
("Kami bosan Daddy, jadi kami meminta paman Hendrik untuk menemani kami jalan - jalan keliling kota." Jawab Daven terpaksa berbohong).
("Bagaimana kalau besok kalian bertiga jalan - jalan sama Daddy dan Mommy?" tanya Daddy Aberto).
("Besok kami pergi sama opa dan oma." Ucap Daven menjelaskan ke Daddy Aberto).
("Kalau begitu kita pergi bersama - sama." Usul Daddy Aberto).
("Pergi kemana Dad?" Tanya Daven).
("Kita liburan ke villa." Jawab Daddy Aberto).
("Benarkah Daddy kita liburan keluarga?" tanya Daven sambil tersenyum bahagia).
("Benar sayang kita akan liburan bersama keluarga besar Kita." Jawab Daddy Aberto).
("Terima kasih Daddy karena dari dulu kami ingin liburan bersama satu keluarga." ucap Daven).
("Maafkan Daddy sayang." ucap Daddy Aberto dengan nada sedih dan merasa bersalah).
("Tidak apa-apa Daddy, kapan Daddy dan Mommy pulang?" tanya Daven mengalihkan pembicaraan agar Daddy Aberto tidak sedih lagi).
("Hari ini kami akan pulang sayang, kalian jangan lama - lama perginya." ucap Daddy Aberto yang masih merindukan ke tiga anak kembarnya).
("Baik Daddy." Jawab Daven dengan patuh).
("Anak pintar. Oh iya mana Paman Hendrik? Daddy ingin bicara dengan Paman Hendrik." ucap Daddy Aberto).
("Sebentar Daddy." ucap Daven).
("Paman Hendrik, Daddy ingin bicara dengan paman." ucap Daven sambil memberikan ponselnya ke paman Hendrik).
("Kak Dave dan David, Daddy mengajak kita besok liburan ke villa." ucap Daven sambil tersenyum bahagia).
("Horeee liburan keluarga." ucap David kegirangan karena baru kali ini bisa merasakan liburan keluarga secara lengkap).
Sedangkan untuk Dave walau dirinya sangat bahagia tapi karena sifat dinginnya hanya diam saja tanpa merespon ucapan adik kembarnya yang bernama Daven.
__ADS_1
("Hendrik jika urusan selesai bawa ke tiga anakku pulang." ucap Daddy Aberto yang mendengar suara tawa David karena liburan keluarga).
("Baik tuan." Jawab Hendrik dengan patuh).
tut tut tut tut tut
Daddy Aberto langsung mematikan sambungan komunikasi secara sepihak. Hendrik pun menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya dan melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan milik ke tiga anak kembar yang baru dibelinya.
"Paman, hari ini kita adakan meating dengan para karyawan." Ucap Dave dengan nada dingin.
"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Hendrik dengan patuh.
"Oh iya paman sebelum meating tolong minta laporan keuangan selama tiga bulan." ucap Daven.
"Baik Tuan Muda Kecil." Jawab Hendrik dengan patuh.
"Nanti di depan lobby kita akan di sambut oleh wakil CEO, mereka tahunya kalau paman adalah pemilik CEO." ucap Dave menjelaskan.
"Kenapa bisa begitu Tuan Muda Kecil?" tanya Hendrik dengan wajah terkejut.
"Karena kami mengirimkan foto paman Hendrik kalau paman Hendrik adalah pemilik perusahaan begitu pula dengan Paman David karena tidak mungkin jika kami sebagai CEO karena kami masih anak-anak." Jawab Dave dengan nada dingin dan datar.
"Paman ngomongin aku di dalam hati, ya?" tanya Dave.
"Ah... tidak Tuan Muda Kecil." jawab Hendrik sambil tersenyum kikuk.
'Kenapa bisa tahu kalau aku omongin ya? Apakah Tuan Muda Kecil Dave punya Indra ke enam sama seperti Tuan Muda Aberto?" tanya Hendrik dalam hati.
