
"Lapar Dad tapi Kami ingin makan masakan Mommy." Jawab ke tiga putranya dengan serempak.
"Ok." Jawab Daddy Aberto dengan singkat sambil masih menggendong Dave.
"Daven, mau di gendong?" Tanya Paman David.
"Mau Paman." Jawab Daven sambil tersenyum.
Paman David menggendong Daven sedangkan Paman Edward berjalan berdampingan dengan Dave karena Paman Edward tahu kalau Dave tidak suka di gendong.
"Tuan Muda Kecil Dave, apakah mau di gendong sama Paman?" Tanya Paman Hendrik.
"Maaf Paman, Dave lebih suka jalan karena Dave bukan anak kecil." Jawab Dave dengan nada dingin.
Daddy Aberto dan Paman Hendrik saling menatap sambil menahan senyum ketika mendengar ucapan Dave yang sangat mirip dengan Daddy Aberto.
Paman David menarik tangan Paman Hendrik untuk menghentikan langkahnya membuat Paman Hendrik langsung menghentikan langkahnya sambil menatap ke arah Paman David seakan meminta penjelasan.
'Dave tidak mau di gendong karena Dave tidak seperti ke dua adiknya.' bisik Paman David sambil berjalan keluar dari ruangan CEO.
'Pantas saja. Padahal jelas - jelas Dave itu masih kecil.' ucap Paman Hendrik dalam hati.
Hendrik langsung melangkahkan kaki dengan lebar hingga Paman Hendrik berdiri tepat di depan pintu kemudian memutar kenop pintu tersebut.
Paman Hendrik mendorong pintu dengan lebar kemudian berdiri menyamping agar Daddy Aberto, Dave, Paman Edward dan Paman David bisa berjalan ke luar. Setelah mereka keluar barulah Paman Hendrik berjalan keluar ruangan namun sebelumnya menutup kembali pintu tersebut.
Mereka berjalan ke arah lift hingga mereka sampai di depan pintu lift kemudian Paman Hendrik menekan tombol agar lift terbuka. Setelah pintu lift terbuka merekapun masuk ke dalam ruangan persegi empat tersebut kemudian menekan tombol angka satu.
__ADS_1
"Daddy." Panggil Daven.
"Ya." Jawab Daddy Aberto dengan singkat sambil menatap putranya yang nomer dua.
"Para karyawan di perusahaan milik Daddy yang ada di pusat semuanya pintar dan tertib dalam bekerja. Jadi Daven meminta sama Daddy agar beberapa pegawai dari semua divisi di perusahaan milik Daddy untuk dipindahkan ke sini karena perusahaan ini harus secepatnya diperbaiki karena kalau tidak bisa bangkrut." ucap Daven dengan nada serius.
"Karena perusahaan ini milik Paman Hendrik jadi Paman Hendrik bertanggung jawab mengurus perusahaan." Ucap Dave dengan nada dingin.
"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Paman Hendrik dengan patuh.
Daddy Aberto menatap ke arah Dave dan Daven secara bergantian tanpa berkedip karena ke dua putra bicaranya seperti orang dewasa yang mengerti tentang dunia bisnis.
"Daddy kenapa bengong?" tanya Daven.
"Daddy sangat terkejut kenapa cara bicaramu seperti orang yang mengerti tentang bisnis." Jawab Daddy Aberto dengan jujur.
"Benarkah?" tanya Daddy Aberto dengan nada terkejut.
"Benar Daddy." Jawab David.
"Kalau anak Daddy yang sangat tampan ini menguasai seni bela diri." ucap David dengan narcis.
Ke dua kakaknya hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar ucapan adik bungsunya yang narcis sedangkan Daddy Aberto hanya tersenyum mendengar ucapan putra bungsunya.
"Oh ya kenapa perusahaan yang kalian beli untuk Paman Hendrik?" Tanya Daddy Aberto penasaran
David menceritakan kalau mereka bertiga menghadiahkan perusahaan untuk Paman Hendrik dan Paman David. Di mana Paman David sering menemani mereka kemanapun mereka ingin pergi sedangkan Paman Hendrik setia dengan Daddy Aberto dan bertanggung jawab dalam pekerjaan.
__ADS_1
Paman David dan Paman Hendrik yang mendengarkan cerita David sangat terharu dengan Ucapan David. Bukan karena mendapatkan perusahaan baru karena ke dua pria tersebut tidak kekurangan uang sedikitpun terlebih Paman David yang sudah mempunyai beberapa perusahaan.
Di mana perusahaan tersebut sebagian pemberian Daddy William dan usahanya sendiri yang dimulainya dari nol.
Ting
Pintu lift terbuka merekapun keluar dari kotak persegi empat tersebut kemudian berjalan melewati lobby.
Paman Edward dan Paman David yang membawa mobil berpisah karena mereka akan pergi ke mansion milik ke dua orang tua Mereka karena ada yang ingin dibicarakan sedangkan Daddy Aberto, ketiga anak kembarnya dan Paman Hendrik pergi ke mansion milik Daddy Aberto dimana Mommy Davina sedang menunggu Mereka.
Paman Hendrik duduk di kursi pengemudi sedangkan Dave duduk di samping pengemudi. Untuk Daddy Aberto dan ke dua adik kembar Dave duduk di kursi belakang pengemudi. Paman Hendrik mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke mansion.
"Paman Hendrik, besok ikut jalan - jalan sama kami ya." Ajak David.
"Jalan - jalan kemana Tuan Muda Kecil?" tanya Paman Hendrik.
"Liburan di villa Paman." Jawab David.
"Tapi.." Ucapan Paman Hendrik terpotong oleh Daddy Aberto.
"Besok kamu ikut!" Perintah Daddy Aberto yang tidak bisa di bantah.
"Baik Tuan Muda." Jawab Paman Hendrik dengan nada pasrah.
'Akhhhhh.... Besok hari liburku ingin santai - santai di rumah tidak jadi hiks .. hiks... Tuan Muda tega padaku? kalau Tuan Muda enak liburan dengan keluarga, Tuan Besar bersama Nyonya Besar. Semua ada pasangan sedangkan Aku? Aku sama siapa? Hiksss .. Hiksss .. Ingin rasanya Aku mencekik Tuan Muda." Ucap Paman Hendrik dalam hati.
Paman Hendrik hanya bisa mengatakan dalam hati karena dirinya tidak mungkin mengatakan hal itu karena yang ada dirinya akan di pecat.
__ADS_1
"Kamu mengumpatku Hendrik?" Tanya Daddy Aberto sambil menatap Paman Hendrik dari spion mobil.