
"Maria." panggil Hendrik dengan wajah terkejut.
Maria hanya tersenyum sekilas kemudian memalingkan wajahnya ke arah samping dan berjalan ke arah Mommy nya. Maria mengecup punggung tangan Mommy nya dan dilanjutkan dengan Daddy nya. Maria duduk bersebrangan dengan ke dua orang tuanya yang hanya dibatasi oleh meja makan.
"Tuan Hendrik kenal dengan putriku?" tanya Tuan Albert.
"Kenal Tuan." Jawab Hendrik sambil duduk di samping Maria tapi Maria enggan menatap Hendrik.
"Tuan Hendrik kenal di mana?" tanya Tuan Albert.
"Panggil saja Hendrik Tuan. Saya kenal karena kebetulan Maria bersahabat dengan Nyonya Muda Aberto dan kebetulan Tuan Muda Aberto adalah bos saya." Jawab Hendrik menjelaskan.
Tuan Albert hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti sambil sesekali melirik ke arah putrinya dan Hendrik secara bergantian.
"Waktu itu Tuan Albert ingin menjodohkan putri Tuan dengan saya, apakah itu benar?" tanya Hendrik sambil meminum air mineral.
"Tentu saja benar. Putri semata wayangku yang bernama Maria yang berada di sampingmu akan dijodohkan denganmu. Tapi karena nak Hendrik sudah mempunyai kekasih jadi Saya membatalkan perjodohan. Saya akan menjodohkan putriku dengan teman bisnisku yang lainnya dan besok akan datang ke sini." Jawab Tuan Albert panjang lebar.
"Uhuk... uhuk... uhuk..."
Hendrik yang mendengar jawaban Tuan Albert langsung tersedak air yang diminumnya dan dalam hatinya mengutuk dirinya sendiri kenapa waktu itu tidak mencobanya dulu.
"Nak Hendrik kenapa?" tanya Tuan Albert dengan wajah kuatir.
"Apakah bisa dibatalkan perjodohannya?" tanya Hendrik tanpa menjawab pertanyaan Tuan Albert.
"Sebenarnya bisa kalau putriku membawa calonnya tapi sayangnya calonnya selingkuh jadi aku menjodohkan dengan anak teman bisnisku." Jawab Tuan Albert.
Hendrik memalingkan wajahnya ke arah Maria sambil menatap Maria dengan tatapan tajam.
"Memangnya siapa calonmu?" Tanya Hendrik dengan nada curiga sekaligus cemburu secara bersamaan.
"Pikir saja sendiri." Ucap Maria dengan nada kesal sambil mengambil nasi ke dalam piring karena ke dua orang tuanya sudah selesai mengambil nasi.
Hendrik mencoba mencerna ucapan Maria setelah beberapa lama akhirnya dirinya mengerti kenapa Maria menjadi seperti ini.
"Apa kamu menuduhku selingkuh?" Tanya Hendrik.
"Bukankah waktu itu Kak Hendrik bilang akan mencari penggantiku?" tanya Maria menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Pffftttt .... Hahahaha.... Aku bercanda darling, kenapa kamu anggap serius?" Tanya Hendrik sambil tertawa lepas.
"Bercandamu tidak lucu." Jawab Maria sambil mengambil makanan ke dalam piring.
Hendrik menggengam tangan Maria sambil menatap wajah Maria dengan tatapan bersalah karena telah membuat Maria marah.
"Maafkan Aku, jika bercandaku keterlaluan. Aku mohon menikahlah denganku." Ucap Hendrik dengan nada memohon.
"Maafkan Aku. Aku sudah menerima perjodohan orangtuaku, mungkin kita memang tidak berjodoh. Apa lagi kak Hendrik sangat tampan pasti banyak yang menyukai kak Hendrik seperti kak Hendrik cerita waktu itu." Ucap Maria sambil menarik tangannya.
"Apakah tidak ada kesempatan ke dua untukku?" tanya Hendrik dengan menatap Maria dengan tatapan sendu.
"Maaf ketika Kak Hendrik mengatakan hal itu, hatiku langsung tertutup untuk kak Hendrik." Jawab Maria.
"Baiklah semoga kamu bahagia." Ucap Hendrik.
"Maaf Tuan Albert. Saya baru ingat kalau hari ini ada rapat di perusahaan cabang." Ucap Hendrik sambil berdiri.
"Kenapa tidak makan dulu?" tanya Tuan Albert.
__ADS_1
"Maaf Tuan, kapan - kapan saja. Permisi Tuan, Nyonya dan Nona Muda Maria." Jawab Hendrik.
Hendrik sengaja mengubah panggilan seperti Maria yang telah merubah panggilan darling menjadi Kak Hendrik. Karena hatinya sangat terluka tapi dirinya berusaha untuk tersenyum.
