
Betapa terkejutnya Himawari saat melihat kedua orangtuanya tergeletak dilantai ruang tamu bersibah darah,tanpa sadar Himawari menjatuhkan jus yang dia bawa selain itu dia juga melihat dua pria yang memegang senjata.
Himawari pun segera mengeluarkan pistol dan belatinya,Himawarj menyembunyikan belatinya dibelakang badannya,dan mengarah pintol kearah kedua pria itu.
"Apa yang kalian lakukan kepada orang tuaku" Bentak Himawari yang berusaha menahan airmatanya.
Kedua pria tersebut kaget lalu berdiri dan menoleh kearah Himawari,Himawari yang berdiri disana seketika kaget saat mengetahui yang menyakiti orangtuanya ternyata "kak Danta,Zian" Ucap Himawari.
Zian dan Danta menjatuhkan senjatanya dan Himawari melihat baju mereka berdua penuh akan warna merah darah.
"A-apa yang terjadi disini,oh iya apakah kalian menyelamatkan orangtuaku"Ucap Himawari yang berusaha tersenyum.
Namum Zian dan Danta hanya diam dan melihat Himawari yang mencoba menahan tangisnya.
"KATAKANNN!!,atau aku membunuh kalian" Bentak Himawari lalu menekan tombol peletupnya.
"Te-tenanglah Hima,i-ini" Belum selesai Zian menjawab pertanyaan Himawari,Danta langsung meyela "kami membunuh orang tuamu".
"Danta" seru Zian dengan kaget dengan Ucapan Danta.
"Apa?,t-tidak mungkin kalian akan membunuh,kalian"Ucap Himawari dengan terbata-bata,lalu mencoba tersenyum.
"Ya benar kami membunuh orangtuamu"Jawab Danta tanpa rasa ragu.
Seketika itu Himawari langsung emosi "pembunuh!!!,pergi kalian" Bentak dengan tatapan tajam.
"Hima,kami bisa jelaskan" Ucap Zian dengan putus asa.
"Oh iya ini yang dimaksud kepentingan keluarga,yaitu dengan membunuh keluarga" Pekik Himawari dengan tatapan tajam.
"Hima tenanglah" Ucap Zian untuk menenangkan Himawari.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang disaat orang yang kusayangi membunuh orang tuaku sendiri" Bentak Himawari.
"(Orang yang kau sayang..)" Batin Zian.
__ADS_1
"Pergilah kalian para pembunuh,pergilah kalian dari rumahku,kalian begitu picik" Ucap Himawari dengan amat kasar.
"Ta-tapi Hima" Jawab Zian, "pergi kalian para pembunuh!!!" Bentak Himawari.
Akhirnya Zian dan dan Danta pergi keluar dengan melewari Himawari,Zian melihat Himawari memegang pistol ditangan kanan kirinya dan melihat belati yang dia berikan ditangan kanannya,mereka pun keluar rumah.
Himawari langsung menjatuhkan kedua senjatanya lalu mengampiri kedua orang tuanya yang telah tiada,Himawari melihat kedua orang tuanya tanpa berkedip sama sekali.
"Ma bangun,aku lapar,pah ayo pergi main" Ucap Himawari yang berusaha tersenyum sambil menggoyangkan badan kedua orangtuanya.
"Bangun ma,kakiku terluka" Ucap Himawari sambil menunjukkan lukanya "lihat ma,sakit rasanya" Sambung Himawari.
Namun tidak ada Jawaban dari kedua orang taunya "akan aku panggilkan ambulan,kalian tenanglah" Ucap Himawari untuk menghibur dirinya sendiri.
"Hima..,apa yang terjadi?" Tanya Kara yang begitu kaget melihat kedua orangtuanya tergeletak dilantai,lalu menghampirinya dan betapa terkejutnya Kara melihat orangtuanya bersimbah darah.
Sontak Kara pun terjatuh disamping Himawari karena tidak tahan melihat orangtuanya "apa yang terjadi Hima!!" Bentak Kara dengan putus asa.
"Tak apa kak,mereka masih bernafas bukan,aku sudah menelepon ambulan" Jawab Himawari yang berusaha melebarkan senyumannya.
"Maaaa!!!!,papaaaa!!!!!, bangunlah" Ucap Himawari sambil menangis.
Kara pun memeluk erat adikknya yang sedang menangis "mereka hanya tertidur Hima,tenanglah" Jawab Kara yang mencoba tegar.
Tak lama kemudian ambulanpun datang dan jasad orangtua Himawari dibawa kerumahsakit untuk diperiksa lebih lanjut.
...**...
Keesokan harinya jasad kedua orangtua Himawari dikebumikan berdampingan dengan makam kakeknya.
Air mata Himawari telah dia keluarkan semuanya kemarin,kini yang ada dalam dirinya hanya dendam terhadap Zian dan Danta.
"(Aku pastikan akan membunuh kalian)" Batin Himawari dengam penuh amarah sambil melihat makam kedua orangtuanya.
Himawari pun belutut dan mengusap batunisa milil kedua orangtuanya "Hima akan pulang,bahagialah kalian disana,jangan lupakan Hima" Ucap Himawari,lalu pergi dari makam.
__ADS_1
Sesampai dirumah Himawari langsung pergi kedalam kamar lalu duduk ditepi ranjang dan dia melihat dua senjata miliknya tergeletak diatas meja samping bunga matahari miliknya.
Himawari mengambil kedua senjata tersebut lalu melihat kedua senjata tersebut dengan hasrat membunuh "aku pastikan akan membunuh kalian" ujar Himawari sambil menatap tajam dua senjata tersebut.
...**...
"Prok prok prok"
Suara tepuk tangan dari tuan Francisco atau ayah dari Rangga,Zian dan Danta,sebagai bentu rasa puas.
"Bravo,kalian berdua hebat" Puji ayah didalam ruang kerjanya.
Zian dan Danta hanya diam terpaku dan sesekali menatap tajam mata ayahnya "kalian hebat,bisa membunuh tampa bantuan anak buah kalian" Ucap ayah lalu menuangkan wine kegelas "cirss" Sambung ayah lalu meminumnya.
"Hai om.."Sapa Gladis yang baru masuk keruangan, "hai Gladis mari ikut kami minum" Ucap ajah sambil mengacungkan gelasnya.
"Tidak om,melihat anda bahagia saya sudah puas" Jawab Gladis sambil duduk dikursi dan senyum miring.
"(Gadis rubah)"seru Danta dari dalam hatinya, "aku pastikan akan membunumu" Ancam Zian sambil menatap tajam Gladis.
"Tenanglah Zian" Jawab Gladis sambil tertawa, "abaikan kedua anak itu" Sahut ayah sambil menaikkan satu alisnya keatas.
Gladispun berdiri dan berjalan kearah ayah lalu menungkan wine kegelas lalu memberikannya le ayah "minumlah tuan,mari kita rayakan kemenangan ini".
Ayah menerima wine tersebut "terimakasih Gladis " Ucap ayah lalu meminumnya.
"(Minumlah tuan,berkat dirimulah rencana Balas dendamku tercapai dengan sangan sempurna tanpa aku harus bersusah payah melakukannya)"Batin Gladis sambil tersenyum miring.
"Kalian bersiap-siaplah sebentar lagi kita berangkat kebandara"perintah ayah.
Lalu mereka bertiga bersiap-siap,pergi kebandara dan memasuki pesawat.
Sebelum memasuki pesawat Zian menoleh kebelakang "(maaf Hima)"Batin Zian dengan rasa bersalah dan masuk kedalam pesawat.
Mereka bertiga pun berangkat keBelanda bersama.
__ADS_1