Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath

Suamiku Seorang Mafia Dan Psycophath
Tuan Albert


__ADS_3

Di tempat yang berbeda Hendrik sudah sampai di perusahaan dan ingin menyelesaikan masalah kantor namun tiba - tiba ponselnya berdering. Hendrik mengambil ponselnya di saku jasnya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.


Tuan Muda Kecil Daven


"Ada apa tuan muda kecil Daven menghubungiku?" Tanya Hendrik pada dirinya sendiri.


Karena penasaran Hendrik menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.


("Hallo Tuan Muda Kecil." panggil Hendrik).


("Paman, ada masalah ya?" tanya Daven).


("Tidak ada Tuan Muda Kecil, hanya masalah kantor saja. Memang kenapa Tuan Muda Kecil?" tanya Hendrik dengan nada bingung).


("Maksudku itu masalah di kantor." Jawab Daven).


("Maaf Tuan Muda Kecil." Ucap Hendrik).


("Tidak apa - apa Paman. Oh ya masalah kantor, Aku sudah memperbaikinya." Ucap Daven)


("What?? Padahal Paman baru sampai kantor, siapa pelakunya?" tanya Hendrik dengan wajah terkejut karena secepat itukah si kembar genius menyelesaikan masalah kantor).


("Bagian IT yang bernama Boni, Dia bekerja sama dengan perusahaan musuh Daddy." Jawab Dave).


("Baik. Terima kasih Tuan Muda Kecil Daven yang telah membantu Paman." Ucap Hendrik)


("Sama Aku tidak paman?" tanya Dave).


("Ini Tuan Muda Kecil Daven kan?" tanya Hendrik).


("Bukan, tadi yang menyelesaikan masalah kantor memang adikku Daven tapi yang memberikan informasi bagian IT saya paman yaitu Dave." Jawab Dave dengan nada dingin).


("Maaf Tuan Muda Kecil Dave, terima kasih atas informasinya. Suara Tuan Muda Kecil Dave hampir sama dengan ke dua adik Tuan Muda Kecil Dave." ucap Hendrik menjelaskan).


("Oh iya Paman, kata Daddy hari ini ada pertemuan klien dengan Angkasa Raya di hotel Candra Kirana." ucap Daven).

__ADS_1


("Baik terima kasih informasinya." ucap Hendrik).


tut tut tut tut


Sambungan komunikasi langsung terputus membuat Hendrik menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Saya sudah tahu pasti Tuan Muda Kecil yang menyelesaikan masalah ini. Untung tuan muda Daven membantuku, kalau tidak bisa - bisa aku pulang pagi. Sekarang Aku akan pergi lagi menemui klien." ucap Hendrik.


Banyak orang menatap wakil CEO atau orang kepercayaan Daddy Aberto karena bicara sendiri tapi tidak ada yang berani berkomentar. Hal itu dikarenakan taruhannya mereka bisa di pecat dan tidak di terima di perusahaan manapun mereka melamar.


Sedangkan Hendrik yang tahu dirinya diperhatikan tidak memperdulikan hal itu malah langsung membalikkan badannya menuju ke arah parkiran mobil untuk bertemu klien.


Hendrik duduk di kursi pengemudi sebelum menjalankan mobilnya Hendrik menghubungi orang kepercayaannya dan sambungan pertama langsung di angkat.


("Tangkap dan tembak Boni bagian IT dan buang mayatnya ke dalam jurang!" Perintah Hendrik).


("Baik Tuan." Jawab anak buah kepercayaannya).


Daddy Aberto dan Hendrik paling membenci yang namanya pengkhianat karena itulah sudah sepantasnya mereka di tembak mati karena telah berani mengusiknya.


Hendrik mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dan hanya membutuhkan dua puluh lima menit Hendrik sudah sampai di hotel Candra Kirana. Hendrik memarkirkan mobilnya kemudian keluar dari mobil menuju ke lobby hotel.


"Maaf dengan Tuan Albert." ucap Hendrik dengan nada sopan.


"Benar sekali. Apakah Anda Tuan Hendrik?"Tanya Tuan Albert sambil berdiri.