"Baiklah, Aku tunggu kedatangan nak Hendrik." ucap Tuan Albert sambil menatap tajam ke arah Maria.
Hendrik melangkahkan kakinya ke arah pintu utama sedangkan Maria yang melihatnya langsung mengejar Hendrik dan memeluknya dengan erat dari arah belakang.
"Maafkan Aku darling. Aku hanya bercanda jadi Aku mohon jangan pergi." Ucap Maria dengan nada memohon.
"Bercandamu tidak lucu." Ucap Hendrik sambil melepaskan ke dua tangan Maria sambil membalikkan badannya dan menatap wajah cantik Maria.
"Maafkan Aku darling. Habis Aku kesal mendengar darling akan mencari penggantiku." Ucap Maria dengan mata berkaca - kaca.
"Akukan sudah minta maaf, kenapa kamu mempermainkan perasaanku?" tanya Hendrik sambil masih menatap wajah calon istrinya yang matanya sudah mulai berkaca - kaca.
Maria hanya diam mendengar pertanyaan Hendrik tapi air matanya sudah mulai keluar membuat Hendrik tersenyum kemudian menghapus air mata Maria dengan menggunakan ke dua ibu jarinya lalu memeluk Maria.
"Sudah lupakan, maafkan Aku." ucap Hendrik.
"Maafkan Aku juga." ucap Maria sambil membalas pelukan Hendrik.
"Ehem.." panggil Tuan Albert berupa deheman.
Hendrik dan Maria langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Tuan Albert dan istrinya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Tuan Albert tanpa basa basi.
"Maaf kata Tuan, Maria akan dijodohkan? Apakah perjodohannya akan dibatalkan?" tanya Hendrik penuh harap.
"Memang Aku akan menjodohkan Maria tapi denganmu apalagi kami sudah tahu kalau kalian merupakan pasangan kekasih." Jawab Tuan Albert sambil tersenyum begitu pula dengan istrinya.
"Dari Tuan Muda Aberto. Tuan Muda Aberto menceritakan semuanya tentang hubungan kalian melalui informasi dari putra geniusnya Dave, Daven dan David." Ucap Tuan Albert menjelaskan.
Hendrik sangat terkejut sekaligus terharu dengan anak majikannya yang perduli dengan dirinya.
"Sejak tadi kami menunggu kedatanganmu." Ucap Tuan Albert.
"Saya tahu kamu pasti bingung kenapa di suruh datang ke sini oleh ke dua putra Tuan Muda Aberto." Sambung Tuan Albert.
"Sekarang saya sudah mengerti, kenapa Tuan Muda Aberto dan ketiga anak kembarnya memintaku untuk datang ke sini." Ucap Hendrik.
"Karena kamu sudah jauh - jauh datang maka nanti malam kalian akan bertunangan di hotel xxxxxxx jam delapan malam. Sekarang nak Hendrik makan dan beristirahat di kamar yang sudah kami siapkan." ucap Tuan Albert.
"Tapi maaf Tuan, Saya belum menyiapkan semuanya. Jadi habis makan siang Saya dan Maria akan pergi ke mall untuk membeli cincin tunangan dan lain sebagainya." Ucap Hendrik.
"Tenang saja semua sudah dipersiapkan oleh Tuan Muda Aberto." Ucap Tuan Albert.
"Nak Hendrik dan Maria cukup datang ke hotel bersama kami." Ucap ibunya Maria yang sejak tadi diam.
Hendrik hanya diam membatu karena dirinya benar - benar sangat terkejut sekaligus terharu secara bersamaan dengan apa yang dilakukan oleh Daddy Aberto dan ke tiga anak kembar yang sangat perduli padanya. Membuat Hendrik berjanji dalam hati untuk setia walau nyawa menjadi taruhannya.
"Sudah jangan bengong, mari kita makan bersama." Ucap Tuan Albert sambil menepuk bahu Hendrik dengan pelan.
"Baik tuan." Jawab Hendrik sambil tersenyum bahagia.
"Sebentar lagi nak Hendri jadi menantuku jadi panggil dengan sebutan Daddy sama seperti putriku memanggilku." Ucap Tuan Albert.
"Baik Tuan... eh Daddy." Ucap Hendrik dengan gugup karena belum terbiasa.
__ADS_1
"Nak Hendrik juga harus memanggilku dengan sebutan mommy." Jawab mommynya Maria.
"Baik Nyo ... eh Mommy." Jawab Hendrik sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Hati Hendrik sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh ke dua orang tua Maria karena sangat baik dan mau menerima dirinya apa adanya.
