Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Tante Violet dan Paman Vincent


__ADS_3

Suara Dave membuat Daddy Aberto dan Edward berjalan ke arah Dave sedangkan Daven dan David yang melihat kedua pria dewasa ingin duduk dekat Dave terpaksa pindah di sofa single.


Setengah jam lamanya Dave mengutak atik laptopnya hingga akhirnya Dave berhasil meretas rekaman cctv dan menemukan pelaku tabrak lari dan nomer plat mobil berserta pemilik plat mobil tersebut.


"Ketemu apa Dave?" Tanya Daddy Aberto penasaran begitu pula dengan yang lainnya.


"Pelakunya Tante Violet dan Tante Violet meminjam mobil milik Paman Vincent untuk menabrak Tante Maria dan Paman Hendrik." Jawab Dave.


"Sepertinya Paman pernah melihat orang ini tapi di mana ya?" tanya Edward pada dirinya sendiri sambil berpikir.


"Oh iya pria ini datang bersama Ayahnya untuk menawarkan kerja sama." sambung Edward.


"Paman Vincent sangat jahat, lebih baik Paman Edward jangan mau di ajak kerja sama oleh mereka." Ucap Dave dengan nada dingin.


"Jahat kenapa?" Tanya Edward penasaran.


"Karena telah menghina dan merendahkan Paman Hendrik dan Tante Maria. Mereka sebenarnya mengajak kerjasama karena perusahaan milik Daddy dan perusahaan milik rekan bisnis Daddy memutuskan kerjasama secara sepihak." Jawab Dave menjelaskan apa yang terjadi.


"Tapi kenapa Hendrik tidak memberitahukan ke Daddy kalau memutuskan kerja sama?" Tanya Daddy Aberto.


"Mungkin lupa Dad. Tapi Daddy setujukan memutuskan kerja sama dengan mereka?" Tanya Dave mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja Daddy setuju memutuskan kerja sama dengan mereka." Jawab Daddy Aberto dengan nada tegas.


"Kalau begitu Paman akan hubungi orang kepercayaan Paman untuk menolak kerja sama." Ucap Edward sambil mengambil ponselnya yang di simpan di dalam saku jasnya.


Mommy Davina dan Alona tidak bisa melarang suami mereka untuk tidak melakukannya karena perbuatan mereka sangat jahat. Jika saja mereka tidak melakukan kerja sama untuk mencelakai Hendrik dan Maria maka Mommy Davina dan Alona bisa memohon ke suami mereka untuk tidak melakukannya.


"Tante Violet bersembunyi di bar nama barnya Pesona Hati di kamar Nomer 808 sedangkan Paman Vincent ada di apartemen Da Costa nomer 55." Ucap Dave.


"Kalau begitu Daddy akan menghubungi orang kepercayaan Daddy untuk menangkap mereka berdua." ucap Daddy Aberto dengan nada dingin sambil mengeluarkan ponselnya.


"Kalau Tante Violet bisa di tangkap Dad karena wanita itu yang ingin mencelakai Paman Hendrik dan Tante Maria sedangkan Paman Vincent saat ini belum melakukan kejahatan." Ucap Dave.


"Jadi Daddy tidak bisa menangkap Paman Vincent." Sambung Dave.


"Betul juga kalau begitu Daddy akan suruh orang kepercayaan Daddy untuk memata - matai Paman Vincent." Ucap Daddy Aberto.


"Kalau itu Dave setuju." Ucap Dave.


'Kenapa Aku jadi bodoh di depan ke tiga anak kembarku?' tanya Daddy Aberto dalam hati.


Ketiga anak kembar tahu apa yang dikatakan Daddy Aberto namun mereka diam saja mengingat ada banyak orang dewasa yang mendengar percakapan mereka terlebih mereka tidak ingin mempermalukan Daddy Aberto.


"Tante Violet sangat licik jadi anak buah Daddy jangan sampai terkecoh menangkapnya karena anak buah Paman Hendrik tidak berhasil menemukannya." Ucap Dave mengalihkan pembicaraan.


Daddy Aberto hanya menganggukkan kepalanya kemudian menghubungi anak buahnya untuk menangkap Violet di bar. Setelah selesai Daddy Aberto menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya.


Daven mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Hendrik dan sambungan pertama langsung di angkat oleh Hendrik.


("Hallo Tuan Muda Kecil Daven." Ucap Hendrik).