"Benar Tuan. Maaf Tuan, Saya datang terlambat." Ucap Hendrik sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak apa - apa santai saja. Silahkan duduk Tuan Hendrik." Ucap Tuan Albert sambil membalas uluran tangan Hendrik.


Tidak berapa lama mereka melepaskan uluran tangan kemudian mereka duduk saling berhadapan yang hanya di batasi oleh meja. Mereka mengobrol masalah kerja sama pembangunan hotel yang berada di kota xxxx.


Tidak terasa sudah satu jam lamanya akhirnya mereka menyetujui kerja samanya dan menandatangani dokumen yang sudah dipersiapkan oleh Hendrik.


"Kita minum dulu bagaimana?" tanya Tuan Albert dengan nada sopan.

__ADS_1


"Boleh saja Tuan." Jawab Hendrik dengan nada ramah.


Hendrik melambaikan tangan dan seorang pelayan restoran datang. Hendrik dan Tuan Albert memesan minuman serta cemilan setelah selesai mencatat pelayan restoran pergi meninggalkan mereka berdua.


Sambil menunggu pesanan mereka, mereka mengobrol seputar kehidupan pribadi lebih tepatnya Tuan Albert menanyakan kehidupan pribadi Hendrik.


"Apakah Tuan Hendrik sudah menikah?" tanya Tuan Albert basa basi.


"Belum Tuan." Jawab Hendrik dengan jujur.


"Apakah Tuan Hendrik sudah mempunyai kekasih?" tanya Tuan Albert lagi.


"Sudah Tuan dan rencananya Saya akan melamar nya di depan orang tuanya. Memang kenapa Tuan?" tanya Hendrik balik bertanya.


"Oh sayang sekali." ucap Tuan Albert tanpa menjawab pertanyaan Hendrik.


"Memang kenapa Tuan Albert?" Tanya Hendrik dengan wajah bingung.


"Akhhh ... tidak apa - apa lupakan saja apa yang tadi Saya katakan." ucap Tuan Albert.


"Saya jadi penasaran Tuan, ada apa ya?" tanya Hendrik.


Tuan Albert menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap Hendrik.


"Ehem.. begini saya mempunyai putri satu - satunya dan berencana ingin menjodohkan dengan putriku dengan Tuan tapi karena Tuan sudah mempunyai calon istri saya terpaksa tidak jadi menjodohkannya." Ucap Tuan Albert dengan jujur.


"Apakah putri Tuan setuju dengan perjodohan ini?" tanya Hendrik penasaran.


"Awalnya tidak setuju karena sudah mempunyai kekasih tapi Saya bilang tidak salahnya untuk mencobanya dulu kalau tidak cocok bisa berteman dan akhirnya putriku menyetujuinya. Apakah Tuan tidak ingin mencobanya? Kalau cocok Tuan bisa menggantikanku menjadi CEO karena Saya ingin pensiun dan menikmati masa tuaku." Ucap Tuan Albert.


"Maaf Tuan, Saya tidak ingin menyakiti kekasihku." Ucap Hendrik dengan jujur.


"Bagus, ini yang paling Saya suka mempunyai seorang calon menantu yang tidak mengincar harta warisan karena itulah Saya ingin menjodohkan Tuan dengan putriku. Tapi karena Tuan sudah mempunyai kekasih maka Saya tidak jadi menjodohkannya dan Saya menghargai keputusan Tuan." ucap Tuan Albert


"Terima kasih atas pengertiannya." Ucap Hendrik.

__ADS_1


Tuan Albert hanya tersenyum dan di balas oleh Hendrik karena bagaimanapun dirinya juga menghormati orang yang lebih tua. Tidak berapa lama pesanan mereka datang kemudian mereka makan cemilan dan minum sambil mengobrol.


Tidak berapa lama mereka keluar dari lobby hotel dan Tuan Albert yang membayar pesanan mereka. Awalnya Hendrik menolaknya tapi Tuan Albert memaksanya untuk membayar dengan alasan jika ada waktu datang ke mansionnya sambil membawa kekasihnya dan Hendrik menyetujuinya karena Hendrik percaya Tuan Albert bukanlah orang jahat.


__ADS_2