
Setelah itu mereka terdiam lagi hingga satu jam tiga puluh lima menit menunggu akhirnya pintu ruangan UGD terbuka dan tampak wajah dokter itu sangat lelah. Tuan Abertos, Daddy William dan David yang sejak tadi terdiam begitu pula dengan paman Hendrik langsung berdiri dan mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putra / putriku, menantu dan Maria, Dok?" tanya Tuan Abertos dan Daddy William secara bersamaan.
"Tuan Muda Besar sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan lukanya tidak terlalu serius." Jawab dokter tersebut.
"Begitu pula dengan Nona Maria hanya saja ...." Ucap dokter tersebut menggantungkan kalimatnya.
"Hanya saja apa?" Tanya Daddy William.
"Katakan dengan jelas." Ucap Tuan Abertos bersamaan tapi beda ucapan.
Dokter tersebut menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian menatap mata Tuan Abertos dan Daddy William secara bergantian.
"Nyonya Aberto mengalami koma dan akan dipindahkan ke ruang ICU karena ada beberapa tulang yang patah dan retak karena Nyonya Aberto memeluk memeluk tubuh suaminya sebagai tamengnya." Jawab dokter tersebut menjelaskan.
"Apa??" teriak Daddy William,Tuan Abertos dan David bersamaan dengan wajah terkejut begitu pula dengan Hendrik.
Tubuh Daddy William terhuyung mendengar ucapan dokter dan untunglah Tuan Abertos dan putranya yang bernama David menahan tubuh Daddy William karena kalau tidak, bisa dipastikan Daddy William akan terjatuh.
"Tolong selamatkan putriku / menantu saya dokter." Mohon Daddy William dan Tuan Abertos bersamaan.
__ADS_1
Baru kali ini Mereka memohon dengan seseorang karena keluarga besarnya mengajarkan untuk tidak memohon dengan orang lain. Hal itu membuat dokter dan Paman Hendrik sangat terkejut mendengar ucapan Daddy William dan Tuan Abertos karena mereka berdua mengenal siapa itu Daddy William dan Tuan Abertos.
"Baik Tuan Besar. Kami akan berusaha agar dapat menyembuhkan Nyonya Aberto." Jawab dokter tersebut.
"Oh ya, mohan maaf tuan ... Saya permisi dulu." Pamit dokter tersebut dengan hormat.
Daddy William, Tuan Abertos dan Paman Hendrik hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Tidak berapa lama pintu ruang ugd terbuka dua orang perawat mendorong brankar di mana Daddy Aberto sedang berbaring dengan beberapa tubuh berbalut perban dan masih memejamkan matanya kemudian di susul Maria yang tubuhnya yang juga beberapa yang di perban. Ke duanya langsung di dorong di ruang perawatan VVIP.
Terakhir Mommy Davina dengan tubuh berbalut perban seperti mumi hanya mulut, lubang hidung dan mata yang tidak di tutup. Tubuhnya di penuhi alat selang dan di dorong oleh dua perawat menuju ke ruang ICU.
"Aku akan melihat menantu dan putraku setelah itu barulah kita ke markas." Ucap Tuan Abertos dengan aura membunuh berbicara dengan asisten putranya.
"Baik Tuan." Jawab Paman Hendrik dengan patuh.
"Aku ikut." Ucap Daddy William dan David bersamaan.
Tuan Abertos hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka bertiga pergi ke arah ruang icu untuk melihat keadaan Mommy Davina. Mereka melihat Mommy Davina masih setia memejamkan matanya.
'Walau aku baru mengenal dirimu tapi aku bahagia kamu menjadi menantuku karena kamu berhasil membuat putraku tersenyum bahagia dan juga kamu memberikan tiga cucu kembar yang sangat tampan dan genius. Terima kasih telah melindungi putraku tapi aku mohon cepatlah sadar karena aku tidak ingin putraku sedih jika melihatmu belum sadar. Aku berjanji akan memberikan perhitungan untuk orang - orang yang telah berani menyakiti putraku dan juga putri kesayanganku karena kamu sudah kami anggap sebagai putri kami.' ucap Tuan Abertos dalam hati sambil menatap wajah menantunya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Tuan Abertos memegang tangan menantunya dengan dada terasa sesak karena melihat sekujur tubuh menantunya terbalut perban dan banyak selang yang menempel di tubuh menantu kesayangannya.
'Daddy akan membalaskan orang - orang yang telah berani menyakiti keluargaku khususnya dirimu karena kamu adalah putri kecil kesayangan Daddy yang selalu patuh terhadap orang tua.' ucap Daddy William dalam hati sambil menyentuh bahu putrinya yang ditutupi oleh perban.
'Maafkan Kakak karena tidak bisa menjagamu lain kali Kakak akan lebih memperhatikanmu.' ucap David dalam hati sambil menatap wajah adik kembarnya dengan tatapan sendu.
Setelah hampir lima belas menit satu persatu mereka keluar dari ruangan tersebut sambil menahan rasa kesedihan dan marah dalam waktu bersamaan.
"David." Panggil Daddy William.
"Iya Dad." Jawab David.
"Jaga adikmu. Daddy dan besan akan pergi kalau ada apa - apa kabari kami." Ucap Daddy William.
"Baik Dad." Jawab David dengan patuh.
David sebenarnya ingin memberikan pelajaran ke orang - orang yang telah berani menyakiti adik kesayangannya tapi dirinya tidak berani menolak permintaan Ayahnya.
"Oh ya Hendrik, Kamu hubungi dua orang bodyguard kepercayaan untuk menjaga menantu kesayanganku di luar dan tangkap orang - orang yang mencurigakan." Ucap Tuan Abertos.
"Baik Tuan." Jawab Paman Hendrik dengan patuh.
__ADS_1