"Paman jangan bohong padaku karena aku tahu kalau paman berbohong dan aku juga tahu kalau paman ngomongin aku lagi." ucap Dave dengan nada masih dingin.
"Eh itu..." ucap paman Hendrik menggantungkan kalimatnya.
"Aish.. Kak Dave, sifat Kakak mirip sekali dengan Daddy dingin dan datar." ucap David dengan nada kesal.
"Tahu nih Kak Dave. Kasihan Paman Hendrik jadi bingung jawabnya. Maafkan kakak kami paman memang sifat kakak seperti ini dingin dan datar mirip Daddy." sambung Daven.
xxxxxxxxxxxx
__ADS_1
Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di hotel di mana Daddy Aberto memeluk tubuh istrinya yang habis mandi setelah dirinya selesai menghubungi ke tiga putra kembarnya dan asisten setianya.
"Telepon dari siapa Dad?" Tanya Mommy Davina sambil menyandarkan tubuhnya ke arah dada bidang suaminya.
"Oh tadi Daddy habis telepon Hendrik dan ketiga anak kita." Jawab Daddy Aberto.
"Bagaimana kabar anak - anak Kita Dad?" Tanya Mommy Davina yang sangat merindukan ketiga anak kembarnya.
"Baik - baik saja, setelah satu ronde baru kita ....(tiba- tiba hidungnya terasa gatal) ... Hatciuh .... Hatciuh .... baru ..... Hatciuh ....pulang." ucap Daddy Aberto sambil menggosok hidungnya yang gatal.
"Kata orang jika bersin - bersin ada yang ngomongin Daddy." Ucap Mommy Davina sambil tersenyum.
"Siapa orang yang ngomongin Daddy?" Tanya Daddy Aberto penasaran.
"Mana Mommy tahu." Jawab Mommy Davina.
"Mungkin itu hanya mitos saja, ayo sayang satu ronde lagi setelah itu Kita pulang." Ucap Daddy Aberto sambil menarik tangan istrinya kemudian mendorongnya ke arah ranjang.
Mereka pun melakukan hubungan suami istri hingga terdengar suara merdu keluar dari mulut mereka berdua.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kita kembali di mana Dave sangat kesal dengan ucapan adik kembarnya membuat Dave menatap tajam ke adiknya yang bernama Daven sedangkan yang di tatap bersikap biasa saja tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Tidak apa - apa Tuan Muda Kecil." Jawab Hendrik sambil tersenyum.
Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di perusahaan. Ke tiga anak kembar dan Paman Hendrik turun dari mobil kemudian ke tiga anak kembar berjalan ke arah depan dan diikuti oleh paman Hendrik dari arah belakang, mereka berjalan memasuki lobby perusahaan.
"Selamat pagi tuan." Sapa wakil CEO dengan hormat.
"Pagi, tunjukkan ruangan CEO." ucap Hendrik.
"Baik tuan." Jawab wakil CEO dengan patuh.
Merekapun berjalan ke arah pintu lift khusus petinggi kemudian wakil CEO menekan tombol lift dan tidak berapa lama pintu lift terbuka lalu mereka berlima masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
"Maaf tuan apakah ketiga anak kembar ini adalah anak Tuan?" tanya wakil CEO sambil menekan tombol dua puluh lima tempat ruangan CEO.
__ADS_1
'Tapi sepertinya bukan karena wajahnya berbeda, mungkin ponakan.' Sambung wakil CEO dalam hati.
'Waduh, apa yang harus Aku katakan? Kalau Aku katakan yang sebenarnya yang ada pria itu curiga karena kan Aku pemilik perusahaan jika aku berbohong dengan mengatakan kalau ke tiga Tuan Muda Kecil ini adalah putraku kan wajahnya tidak mirip di kira Nyonya Muda Davina selingkuh. Aduh bikin Aku pusing.' Ucap Hendrik dalam hati.