
"Aku tidak apa - apa." Jawab Daddy Aberto sambil melawan mereka.
'Si*l ... Aku tidak bawa pengawal dan juga tidak bawa senjata." umpat Daddy Aberto dalam hati merutuki kebodohannya.
"Daddy, istirahat saja biar kami berempat yang melawan mereka." Ucap Dave dengan nada kuatir sambil melawan musuh - musuhnya.
"Daddy tidak bisa, lawan kita terlalu berat." Tolak Daddy Aberto sambil melawan rasa sakit karena punggungnya terkena tembakan dan berusaha melawan musuh - musuhnya.
Mereka berempat masih bertarung namun tidak berapa lama Daddy Aberto merasakan tubuhnya seperti berputar - putar, Tuan Abertos berusaha mendekati putranya sambil menghindar dan menyerang kembali musuh - musuhnya.
"Opa, tolong bantu Daddy, biar kami bertiga melawan mereka." Ucap David sambil masih menyerang dengan gerakan yang sangat lincah.
"Oke." Jawab Tuan Abertos dengan singkat.
Daddy Aberto akhirnya ambruk dan tidak sadarkan diri dan untunglah tubuhnya langsung di tangkap oleh Tuan Abertos sehingga tidak terjatuh. David yang melihat Tuan Abertos dan Daddy Aberto dalam bahaya dengan gerakan lincah langsung berlari dengan cepat mendekati mereka berdua kemudian memukul musuhnya dengan telak ketika ingin menusuk pisaunya ke tubuh Daddy Aberto.
Musuh itupun langsung ambruk tidak sadarkan diri dan di saat genting datang bantuan baik dari David kakak kembarnya Mommy Davina, sebagian keluarga besar Mommy Davina, anak buah David, Hendrik dan Maria serta anak buah Daddy Aberto..
"Hendrik, bantu angkat Aberto biar kami melawan mereka." Ucap David.
"Baik tuan muda." Jawab Hendrik.
"Dave, Daven dan David, kalian bertiga temani Daddy kalian." Ucap David.
"Baik Paman." Jawab ketiga anak kembarnya dengan serempak.
Hendrik dan Tuan Abertos mengangkat tubuh Daddy Aberto yang tidak sadarkan diri sedangkan Maria, Dave, Daven dan David berjalan mengikuti mereka sambil matanya menatap sekeliling untuk melihat apakah ada musuh datang menyerang atau tidak.
"Opa / Paman, pinjam pistol." Ucap Dave dan David dengan serempak.
"Untuk apa?" Tanya Tuan Abertos dan Hendrik dengan serempak juga.
"Nanti Opa / Paman akan tahu." Jawab Dave dan David dengan serempak.
"Sebentar." Ucap Tuan Abertos dan Hendrik dengan serempak juga.
__ADS_1
Tuan Abertos dan Hendrik mengambil pistol dari saku jasnya kemudian memberikan pistol tersebut ke Dave dan David.
"Hati - hati." Ucap Tuan Abertos dan Hendrik dengan serempak juga dengan wajah kuatir.
"Ok." Jawab Dave dan David dengan serempak.
"Kak Dave arah jam sepuluh dan David arah jam dua." Ucap Daven yang sejak tadi diam namun pandangan matanya bagaikan mata elang yang bisa melihat dari jarak lumayan jauh.
Tanpa banyak bicara Dave dan David mengarahkan pistol sesuai perkataan Daven hingga terdengar dua suara tembakan dan dua suara teriakan kematian. Hal itu membuat Tuan Abertos dan Hendrik menghentikan langkahnya karena sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Tuan Abertos dan Kak Hendrik, jangan menghentikan langkahnya. Ke tiga anak kembar memang hebat dalam hal berperang melawan para musuh." Ucap Maria.
Tuan Abertos dan Hendrik hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan langkahnya. Sampai di depan mobil Daddy Aberto diletakkan secara perlahan di belakang pengemudi di mana ke dua paha Nyonya Abertos di jadikan bantalan kepala Daddy Aberto.
Hendrik duduk di kursi pengemudi sedangkan Tuan Abertos duduk di kursi belakang pengemudi untuk Maria dan ketiga anak kembar menggunakan mobil satunya milik Hendrik.
Ke dua mobil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar mereka cepat sampai rumah sakit dan hanya membutuhkan waktu setengah jam mereka sudah sampai di rumah sakit.
Singkat cerita kini mereka sedang menunggu di ruangan ugd dengan perasaan kalut mengingat Daddy Aberto banyak mengeluarkan darah segar terlebih Daddy Aberto sejak tadi tidak sadarkan diri.
"Berdoalah agar Aberto selamat dan tidak mengalami luka serius." Ucap ibu mertuanya sambil memeluk menantunya dari arah samping dan mengusap punggungnya.
"Iya Mom." Jawab Mommy Davina sambil membalas pelukan ibu mertuanya.
"Mommy temani Dave, Daven dan David untuk istirahat di ruang perawatan VVIP biar Daddy dan Davina menunggu Aberto." Ucap Tuan Abertos.
"Baik, Dad." Jawab istrinya dengan patuh.
"Ayo cucu - cucu Opa dan Oma kita istirahat." Ajak Nyonya Abertos.
"Tapi Oma kami ingin menunggu Daddy." Ucap mereka bertiga dengan serempak.