("Pekerjaan di cabang perusahaan Daddy sebagian sudah diselesaikan Paman Hendrik dan Tante Maria sedangkan sebagian lagi sudah Daven kerjakan jadi Paman Hendrik dan Tante Maria bisa pulang." Ucap Daven tanpa basa basi).

__ADS_1


("Benarkah? Kalau begitu Paman akan pergi ke rumah sakit untuk membuat laporan sedangkan Tante Maria akan pulang ke mansion milik orang tuan Tante Maria setelah selesai melaporkan baru Paman akan pergi ke rumah orang tua Tante Maria." Ucap Hendrik yang tidak enak hati dengan keluarga Daddy Aberto).


("Benar Paman sudah Daven kerjakan. Jadi lebih baik Paman temani Tante pulang ke mansion orang tuanya terlebih lagi Paman tidak bisa pisah dengan Tante Maria." Ucap Daven dengan nada menggoda).


("Aish Tuan Muda Kecil masih kecil, kenapa mengerti soal ini?" Tanya Hendrik dengan wajah terkejut begitu pula dengan Maria karena saat ini Maria duduk bersebelahan dengan Hendrik karena itulah dirinya mendengar apa yang dikatakan Daven).


("Sudahlah Paman. Paman tidak usah malu karena kami mengerti kok. Oh ya sudah dulu ya Paman karena Aku tidak ingin menganggu orang yang sedang berpacaran." Ucap Daven).


Tut Tut Tut Tut


Tanpa menunggu jawaban Daven memutuskan sambungan komunikasi kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Mommy Davina, Daddy Aberto, Edward dan Alona saling menatap dengan tatapan terkejut mendengar ucapan Daven.


"Daven, kenapa kamu bicara seperti orang dewasa? Apa kamu mengerti apa itu pacaran?" Tanya Daddy Aberto dengan wajah masih terkejut begitu pula dengan yang lainnya.


""Mengerti laki - laki dan perempuan saling suka." Jawab Daven.


"Seperti Dave suka sama Mommy." Sambung Dave.


"Daven / David juga suka sama Mommy." Sambung Daven dan David dengan serempak.


Ketiga anak kembar tidak begitu tahu apa itu orang pacaran karena yang mereka tahu adalah mereka saling suka karena orang itu baik dan membuatnya nyaman.


"Aish tidak bisa, kalian bertiga tidak boleh suka sama Mommy karena Mommy milik Daddy." Ucap Daddy Aberto dengan nada tegas.


"Sebelum Daddy datang kan kami sudah suka duluan." Ucap ke tiga anak kembarnya dengan nada protes.


"Tapi ..." Ucapan Daddy Aberto terpotong oleh Mommy Davina.


"Tapi Mom ..." Ucapan Daddy Aberto dan ketiga anak kembarnya terpotong oleh Mommy Davina.


"Mommy lapar, kalian tega melihat Mommy pingsan gara - gara kelaparan?" Tanya Mommy Davina mengalihkan pembicaraan.


"Tidak Mommy." Jawab mereka berempat dengan serempak.


Daddy Aberto mengambil mangkok yang berisi bubur kemudian mulai menyuapi Mommy Davina dengan telaten sedangkan yang lainnya hanya diam namun ketiga anak kembar terlihat cemberut. Edward dan Alona yang melihatnya hanya tersenyum melihat ketiga ponakannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tante lapar, mau temani Tante makan di kantin?' Tanya Alona mengalihkan pembicaraan.


"Boleh Tante." Jawab ketiga anak kembarnya dengan serempak.


"Oke. Davina dan Aberto, kami bawa ketiga anak kalian ya." ucap Alona.


"Oke. Terima kasih." Jawab Daddy Aberto dengan singkat.


"Oke. Terima kasih banyak ya." Ucap Mommy Davina setelah makanan di dalam mulutnya habis tanpa sisa.


"Tidak perlu berterima kasih sesama saudara harus saling membantu." Ucap Alona sambil tersenyum.


Mommy Davina dan Daddy Aberto membalas senyuman Alona kemudian Edward, Alona, Dave, Daven dan David berjalan keluar ruang perawatan menuju ke kantin. Mommy Davina kembali disuapi oleh Daddy Aberto hingga makanan di dalam mangkok habis tanpa sisa sedikitpun.


Kemudian Daddy Aberto meletakkan mangkok di atas meja lalu mengambil minuman yang ada sedotannya. Mommy Davina meminum air mineral hingga menyisakan setengah gelas kemudian Daddy Aberto memberikan beberapa butir obat untuk diberikan ke istrinya.


