Sunflower Girl

Sunflower Girl
Halaman 61.S2


__ADS_3

"Kak Danta" hardik Himawari yang melihat Danta didepannya dengan mengenakan setelan jas biru tua.


"Ya Hima ini aku" ucap Danta dengan tersenyum.


"Bisa-bisanya kau masih bisa tersenyum saat melihatku"


ujar Himawari dengan tatapan tajam "ayo Ichi kita pergi" sambung Himawari lalu pergi masuk kedalam restoran,Ichiro yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa dia hanya bisa diam,namun dia paham perasaan Himawari.


"Kalian dari mana saja,makanan sudah siap" ucap Janu yang sedang menunggu.


"Kami hanya bermain-main sebentar" jawab Himawari lalu menurunkan Ichiro dan duduk.


"Papa,Ichi minta maaf ya,Ichi calah" ucap Ichiro sambil menundukkan kepalanya.


"Iya,papa juha minta maaf ya,sini peluk papa dulu" jawab Janu sambil membuka lebar tangannya,dan Ichiro pun memeluk Janu.


"Oh ya kak,mengapa pesan begitu banyak makanan,ku kira kita hanya memesan ramen dan bubur?" tanya Himawari yang melihat begitu banyak makanan dimeja.


"Oh itu,nanti ada teman kakak yang akan ikut malam bersama"jawab Janu lalu milihat seorang pria yang menghampirinya "itu dia" sambung Janu.


Himawari pun menoleh kebelakang dan terkejut ternyata teman kakaknya adalah "silahkan pak Danta,silahkan duduk" ucap Janu yang berdiri lalu berjabat tangan dan duduk kembali.


"Terimakasih" jawab Danta,lalu duduk tepat disamping Himawari "maaf sudah menunggu lama" sambung Danta.


"Tidak,sama sekali tidak,mari makan" balas Janu dengan tersenyum.


Himawari yang benci dengan Danta bergeser sedikit untuk menjauh darinya lalu melihat kearah Ichir "Ichi mau buna bantu?" tanya Himawari dengan ramah.


"Tidak bun,Ichi bica cendili" jawab Ichiro lalu memakan buburnya.


Melihat Himawari yang begitu dekat dengan anak kecil membuat hati Danta berdebar kencang.


"Oh ya Hima, pak Danta sekarang sudah menjadi CEO diperusahan ayahnya" ucap Janu untuk mencairkan suasana.


"Oh benarkah itu (tapi andai kakak tau yang membunuh mama dan papa adalah keluarga mereka)" jawab Himawari dengan menatap tajam mi ramen didepannya.

__ADS_1


"Biasa saja pak,anda berlebihan" balas Danta dengan tersenyum.


Mereka melanjutkan malam bersama,semua berjalan lancar sampai pada waktunya pulang.


Malam ini Himawari memutuskan untuk tidur dirumahnya,sesampai dirumah dia mandi dan berbaring diranjangnya "mengapa bisa pembunuh itu ada disini" gerutu Himawari sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Aku ingin segera membunuh mereka" ucap Himawari lalu mengambil boneka lumba-lumba yang pernah Zian berikan padanya "aku pastikan itu"sambung Himawari dengan tatapan tajam.


...**...


Keesokan harinya...


Hari ini Himawari bangun pukul 05.00,sebelum mulai beraktifitas dia meminum air putih yang ada diatas mejanya "(bukankah aku bangun terlalu pagi)"batin Himawari yang masih setengah mengantuk sambil memandangi bunga matahari yang berkelopak merah ditas mejanya.


"(Entah mengapa aku merasa saat ayah dan ibu meninggal kelopak bunga ini gugur dua,dan saat kak Lily juga meninggal kelopan bunga akan jatuh)" batin Himawari,lalu dia beranjak dari tempat tidurnya pergi mandi dan menyiapkan makanan didapur.


"Nah siap"seru Himawari "saatnya berangkat ketoko" sambung Himawari lalu pergi kegarasi untuk mengambil sepedah dan berangkat ketoko bunga.


Sunflower Girl nama yang dibuat Himawari untuk toko bunga miliknya,sesampai ditoko tersebut Himawari menyiram bunga.


"Pagi juga bibi" balas Himawari dengan tersenyum sambil menyiram bunga.


Setelah semua sudah selesai,Himawari kembali kedalam toko.


'Kring kring'


Suara bell toko berbunyi lalu ada seorang pria yang masuk kedalam dan menyapa Himawari "hai Hima" sapa orang tersebut.


Himawari sangat kenal dengan wajah pria tersebut,dia hanya menatap tajam wajah pria tersebut.


"Aku sangat merindukanmu Hima" ucap orang tersebut lalu duduk didepan Himawari.


"Apa kau tidak tau malu?,setelah membunuh orangtuaku dengan mudahnya kau mengatakan aku merindukanmu" ujar Himawari dengan tatapan tajam " lima tahun,lima tahun waktu yang cukup lama untuk aku bisa melupakan perasaanku dan membuatnya menjadi rasa benci namun yang kurasakan hanya perasaan dimana aku semakin menyukaimu" sambung Himawari.


"Hima aku ingin menjelaskan"

__ADS_1


"Ya jelaskanlah Zian aku ingin mendengar penjelasan darimu" timpal Himawari.


"Aku..e.."


"Aku tau kau tidak akan bisa menjawabnya dasar pembunuh" hardik Himawari sambil menitihkan air mata.


Reflek Zian langsung memeluk Himawari dengan hangat "aku membencimu" ucap Himawari dengan menangis.


"Bencilah aku,tapi tolong berikan aku kesempatan kedua untuk menebus dosaku" jawab Zian dengan lembut.


"Apakah dengan memberimu kesematan kedua akan membuat orangtuaku Hidup kembali" balas Himawari lalu melepaskan pelukannya.


"Aku mohon Hima,aku sangat mencintamu, lima tahun aku hidup dalam rasa bersalah" ucap Zian dengan menggenggam erat tangan Himawari.


Himawari menyeka air matanya menarik tangan Zian lalu menariknya keluar dari tokonya "pergilah,aku tidak ingin melihatmu!!" bentak Himawari lalu masuk kedalam toko


Mendengar hal tersebut hati Zian merasa terpukul,namun Zian hanya bisa menunggu Himawari memaafkannya dengan cara menunggunya didepan toko.


Hujan deras disertai petir saling bersaut-sautan dan Himawari masih melihat Zian berada didepan tokonya "sudah enam jam dia disana sekarang pukul 16.00" ucap Himawari sambil melihat jam.


Beberapa jam kemudian,hujan masih belum reda Himawari pun mulai khawatir dengan keadaan Zian,Himawari tau Zian paling tidak bisa tahan dengan air hujan,Himawari mengambil payung lalu membawanya keluar.


"Aku tidak tau kau begitu bodoh" ujar Himawari sambil memayungi Zian yang duduk diteras tokonya.


Zian pun mendongakkan kepalanya "Hima" ucap Zian dengan singkat.


Himawari menundukkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya "ayo masuk"ucapnya dengan dingin.


Zian yang mendengar hal tersebut seketika tersenyum lalu menerima uluran tangan dari Himawari "terimakasih" jawab Zian,lalu mereka berdua masuk kedalam toko.


Himawari mengambil setelan pakaian pria dan handuk lalu menaruhnya diatas meja "pakailah dan mandi" ucap singkat Himawari.


"Terimakasih Hima" jawab Zian lalu pergi mandi.


"(Aku sangat mencintainya tapi aku juga membencinya,apa yang harus aku lakukan)" pikir Himawari dengan membuat coklat hangat didapur toko.

__ADS_1


__ADS_2