"Kalian bertiga mengantuk nanti kalau Daddy sudah sadar opa akan membangunkan kalian bertiga." Ucap Tuan Abertos yang melihat ke tiga cucu kesayangannya menguap terus.
"Baik Opa." Jawab ke tiga cucunya dengan patuh.
__ADS_1
Akhirnya Nyonya dan ke tiga cucunya berjalan ke ruang perawatan VVIP untuk beristirahat tapi sebelumnya mereka membersihkan badannya terlebih dahulu kemudian mengganti pakaian mereka.
Ruang perawatan VVIP ini khusus untuk keluarga besar Tuan Abertos karena itulah mereka menyimpan semua pakaian milik Tuan Abertos, istrinya dan keluarga besar Daddy Aberto.
Tuan Abertos duduk berdampingan dengan menantunya sambil menatap ke arah pintu UGD dan sesekali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Istriku atau Mommy mertuamu waktu dulu melahirkan dua anak kembar anak pertama bernama Aberto yang sekarang menjadi suamimu dan yang ke dua Abertosa. Aberto lebih pendiam dan tidak pernah sedikitpun tersenyum beda dengan adiknya yang selalu murah senyum hanya saja Aberto lebih pintar dalam bidang semua mata pelajaran dan selalu juara pertama sedangkan adiknya hanya beberapa mata pelajaran saja dan kalau juara paling juara ke dua atau ke tiga." ucap tuan Aberto.
"Hingga pada akhirnya umur anak kembar kami menginjak dua puluh lima tahun. Sahabat Daddy datang dengan membawa istri dan putri mereka yang sangat cantik. Kami berempat berencana ingin menjodohkan dengan putra kami yang pertama dengan putri mereka tapi Aberto tidak setuju karena dirinya belum tertarik dengan lawan jenis sedangkan Abertosa sangat tertarik dengan gadis itu dan akhirnya kami menikahkan mereka." sambung Tuan Abertos.
Mommy Davina mengetahui masa lalu Daddy Aberto dari Nyonya Abertos dan kini Tuan Abertos juga menceritakan tentang masa lalu Daddy Aberto.
Namun Mommy Davina hanya diam mendengarkan mertuanya menceritakan tentang masa lalu suaminya terlebih selama ini suaminya belum pernah menceritakan tentang masa lalunya. Setiap di tanya selalu di jawab tidak ada yang menarik hanya belajar dan belajar.
"Dua tahun kemudian istrinya Abertosa melahirkan dua anak kembar yang sangat mirip dengan Abertosa sedangkan Aberto masih sibuk dengan pekerjaannya tanpa mau memikirkan tentang pernikahan." Ucap Tuan Abertos.
"Hingga Daddy dan Mommy berpikir apakah putraku sulit menemukan seseorang gadis yang benar - benar tulus mencintainya bukan karena kekayaan keluarga kami. Ketika kami menanyakannya katanya bukan itu tapi memang belum ada yang cocok." Sambung Tuan Abertos.
"Akhirnya Mommy dan Daddy menjodohkan lagi dengan sahabat sekaligus rekan bisnis. Awalnya menolak tapi karena Mommy sakit barulah Aberto setuju untuk tunangan tapi dengan satu syarat cukup keluarga inti tanpa ada acara pesta pertunangan hingga akhirnya kami bertemu denganmu." Ucap Tuan Abertos.
"Sebelum mengenalmu, putraku selalu bersikap dingin, tidak pernah tersenyum dan selama hidupnya tidak pernah dekat dengan seorang wanita manapun. Dari sekolah hingga lulus kuliah sampai putraku bekerja tidak pernah membawa seorang gadis atau wanita manapun." Sambung Tuan Abertos.
Tuan Abertos menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil masih menatap ke arah pintu UGD sambil berharap putra sulungnya baik - baik saja.
"Namun ketika pertama kali bertemu dengan ke tiga anak kembar dan kamu, Mommy dan Daddy baru melihat Aberto tersenyum bahagia dan bisa berdekatan denganmu. Apalagi Mommy dan Daddy baru tahu kalau ternyata anak kami mengalami alergi dan kamu adalah obatnya." Ucap Tuan Abertos.
"Aberto ternyata mengalami alergi di mana jika kulitnya bersentuhan dengan seorang gadis atau wanita maka kulitnya akan memerah dan gatal - gatal tapi ketika bersentuhan dengan dirimu maka alergi itu tidak bereaksi sedikitpun karena itulah kami sebut kamu adalah obat mujarab untuk anak kami." ucap Tuan Abertos mengakhiri ceritanya.
Mommy Davina hanya menganggukkan kepalanya terlebih dirinya sudah tahu dari Mommy mertuanya tapi dirinya tidak mungkin mengatakan ke Daddy mertuanya.
Tidak berapa lama ruang UGD terbuka Tuan Abertos dan Mommy Davina langsung berdiri dan mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putraku?" tanya Tuan Abertos dengan wajah kuatir.
"Bagaimana keadaan suamiku, Dok?" tanya Mommy Davina secara bersamaan.
__ADS_1
"Tuan Muda Aberto pelurunya sudah berhasil di ambil tapi maaf kami ..." Ucap dokter tersebut menggantungkan kalimatnya dengan wajah pucat pasi.