan Hendrik dan Maria membuat ke dua perawat iri hati karena itulah salah satunya pergi dan satunya lagi ingin mencelakai Maria.


"Kekasihku tangannya diinfus saja!" Perintah Hendrik dengan wajah datar dan tanpa ekspresi berbeda ketika dirinya menatap ke arah Maria.


"Apa?? Tidak.... Tidak.." ucap Maria.

__ADS_1


"Baik tuan." Ucap perawat tersebut sambil tersenyum menyeringai tanpa sepengetahuan mereka berdua karena membelakangi mereka.


Maria menolak karena dirinya sangat membenci dua hal yaitu jarum infus dan jarum suntik. Dua hal yang selalu dihindari oleh Maria karena itulah memegang tangan Hendrik agar dirinya tidak di suntik.


"Darling, Aku sehat jadi tidak perlu di infus." Ucap Maria sambil memegang tangan Hendrik.


"Darling aku ingin darling cepat sehat." ucap Hendrik sambil mengusap rambut kekasihnya dengan lembut dan tangan satunya membalas genggaman tangan Maria.


"Tapi akukan hanya lecet - lecet saja." Ucap Maria dengan nada masih protes.


"Tidak ada penolakan." Ucap Hendrik dengan nada tegas.


Maria hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar dan hanya pasrah saja karena ternyata Hendrik mempunyai sifat tegas dan tidak bisa di rubah.


Perawat itupun mengambil alat infus kemudian menggantungkan botol infus di gantungan khusus botol infus. Perawat itu pun memegang tangan Maria untuk menancapkan jarum infus.


"Akhhh sakitttt.." teriak Maria sambil menarik tangannya dan terlihat darah segar keluar dari pergelangan tangannya.


"Maaf Nona, Saya tidak sengaja." ucap perawat pura - pura menampilkan wajah sedih dan merasa bersalah sambil menarik kembali tangan Maria untuk di infus.


"Tidak sengaja bagaimana? Aku tidak mau diinfus." Ucap Maria sambil menarik tangannya kembali dan menatap tajam ke arah perawat.


"Tidak dan tidak, pokoknya Aku tidak mau di infus." Ucap Maria dengan nada tegas karena tangannya masih terasa sakit karena perawat itu dengan sengaja menusuk tangannya dengan jarum infus.


"Saya janji akan pelan - pelan." ucap perawat masih dengan tersenyum palsu.


Perawat itupun memaksa memegang tangan Maria kemudian bersiap menusuk tangan Maria dengan menggunakan jarum infus. Namun mata elang Hendrik melihat kalau perawat itu bersiap untuk menyakiti kekasihnya dengan menggunakan jarum infus sedangkan Maria memejamkan matanya karena sejujurnya dirinya sangat takut.


Hendrik yang tidak ingin Maria disakiti langsung menahan tangan perawat itu kemudian melintirnya membuat perawat itu berteriak kesakitan.


"Akhhhhh sakit.." teriak perawat itu.


"Aku tahu kamu sengaja ingin menyakiti kekasihku." Ucap Hendrik dengan nada dingin sambil menatap perawat itu dengan datar kemudian mendorongnya dengan kuat.


"Akhhhhh... sakit." Ucap perawat itu sambil mengelus bokongnya yang di cium oleh lantai.


"Pergi dari sini atau ingin menerima hukuman yang lebih dari tadi." usir Hendrik dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh perawat itu.


"Ba... baik." Jawab perawat dengan gugup sambil berusaha berdiri dan berjalan dengan langkah cepat.

__ADS_1


'Si*l ... baru kali ini Aku diperlakukan seperti ini, awas saja perempuan jala*g aku akan balas penghinaan ini.' Umpat perawat dalam hati.


Perawat itupun pergi meninggalkan mereka berdua di ruang perawatan sambil menghentakkan kakinya dengan kesal. Hendrik tidak memperdulikan perawat itu. Hendrik memegang tangan Maria kemudian meniupnya dengan perlahan membuat Maria sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Hendrik.


"Maaf darling, masih sakit?" tanya Hendrik dengan perasaan bersalah karena memaksa Maria untuk di infus.


"Sedikit darling." Jawab Maria sambil berbaring di ranjang.


"Sekarang istirahat lah aku akan menunggu darling." ucap Hendrik sambil menyelimuti tubuh Maria hingga sampai pinggang.


"Oh ya aku belum menghubungi orang tuaku, darling tolong ambilkan ponselku." Pinta Maria yang tiba - tiba teringat dengan ke dua orang tuanya.


"Ok." Jawab Hendrik dengan singkat.


Hendrik mengambil tas Maria kemudian mengambil ponsel milik Maria lalu diberikan ke Maria.


"Ini darling ponselmu." Ucap Hendrik.


"Terima kasih darling." Jawab Maria sambil tersenyum.


"Sama - sama darling." Jawab Hendrik sambil duduk di kursi dekat ranjang calon istrinya.


Maria pun menghubungi ke dua orang tuanya kalau dirinya tidak bisa menjemput dengan alasan kalau ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan berjanji besok akan datang menemui ke dua orang tuanya. Setelah selesai menghubungi ke dua orang tuanya, Maria meminta tolong Hendrik untuk menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Terima kasih darling." Ucap Maria sambil tersenyum bahagia.


"Sama - sama darling." Jawab Hendrik sambil menyimpan kembali ponsel milik Maria.


Tidak berapa lama ponselnya berdering membuat Hendrik mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya. Setelah mengetahuinya Hendrik menggeser tombol warna hijau dan mulai mengobrol. Setelah hampir tiga menit Hendrik sudah selesai menerima telepon dengan tatapan berbeda membuat Maria sangat terkejut.


"Ada apa darling?" Tanya Maria penasaran.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Ayo dong Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip agar author semangat menulisnya. 😚😚😍😍😘😘


Terima kasih yang sudah memberikan Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip nya serta terima kasih juga buat para pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘


Salam Author,

__ADS_1


Yakasa


__ADS_2