Ketakutan yang dulu kini sudah tidak ada lagi karena orang tuanya Maria mau menerima dirinya membuat hati Hendrik sangat bahagia dan kini sudah tidak ada lagi halangan untuk mereka menikah dan hidup bahagia selama - lamanya sampai ajal memisahkan mereka.
Merekapun berjalan ke ruang makan untuk makan bersama, selama makan mereka diam dan tidak ada satupun yang berbicara. Selesai makan orang tua Maria berjalan menuju ke kamarnya untuk istirahat.
Sedangkan Maria mengantar Hendrik menuju ke kamar tamu. Sampai di depan pintu ruang tamu, Maria membuka pintu kamar tamu dan masuk ke dalam kamar tamu diikuti oleh Hendrik.
"Darling ini kamarnya, pakaian darling simpan saja di dalam lemari." Ucap Maria.
"Nanti saja Aku simpan apalagi kopernya masih ada di dalam mobil." Ucap Hendrik sambil memeluk Maria dari arah belakang karena posisi Maria membelakangi Hendrik.
"Darling, apa yang darling lakukan?" Tanya Maria dengan wajah terkejut.
'Darling, Aku kangen banget sama kamu.' bisik Hendrik kemudian mencium leher Maria dengan lembut.
"Darling Ahh.. Jangan di buat merah nanti malam kita akan bertunangan." Ucap Maria sambil mengeluarkan suara merdunya.
"Tenang darling." Ucap Hendrik sambil mendorong tubuh Maria ke arah ranjang kemudian menaikinya.
"Darling." panggil Maria sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher Hendrik.
'Kakak janji tidak lebih dari ini.' bisik Hendrik sambil memainkan ke dua gunung kembar milik Maria.
Maria menganggukkan kepalanya sambil menikmati sentuhan Hendrik yang membuat tubuhnya menginginkan lebih. Hendrik hanya mencium bibir dan leher setelah itu menggulinggkan tubuhnya ke arah samping karena takut dirinya tidak ingin merusak Maria.
"Secepatnya kita menikah jadi kita bisa melakukan lebih dari ini." Ucap Hendrik sambil mengecup bibir Maria kemudian memeluknya
Maria hanya menganggukkan kepalanya dan dada bidang Hendrik di jadikan bantalan oleh Maria dan tangan kanannya memeluk tubuh kekar kekasihnya.
Tidak berapa lama mereka pun tertidur dengan pulas kalau Maria lelah karena kurang istirahat sedangkan Hendrik lelah karena dirinya kurang tidur memikirkan Maria yang tiba - tiba menghilang.
Tidak terasa hari sudah sore, Maria perlahan membuka matanya dan melihat kekasihnya masih setia memejamkan matanya.
"Aku tidak sabar ingin menikah denganmu karena Aku sangat mencintaimu." ucap Maria sambil tersenyum bahagia.
"Aku juga tidak sabar ingin menikah denganmu karena Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Hendrik sambil tersenyum dan membuka matanya.
"Maaf mengganggu tidurmu." ucap Maria tidak enak hati dan merasa bersalah.
"Aku juga sudah bangun jadi santai saja. Oh iya menurutmu bagaimana kalau kita menikah menunggu Nyonya Muda Davina sembuh dari luka - lukanya? Karena Tuan Muda Aberto pasti sangat sibuk mengurus istri dan ke tiga anak kembarnya." ucap Hendrik.
"Tidak apa - apa darling terlebih Aku juga belum bisa menikah dengan darling karena sahabat baikku belum sembuh dari luka - lukanya." Ucap Maria.
"Terima kasih darling, Aku sangat bersyukur mempunyai kekasih yang pengertian." ucap Hendrik kemudian mengecup bibir kekasihnya dengan singkat.
"Sudah sore darling, Aku akan ke kamarku karena nanti malam kita akan bertunangan." Ucap Maria sambil melepaskan pelukannya
"Baiklah." Jawab Hendrik sambil melepaskan pelukannya.
Maria turun dari ranjang kemudian berjalan keluar dari kamar Hendrik menuju ke kamarnya yang kebetulan kamarnya bersebelahan dengan kamar Hendrik. Setelah agak lama Hendrik baru keluar dari kamar menuju ke garasi mobil untuk mengambil kopernya.
Singkat cerita kini Maria dan Hendrik resmi bertunangan. Hendrik sama sekali tidak mengira kalau orang tua Daddy Aberto, Daddy Aberto bersama ke tiga anak kembar yang sangat tampan datang menghadiri acara pertunangan mereka.
'Tertawalah sepuas hati kalian karena setelah ini hanya ada air mata kesedihan.' ucap wanita tersebut dalam hati sambil tersenyum devil.
__ADS_1