Mommy Davina menelan obat tersebut dengan menggunakan minuman air mineral hingga obat tersebut masuk ke dalam perutnya. Daddy Aberto meletakkan gelas tersebut yang sudah kosong ke atas meja.

__ADS_1


"Sekarang tidurlah, Daddy mau makan dulu." Ucap Daddy Aberto.


"Oke." Jawab Mommy Davina dengan singkat.


Daddy Aberto berjalan ke arah sofa kemudian duduk di sofa sambil mengambil paper bag yang ada di atas meja. Daddy Aberto mulai makan karena kebetulan dirinya sangat lapar.


Sedangkan Mommy Davina menatap suaminya yang sedang makan hingga beberapa saat kemudian Mommy Davina memejamkan matanya karena efek dari obat tidur yang baru saja diminumnya.


xxxxxxx


Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di perusahaan cabang milik Daddy Aberto di mana Hendrik dan Maria sudah selesai melakukan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang.


"Mereka bertiga sangat genius tapi sikap mereka seperti orang dewasa padahal umurnya baru lima tahun." Ucap Hendrik sambil mendekati calon istrinya.


"Keadaan yang memaksakan mereka menjadi dewasa karena mereka bertiga hidup tanpa seorang Daddy. Mereka bertiga tidak pernah menanyakan di mana Daddy mereka berada karena tidak ingin membuat Davina sedih. Mereka bertiga berusaha mencari dimana keberadaan Daddynya dan akhirnya mereka berhasil menemukannya." Ucap Maria.


"Untunglah ada Kak David sekaligus Paman mereka yang selalu menemani mereka bermain dan menghibur mereka jika mereka bersedih." Sambung Maria menceritakan tentang masa lalu Mommy Davina beserta ke tiga anak kembar genius.


"Oh ya kenapa Tuan Muda Kecil David namanya sama dengan Tuan Muda David?" Tanya Hendrik penasaran.


"Waktu Davina hamil besar, Kak David meminta salah satu nama anaknya Davina sama seperti namanya dan Davina sama sekali tidak keberatan. Terlebih Kakak kembarnya selalu menemaninya ke dokter kandungan untuk mengecek kehamilannya agar orang tidak menghina Davina yang hamil tanpa suami." Jawab Maria menjelaskan kenapa namanya sama - sama David.


"Padahal Tuan Muda Aberto mencari Nyonya Muda Aberto tapi sangat sulit ditemukan." Ucap Hendrik yang ingat dirinya dulu sibuk mencari keberadaan Mommy Davina.


"Itu karena keluarga Davina sangat pintar dalam bidang IT makanya sulit untuk menemukannya." Jawab Maria.


Hendrik hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka keluar dari ruangan khusus CEO menuju ke arah lift untuk kembali ke kota tempat kelahiran mereka.


"Aku benar - benar salut dengan ketiga anak kembar terlebih sifat Tuan Muda Kecil Dave yang sangat mirip dengan Tuan Muda Besar Aberto." ucap Hendrik.


"Ya benar, sangat mirip sekali datar dan dingin." Ucap Maria sambil tersenyum dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift begitu pula dengan Hendrik.


"Bagaimana dengan diriku?" tanya Hendrik penasaran sambil menekan tombol lift.


"Sama - sama datar dan sama - sama dingin ketika pertama kali kita bertemu." Jawab Maria apa adanya.


"Kalau sekarang?" tanya Hendrik sambil mempersilahkan Maria masuk ke dalam kotak persegi empat.


"Romantis, perhatian dan sayang aku sangat suka." Jawab Maria sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam kotak persegi empat dan diikuti oleh Hendrik.


"Itu semua karena kehadiran dirimu hingga Aku menjadi seperti ini." Ucap Hendrik kemudian mengecup bibir calon istrinya yang sudah menjadi candunya.


Pintu lift tertutup dengan rapat dan tanpa mereka sadari sepasang mata menatap Hendrik dengan tatapan tajam. Orang tersebut mengambil ponselnya di saku kemejanya kemudian menghubungi seseorang.


("Orangnya sudah keluar dari ruangannya, apakah kamu sudah menjalankan perintahku?" Tanya pria tersebut).


("Sudah Tuan sesuai rencana Tuan." Ucap pria dari sebrang).


Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi terputus secara sepihak kemudian pria tersebut menyimpan kembali ponselnya di saku kemejanya.


"Sebentar lagi kalian akan mati." Ucap pria tersebut sambil tersenyum devil.

__ADS_1


__ADS_2