
Ariana mulai mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan yang dapat ia jangkau, kakinya terasa lemah untuk meninggalkan rumah.
Begitu ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini, maka itu artinya status hubungan keluarga mereka akan segera di hapus.
"Sudah waktunya untuk pergi, Nona." seru Jackson dengan menatap dingin padanya yang ia rasa begitu lamban.
Ariana mengangguk, "Iya," tubuhnya mulai gemetaran, namun dia harus kuat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil hitam Jackson pun melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalanan kota Amsterdam.
Ariana hanya duduk diam di jok belakang, menatap gedung-gedung pencakar langit, bangunan rumah mewah, dan beberapa pohon yang biasa ia lihat saat melewatinya.
Tak ada percakapan apapun yang mengudara di dalam mobil itu.
Tak terasa air matanya, pun, menetes begitu saja, dia merasa sesak. Jackson yang melihatnya melalui spion kecil yang tergantung itu pun hanya diam saja, dia bahkan enggan untuk bertanya.
Tak seberapa lama mereka sampai juga di kediaman Reykhel yang begitu mewah, mobil memasuki pintu gerbang, Ariana bisa melihat seluas apa halaman rumah ini.
Ada banyak pelayan yang sedang bekerja dan juga para penjaga yang melakukan tugasnya, melihat penjagaan yang ketat ini pastinya akan sulit untuk melarikan diri.
Apalagi saat tahu seperti apa sifat Jackson dan tuan mudanya, membayangkannya saja sudah membuat Ariana begitu sesak.
__ADS_1
Jackson memarkirkan mobilnya di pelataran rumah, lalu dia segera turun untuk membukakan pintu mobil.
"Silakan turun, Nona."
"Terimakasih sekretaris Jackson," Ariana segera turun dan sedikit terkejut saat melihat ada dua penjaga pintu di depan.
Mereka pria yang bertubuh kekar dan tinggi, di bandingkan dengan Ariana yang hanya seorang gadis mungil maka sudah pasti akan kalah tenaga.
"Selamat pagi tuan Jackson, selamat pagi Nona muda." seru mereka berdua menyapa.
"Pagi," jawab Jackson dengan nada singkat.
Bahkan para penjaga pintu saja sudah seperti ini. Sepertinya mereka benar-benar di latih dengan baik.
"Silakan masuk, Nona, Tuan muda sudah menunggu."
Apa yang akan di lakukan di jahat itu?
Gumam Ariana dari dalam hatinya.
Dia pun mengikuti langkah kaki Jackson dari belakang dengan baik, setelah dua penjaga itu membukakan pintu.
Ariana sesekali mengedarkan pandangan matanya untuk melihat suasana rumah yang terasa dingin, sama dinginnya dengan si pemilik rumah ini.
__ADS_1
Tidak heran, karena tak fokus pada apa langkah kakinya sehingga Ariana pun tak sadar jika Jackson ternyata sudah berhenti melangkah tepat di hadapannya.
Tuk!
"Aaa!"
Wajah manisnya membentur punggung kekar itu, dengan cepat Ariana mengusap-ngusap keningnya.
"Kenapa Anda melamun, Nona?" seru Jackson sembari mengernyitkan dahinya.
Dia tak suka akan hal itu.
"Ma- maafkan saya, sekretaris Jack... saya tidak sengaja, sungguh."
Jackson pun memilih diam dan enggan untuk menjawabnya, tangannya terulur untuk memutar handle pintu hingga membuka daun pintu itu.
"Nona boleh masuk, ingat, Nona hanya boleh mengatakan iya tanpa berpikir lama, dan jangan sampai menyinggung tuan muda."
"Apakah saya tidak boleh berkata tidak?"
Terdengar hembusan napas kasar dari Jackson, sepertinya dia geram.
"Ah iya maafkan saya sekretaris Jack, saya akan melakukan sesuai dengan apa yang Anda perintahkan barusan," Apa itu? Dia marah? Kenapa, kenapa harus marah?
__ADS_1