Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Mengusik


__ADS_3

"Kita ke ruang perawatan sekarang setelah itu barulah pergi ke markas." Ucap Tuan Abertos dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Ok." Jawab Daddy William dengan singkat.


"Baik tuan." Jawab Paman Hendrik bersamaan.


Mereka bertiga berjalan menuju ke ruang perawatan untuk melihat keadaan Daddy Aberto sedangkan Paman David berdiri dekat pintu ruang ICU di mana adik kembarnya dalam keadaan koma.


ceklek


Daddy William, Tuan Abertos dan Hendrik melihat ke tiga cucunya sedang tertidur pulas dengan di temani Nyonya Abertos yang duduk di samping ranjang Daddy Aberto.


"Bagaimana keadaan putra kita mom?" tanya Tuan Abertos.


"Belum sadar Dad." Jawab Nyonya Abertos.


"Bagaimana keadaan menantu kita Dad?" tanya Nyonya Abertos.


Suaminya menghembuskan nafasnya dengan berat sambil menahan rasa sesak di hatinya.


"Menantu kita mengalami koma dan ada beberapa tulang yang patah dan retak karena menantu kita memeluk putra kita." Jawab Tuan Abertos menjelaskan apa yang terjadi dengan menantunya.

__ADS_1


"Seandainya menantu kita tidak memeluk putra kita bisa dipastikan putra kitalah yang tulangnya retak dan patah." Sambung Tuan Abertos.


Istrinya hanya bisa menutup mulutnya dan tidak berapa lama air matanya mengalir dirinya tidak menyangka menantunya sangat baik karena tidak memperdulikan nyawanya.


Dirinya berjanji untuk lebih menyayangi menantunya dan berharap menantunya cepat sadar dan bisa berkumpul kembali.


"Aku pergi dulu." ucap Tuan Abertos.


"Daddy mau kemana?" tanya Nyonya Abertos.


"Aku ingin menyelesaikan suatu masalah yang tidak bisa di tunda." Jawab Tuan Abertos dengan nada dingin dan menahan amarahnya.


Nyonya Abertos menatap Tuan Abertos dan tahu kalau suaminya menahan amarahnya.


"Tepat sekali. Aku dan besan pergi bersama Hendrik." ucap Tuan Abertos yang tidak bisa berbohong dengan Nyonya Abertos.


"Siapa pelakunya?" tanya Nyonya Abertos dengan tatapan tajam hatinya juga dipenuhi amarah karena telah berani menyakiti putra dan menantu kesayangan.


"Saat ini Daddy hanya tahu kalau pelakunya adalah seorang pelayan. Jadi Daddy pergi dulu menemui pelayan itu agar mengetahui siapa pelakunya." Jawab Tuan Abertos kemudian mengecup kening Nyonya Abertos.


"Pergilah Dad, berikan dia hukuman yang sangat menyakitkan." Ucap Nyonya Abertos sambil menahan amarahnya.

__ADS_1


"Baik Mom." Jawab Tuan Abertos.


Tuan Abertos pergi meninggalkan istri, putra sulungnya dan ke tiga cucunya. Sedangkan Daddy Wiliam hanya diam dan menatap keadaan menantunya yang bernama Daddy Aberto yang masih setia memejamkan matanya.


"Jaga putra kita dan sekali - kali lihat kondisi menantu kesayangan kita. Aku sudah menyuruh Hendrik agar dua bodyguard menjaga menantu kesayangan kita selain itu Kakak kembarnya Davina juga ikut menjaganya. Kabarin Daddy kalau ada apa-apa." ucap Tuan Abertos sambil melanjutkan langkahnya.


"Baik Dad. Daddy kalau pergi hati - hati." Ucap Nyonya Abertos.


Suaminya hanya menganggukkan kepalanya kemudian menutup pintu kamar perawatan VVIP sedangkan Daddy William hanya menganggukkan kepalanya ke arah Nyonya Abertos.


Daddy William dan Tuan Abertos berjalan diikuti oleh Paman Hendrik keluar dari rumah sakit menuju ke arah markas.


Tidak semua orang tahu bahwa Tuan Abertos adalah mantan ketua mafia sedangkan penerusnya adalah putra pertamanya Aberto Alexander William sedangkan putra ke duanya tidak mau terlibat dengan dunia mafia.


Singkat cerita kini mereka sudah sampai di markas. Tuan Abertos dan Daddy William berjalan dengan gagah penuh kharisma dan matanya yang tajam penuh aura kemarahan membuat para anak buahnya bergedik ngeri.


Sedangkan Paman Hendrik dengan setia mengikuti Tuan Abertos hingga mereka bertiga berhenti di ruang penyiksaan.


Tuan Abertos menatap tajam ke arah pelayan yang sudah babak belur dipukuli oleh anak buahnya.


"Sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Tuan Abertos dengan nada dingin

__ADS_1


"Pelayan itu tidak mau mengaku Tuan." jawab salah satu anak buah Daddy Aberto.


"Walau kamu seorang perempuan aku tidak perduli karena kamu telah berani mengusik keluargaku." ucap Tuan Abertos dengan nada dingin sambil menatap tajam begitu pula dengan Daddy William.


__ADS_2