SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Dua Garis Merah


__ADS_3

Waktu siang pun bergeser menjadi sore, senja menyapa kedua insan itu. Angin sejuk cukup kuat untuk memainkan ujung rambut Ariana.


Tidak banyak yang mereka perbincangkan, karena memang ini adalah kali pertama keduanya jalan berduaan.


Mereka bisa mendengar suara deburan ombak yang berbenturan dengan batu karang dan bibir pantai.


Sesekali juga keduanya kedapatan saling curi pandang, aaaaa keduanya merona merah samar. Dingin menelisik kulit mereka.


"Ariana?"


"Iya?" Ariana menoleh ke arah Reykhel, manik cokelatnya segera lari tak beraturan saat bersitatap dengan manik biru Reykhel.


"Tak bisakah bola matamu itu diam di tempat?"


Masih sempat bercanda! Tatapan matamu membuatku sangat gugup, tahu!


"Um...." Ariana mengangguk.


Lalu keduanya pun diam lagi, membosankan untuk Ariana. Kenapa pria itu memanggilnya jika hanya diam lagi?


Cahaya rembulan malam mulai menerangi dan kehadirannya telah menenggelamkan senja di ufuk barat daya.


Bintang pun mulai banyak bertaburan di angkasa raya, dingin semakin menusuk.


"Ariana?" seru Reykhel lirih.

__ADS_1


"Iya, Tuan?" Ariana menghela napas pelan, berusaha menghilangkan kegugupannya. Tapi, entahlah karena yang ia rasakan saat ini hanya jantungnya yang berdebar saat lelaki itu mengudarakan namanya.


Reykhel perlahan mengulurkan tangannya meraih wajah Ariana.



Membuatnya bersitatap seperti itu malah membuat wajah Ariana merona merah samar, "Tuan? -"


Lalu keduanya saling memejamkan mata, membiarkan bibir mereka saling menikmati.



Di tengah hangatnya ciuman mereka, mendadak Ariana pun mengigit lidah Reykhel dan membuatnya memekik kesakitan, dan langsung melepaskan ciumannya.


"Aaaaa!" Reykhel mengusap bibirnya, "Apa-apaan kau hah? Berani menggigitku!" sorot matanya menatap tajam pada wajah manis Ariana yang terlihat takut.


Ingatan akan dirinya yang berciuman dengan Megan mendadak menggelitiknya bak siluman. Terkadang ia tak ingat, dan tiba-tiba dia ingat.


"Ada apa denganmu?"


Ariana menggeleng, "Tidak apa-apa Tuan, hanya ingin pulang saja lagi pula hari sudah malam."


"Cih!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Reykhel pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sedikit kesal dengan cara Ariana melepaskan ciumannya.


Dia berpikir untuk menyelesaikannya, nanti, setelah sampai di kamar. Malam ini dia akan meminta Ariana untuk melayaninya seperti malam kemarin.


Sepanjang perjalanan Ariana hanya diam, dia enggan membuka suara. Pun, begitu juga dengan Reykhel.


Ariana menyandarkan kepalanya di jok, menatap pemandangan malam yang ada di luar jendela.


Perlahan apa yang ia lihat mulai mengecil, terang, gelap, dia mengantuk. Karena perjalanan mereka cukup jauh dan melelahkan akhirnya Ariana pun memutuskan untuk tidur.


Lelap di buai mimpi, berharap semua masalah hidupnya segera selesai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam di kediaman Adijaya...


"Huek... Huek... Huek..." Sena memuntahkan isi perutnya di wastafel kamar. Pintu kamar ia kunci dengan rapat.


Napasnya pun terasa berat, tubuhnya sampai gemetar karena seharian penuh ia tak bisa makan.


Di tariknya tisu untuk mengelap bibirnya, lalu di ambilnya tespack yang ada di dalam wadah berisikan urin.


Kedua matanya membulat sempurna, dua garis merah terlihat begitu jelas.


"Ha- hamil? A- a- a- aku hamil?" dia terkejut senang, "Aku mengandung anak Andreas."

__ADS_1


Segera dia keluar dari bath room dan memfoto hasil tespack itu, mengirimkannya kepada Andreas namun hanya centang satu.


Cukup lama ia menunggu konfirmasi pengiriman pesan, tapi tak juga ia dapatkan. Penasaran, Sena pun mencoba menelefonnya dan mendapati nomor Andreas telah mati.


__ADS_2