
"Daddy, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik dari arah ruangan depan CEO ada empat pria mengeluarkan senjata." ucap ke tiga anak kembar dengan serempak.
Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik yang mendengar ucapan ke tiga anak kembar langsung memisahkan diri agar tidak bergerombol sambil masing-masing mengeluarkan pistol yang tadi di simpan di saku jasnya.
Sedangkan yang ada di dalam ruangan CEO di mana David langsung memberikan isyarat ke dua kakak kembarnya dan mereka pun setuju permintaan adik bungsunya.
"Jika kalian berani menembak Kami maka jangan salahkan Kami untuk menembak kalian." Ucap Daddy Aberto sambil mengarahkan pistolnya ke arah mereka diikuti oleh Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik.
Tangan mereka berhenti bergerak dan menatap ke arah Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik dengan tatapan polosnya seakan tidak mengerti sambil keluar dari persembunyiannya.
"Pistol apa Tuan? Saya tidak mengerti." Ucap salah satu karyawan yang merupakan anak dari wakil CEO.
"Benar Tuan, Saya juga tidak mengerti maksud Tuan." Jawab salah satu karyawan yang merupakan anak dari Manajer Keuangan.
"Benar tuan." Sambung ke duanya dengan serempak yang merupakan anak dari Manajer Pemasaran dan Manajer Humas.
"Daddy jangan percaya dengan omongan mereka. Mereka bicara itu untuk mengalihkan perhatian Daddy, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik." ucap Dave memberitahukan.
"Daddy Mereka diam - diam mengambil pistol, tembak saja Daddy, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik." Ucap Daven.
Selesai Daven mengatakan Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik menarik pelatuknya ke arah ke empat pria tersebut.
Dor
Dor
Dor
__ADS_1
Dor
"Akhhhhhhhh...." Teriak ke empat pria tersebut bersamaan.
Hal itu membuat ke empat pria tersebut tidak mau berdiam diri di mana mereka ikut mengambil pistol yang disembunyikan di saku jasnya dan bersiap untuk menembak.
Namun ke empat pria tersebut kalah cepat dari ke empat pria tampan tersebut hingga senjata milik mereka terpental dan tangan mereka terluka terkena luka tembak. Membuat ke empat pria tersebut berteriak kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang terkena luka tembak.
Tanpa sepengetahuan Daddy Aberto seseorang mengarahkan senjatanya ke arah Daddy Aberto.
"Daddy dari arah jam dua belas ada yang mengarahkan pistol ke Daddy." ucap Dave dengan nada panik.
Duag
"Akhhhhhhhhhhhh...." Teriak pria tersebut kesakitan.
"David." panggil Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik dengan serempak.
Dia adalah David, dirinya meminta ijin ke dua kakak kembarnya untuk pergi menemui Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik.
Hal itu dikarenakan dirinya merasakan perasaannya tidak enak dan ke dua kakaknya yang mengerti kode adiknya langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.
David berlari dengan cepat menuju ke ruangan dimana Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik berada. Membuat Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik memanggil David dengan wajah terkejut.
Ketika mendengar ucapan Dave, David langsung mengerti dan dengan gerakan lincah David melakukan salto dan menendang pistol tersebut.
David kemudian menyerang pria itu hingga tidak membutuhkan waktu yang lama pria itu tidak sadarkan diri terkena bogeman mentah dari tangan dan kaki David. Sedangkan Daddy Aberto, Paman Edward, Paman David dan Paman Hendrik hanya menatap aksi David di mana David sangat gesit dan bisa menghindar dari serangan musuhnya.
__ADS_1
"Daddy, jangan di tembak lebih baik buat mereka babak belur." ucap David yang melihat Daddy Aberto mengeluarkan senjatanya dari balik saku jasnya.
"Daddy, jangan di tembak lebih baik buat mereka babak belur." ucap Dave dan Daven bersamaan.
"Baik. Serang Mereka." ucap Daddy Aberto
Mereka pun memukul ke empat karyawan yang tangan kanannya terluka tembak hingga mereka babak belur karena mereka tidak bisa bela diri.
"Bawa mereka ke markas kantor polisi." Ucap Daddy Aberto.
"Baik tuan." Jawab mereka dengan serempak.
Ke empat bodyguard yang baru datang membawa ke empat pria tersebut sedangkan Paman Hendrik mengirim pesan ke anak buahnya kalau ada tambahan musuhnya.
Daddy Aberto yang melihat sudah aman langsung berjalan ke arah putra bungsunya dan langsung menggendongnya.
cup
cup
cup
Daddy Aberto langsung mencium kening dan ke dua pipi David kanan dan kiri.
"Kamu baik - baik saja sayang?" tanya Daddy Aberto sambil mengecek tubuh putra bungsunya.
"David baik - baik saja Daddy." Jawab David sambil tersenyum dan memeluk tubuh Daddy Aberto dengan ke dua tangan mungilnya.
__ADS_1
"Syukurlah Daddy senang mendengarnya. Oh iya Kak Dave dan Kak Daven kemana?" tanya Daddy Aberto yang melihat David sendirian.