
"Saya tidak akan mengatakannya." Ucap pelayan itu sambil membalas tatapan Tuan Abertos tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Adegan kekerasan jangan di tiru kalau tidak suka skip saja.
"Baiklah kalau itu maumu, pengawal cabut salah satu kukunya!" Perintah Tuan Abertos dengan nada dingin tanpa punya rasa empati sedikitpun.
"Baik Tuan Besar." Jawab salah satu anak buahnya dengan patuh.
Anak buahnya mengambil benda berupa tang dan menarik kuku ibu jari kaki pelayan itu.
"Akhhh ...... Sakitttttttt..." teriak pelayan itu kesakitan ketika kuku ibu jarinya terlepas hingga darah segar keluar.
Daddy William hanya duduk sambil menatap tanpa ada perasaan empati sedikitpun karena pelayan itu telah menyakiti putrinya hingga putrinya mengalami koma.
"Siapa yang memerintahkan mu?" tanya Tuan Abertos dengan nada dingin.
"Aku tidak akan memberitahukanmu." Ucap pelayan itu bersikeras sambil menahan rasa sakit.
"Pengawal!!!" teriak Tuan Abertos dengan nada dingin dan wajahnya yang sangat menakutkan.
"Akhhh ...... Sakitttttttt..." teriak pelayan itu kembali.
"Siapa yang memerintahkan mu?" tanya ulang Tuan Abertos dengan nada dingin.
"Tapi Tuan Besar harus janji bebaskan Saya." mohon pelayan itu dengan wajah ketakutan dan menahan rasa sakit luar biasa.
"Katakan siapa yang memerintahkan dirimu?" tanya Tuan Abertos mengulangi perkataannya.
"Baik, yang menyuruhku adalah Nona Valentina Microwife." ucap pelayan itu sambil meringis merasakan sakit yang luar biasa pada tangannya.
"Valentina Microwife?" tanya ulang Tuan Abertos dengan nada dingin.
"Apa Valentina Microwife?" Tanya Daddy Wiliam sambil berdiri dengan wajah terkejut dan berdiri sekaligus menatap ke arah pelayan tersebut dengan tatapan tajam.
__ADS_1
'Valentina Microwife adalah adik dari Ririn, orang yang telah menjebak putriku dan Aku belum membalaskan dendamku untuk menghancurkan wanita itu karena tiba-tiba menghilang. Kenapa Valentina Microwife mencelakai putriku?' Tanya Daddy William dalam hati.
"Tembak pelayan itu." Ucap Daddy William dengan nada dingin sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Tuan Abertos hanya menganggukkan kepalanya ke arah anak buahnya kemudian anak buahnya mengarahkan pistolnya ke arah pelayan tersebut.
"Tuan, Tuan Besar sudah janji padaku akan bebaskan Saya. Jika Saya mengatakannya jadi Saya mohon tolong bebaskan Saya." mohon pelayan itu dengan wajah yang sangat ketakutan.
"Memang benar tapi ... Aku membebaskan dirimu tapi membebaskan dari dunia ini." Ucap Tuan Abertos sambil tersenyum menyeringai.
"Tuan Besar, kenapa Tuan Besar ingkar janji!!!" teriak pelayan itu.
Tuan Abertos menulikan telinganya dan tetap melanjutkan langkahnya dengan diikuti oleh Paman Hendrik menyusul Daddy Wiliam yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Tidak berapa lama terdengar suara tembakan dan teriakan kesakitan tapi Tuan Abertos dan Paman Hendrik tidak mempedulikan sama sekali karena itu hukuman yang pantas buat pelayan itu.
"Hendrik, kamu tangkap gadis itu dan siksa sampai mati." ucap Tuan Abertos dengan nada dingin sambil melangkahkan kakinya menuju ke luar mansion di mana Daddy William sedang menunggunya.
"Baik Tuan Besar." Jawab Paman Hendrik dengan patuh sambil mengikuti Tuan Abertos dari arah belakang.
