SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Tangan Yang Mana


__ADS_3

"Jessy!" seru Managernya, "Cepat kemari dan antarkan wine ini ke ruangan VVIP 890, di lantai dua."


"Siap, Manager..." dengan penuh semangat dia membawa wine itu ke sana, dia juga tidak akan lelah karena keluar masuk dengan menggunakan lift.


Begitu sampai di ruangan VVIP 890, Jessy memutar handle pintu lalu menyapa mereka yang ada di dalam.


"Selamat siang Tuan besar, hari ini aku datang untuk membawakan Wine."


"Wah, anak baru sepertinya masih segar..." pria berjas putih dengan kepalnya yang sedikit botak itu menyeringai, "Kemarilah gadis manis, temani aku minum dan aku akan memberikan mu 600€ sebagai hadiah."


Tentu saja Jessy mau melakukannya, dia butuh uang dan selama pekerjaannya bisa menghasilkan maka dia akan melakukannya, kecuali menjual hal berharga di dalam dirinya.


Dia mengangguk, "Benarkah? Ah baiklah Tuan besar..." hanya menemaninya minum, kan? Tidak masalah.


Jessy duduk di sebelah pria itu, dia menuangkan Wine mahal ke dalam segelas mini, "Ini Tuan, silakan..."


"Hei gelas pertama seharusnya untuk mu gadis cantik..."


"Ah, maaf Tuan besar tetapi saya tidak minum yang seperti ini."


"Cih! Jika tidak bisa minum lalu untuk apa kau bekerja di sini, hah?! Kau mau minum atau uang tip itu hangus!"


"Tuan besar kau hanya meminta ku untuk menemani minum, kan? Bukan untuk minum bersama. Kalau kau tidak mau ya sudah, minum saja sendiri!" balas Jessy sembari meletakan gelas itu dengan sedikit kasar di atas meja, menyebabkan wine di dalamnya tumpah sedikit.


"Hei!" dia mencengkram tangan Jessy, di mana gadis itu sudah beranjak dan hampir melangkahkan kaki keluar.


"Aw!" Jessy pun terduduk di atas pangkuannya, geli sekali dia melihat wajah mesum si tua Bangka, "Apa yang kau lakukan, cepat lepaskan aku. Jangan bersikap tidak sopan!"


Krek!


"Aaaaaarrrrrgghh!!" siapapun akan berteriak kesakitan saat telinganya di gigit sekuat itu, membuat lingkaran tangannya yang berada di pinggang Jessy terlepas.

__ADS_1


Lalu dengan cepat Jessy berdiri, tapi pak tua itu tak membiarkannya, dia menarik kemeja Jessy dan membuat beberapa kancingnya lepas, "Jangan harap kau bisa kabur setelah menyakitiku!"


"Lepaskan aku, dasar tidak tahu malu!" Brak!


"Aaaaaaarrggghhh!!" untuk yang kedua kalinya dia memekik kesakitan, kepalanya berdarah saat Jessy memukulkan botol wine mahal itu di kepalanya.


Dia gemetaran saat melihat tangannya yang memegang sisa botol itu, dengan cepat di melemparkannya ke bawah.


Wajahnya pucat dengan jantungnya yang hampir melompat keluar, dengan cepat Jessy keluar. Berlari namun pria itu tak membiarkannya, dia baru saja menelfon anak buahnya untuk membawa Jessy ke kamar khusus tamu VVIP.


Langkah Jessy terhenti saat hampir memasuki lift, dia memang pencuri kecil tetapi dia bukan seorang atlet bela diri ataupun anggota satuan khusus yang bisa berkelahi.


"Ma- mau apa kalian, cepat minggir! Jangan menghalangiku!"


"Cih! Dasar tidak tahu malu, sudah membuat Tuan besar kami terluka, dan kau malah mau kabur tanpa membayar ganti ruginya? Tangkap dia dan bawa ke kamar VVIP!" seru salah satu anggota itu kepada rekannya.


"Dasar tidak tahu diri! Setelah ini baru tahu rasa kau!" imbuh yang lain.


"Jangan sentuh aku!" dia berteriak ketakutan saat mereka memegangi tangannya, memaksanya dengan menyeretnya ke dalam kamar.


Bruk!


"Aaakh!" pekik Jessy kesakitan saat tubuhnya di hempas kan ke atas ranjang.


"Hentikan, aku mohon!" dia menangis terlebih lagi saat kedua tangan dan kedua kakinya mereka ikat.


Keringat dingin menjalari tubuhnya, terlebih lagi saat pria mesum itu baru keluar dari kamar mandi, perut buncit dan juga pendek.


"Lepaskan aku!" teriak Jessy meronta. Dia masih suci, jadi tak akan mau begitu saja meskipun akan di bayar mahal, dia memejamkan erat kedua matanya mendadak dia teringat wajah dingin Jackson, Tolong aku... bibirnya bergetar saat pak Tua memerintahkan anak buahnya untuk keluar.


Jessy membuka kedua matanya dengan nanar takut, manik cokelatnya terlihat memudar redup, dia benar-benar takut.

__ADS_1


Di tambah lagi saat pak tua itu mulai merobek kemeja Jessy, memperlihatkan bagian dada yang membuatnya ingin segera menikmatinya, apakah dirinya akan berakhir bersama pak tua itu?


Baru saja pak tua itu mulai memasukan tangannya ke dalam rok hitam dan meraba paha mulus Jessy.


Brak!


Dia terlonjak kaget saat menoleh ke arah pintu, "Siapa! -" dia terdiam berkeringat dingin saat melihat sosok pria bertubuh tinggi tegap dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam.


"Tu- tuan Jackson!" peluh memenuhi pelipis, dia menelan dengan kuat.


Jackson lalu menatap Jessy yang memalingkan wajahnya, gadis itu terlihat menyedihkan.


Tubuh bagian atasnya terlihat, kondisi yang menyedihkan, tangan dan kakinya terikat.


Jackson melangkah mendekat lalu meninju wajah pak tua, membuat sudut bibirnya berdarah.


Pak tua itu pun segera menjauh dari ranjang, dia melihat Jackson melepaskan jasnya, menutupi tubuh Jessy.


Lalu melepaskan ikatan di kedua tangannya, hanya di bagian tangan sementara kaki, Jackson membiarkannya. Karena Jessy pasti bisa melepaskannya sendiri.


"Tu- tuan?" pak tua memundurkan langkah kakinya, dia gemetaran dengan wajahnya yang memucat.


"Kau takut padaku? Lalu kenapa kau menyentuhnya? Tanganmu yang mana yang sudah menyentuh tubuhnya?" Jackson masih melemparkan tatapan dingin penuh ancaman.


"Tu- tuan dengarkan dulu penjelasan saya -"


Bugh!


"Aaaaaarrrrrgghh!!!" pekiknya kesakitan saat Jackson menendang kuat di bagian perutnya. Setelah dirinya tersungkur, dengan cepat Jackson mengunci tangannya, menariknya kebelakang sementara kakinya menginjak punggung pria itu, siap mematahkannya.


Sebelum itu terjadi, Jessy berlari ke arahnya, memeluknya erat dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung kekar itu"Jangan! Dia bisa mati," pintanya dengan suara gemetar.

__ADS_1


Namun Jackson sama sekali tak menggubrisnya, dia tetap mematahkan tangan kirinya.


"Aaaaaaaaarrrggghhh!!" teriakan itu menandakan sakit yang tak terkira.


__ADS_2