"Valentina Microwife adalah adik dari Ririn, orang yang telah menjebak Nona Davina yang sekarang menjadi Nyonya Aberto. Ririn bekerja sama dengan mantan kekasih Nyonya Aberto untuk menjebak Nyonya Aberto dan akhirnya Tuan Besar tahu kelanjutannya." Ucap Paman Hendrik.
"Katamu Ririn, kalian jual di tempat pelacuran karena telah mengusik menantu kesayanganku tapi kenapa gadis itu bisa kabur?" tanya Tuan Abertos sambil menahan amarahnya.
"Saya juga tidak tahu tuan besar tapi saya akan segera menyelidikinya." Jawab Paman Hendrik.
"Pantas saja ketika keluarga besar Kami ingin membalaskan dendam ke mereka berdua tapi tidak ada kabarnya." Ucap Daddy William yang tiba - tiba datang entah darimana.
Tuan Abertos dan Paman Hendrik menatap ke arah Daddy William yang sedang berjalan ke arah Mereka.
"Maaf setelah kejadian malam itu, putraku mencari Davina yang tiba - tiba menghilang namun putraku tidak menemukan Davina. Putraku hanya tahu siapa pelakunya kemudian menangkap mereka berdua dan menjual wanita itu sedangkan prianya di tembak mati oleh putraku karena sudah tega berbuat jahat dengan Davina." Ucap Tuan Abertos menjelaskan apa yang terjadi.
"Tidak apa - apa karena yang terpenting pria itu sudah mati. Lalu di mana mayatnya?" Tanya Daddy William penasaran karena keluarga besarnya tidak menemukan jejak sama sekali.
__ADS_1
"Mayatnya langsung di buang di kandang macan agar tidak ada jejak." Jawab Tuan Abertos.
Daddy William hanya menganggukkan kepalanya kemudian Mereka berdua berjalan ke arah mobil.
"Oh ya, apa kita meminta bantuan cucu kita Dave? Karena saat ini putraku sedang terluka jadi Kita hanya bisa meminta bantuan Dave, kan Dave pintar IT." ucap Tuan Abertos tiba - tiba memberikan usulan.
"Keluarga besarku juga akan mencari wanita jahat itu dan jika sudah menemukannya harus di siksa sampai mati." ucap Daddy William sambil menahan amarahnya.
"Aku setuju sekali. Aku juga akan memerintahkan anak buahku untuk mencarinya, mana yang lebih cepat karena gadis itu harus segera di tangkap." Ucap Tuan Abertos yang juga menahan amarahnya.
"Oke." Jawab Daddy Wiiliam dengan singkat.
Paman Hendrik hanya terdiam mendengarkan Mereka berdua berbicara, dirinya kosentrasi mengendarai mobil menuju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang.
Tiga puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Tuan Abertos dan Daddy William masuk ke dalam ruang perawatan VVIP diikuti oleh Paman Hendrik dari arah belakang. Tampak Daddy Aberto sedang menatap kedatangan Tuan Abertos dan mertuanya Daddy William secara bergantian.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tuan Abertos dan Daddy William dengan serempak.
"Baik Dad." Jawab Daddy Aberto dengan nada lirih.
"Oh ya Daddy dan Daddy Aberto, apakah sudah megetahui siapa pelakunya?" Tanya Daddy Aberto sambil menahan amarahnya.
"Sudah, pelakunya adalah Valentina Microwife." Jawab Tuan Abertos.
"Valentina Microwife? Siapa Valentina Microwife?" Tanya Daddy Aberto.
"Valentina Microwife adalah adik dari Ririn, orang yang telah menjebak putriku." Jawab Daddy William yang menjawab pertanyaan menantunya.
"Apakah Davina sudah sadar?" tanya Tuan Abertos.
"Belum Dad kata Mommy, istriku..." ucap Daddy Aberto menggantungkan kalimatnya karena dirinya tidak sanggup untuk mengatakannya.
"Daddy tahu, kamu berdoa saja agar istrimu segera sadar." Ucap Tuan Abertos sambil menepuk bahu putra sulungnya.
__ADS_1
"Iya Dad." jawab Daddy Aberto.
"Mommy dan ke tiga cucuku kemana?" tanya Tuan Abertos yang tidak melihat istri dan ke tiga cucunya.