
Setelah sembilan bulan menanti akhirnya Ariana akan memasuki persalinan keduanya, menurut hasil pemeriksaan menunjukan bayi yang ada di dalam rahim Ariana berjenis kelamin laki-laki.
Kata dokter, menjelang persalinan itu memang baik untuk berhubungan suami istri, tujuannya untuk memperlancar jalan lahir.
Terlebih lagi, ini adalah persalinan normal pertama untuk Ariana.
Malam dingin yang di iringi hujan lebat ini membuat Ariana sulit untuk tidur, jam dinding menunjukan pukul sepuluh malam tetapi Reykhel masih belum pulang juga.
"Sayang, aku kedinginan... aku ingin belaian mu," pesan menggairahkan itu pun segera di baca Reykhel.
"Lima belas menit lagi aku sampai sayang, aku masih mengisi bensin."
"Baiklah, hati-hati di jalan sayang... aku benar-benar kedinginan, 🥰"
Di tambah emoticon seperti itu malah membuat Reykhel semakin tak sabar untuk melepaskan hasratnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Begitu sampai di rumah, apa lagi jika bukan segera melepaskan hasratnya sebagai seorang lelaki.
Meskipun perut Ariana semakin membesar hingga seperti ini, namun Reykhel tak pernah berhenti bergairah, dia malah semakin senang melakukannya apa lagi saat mendapatkan lampu hijau dari dokter.
__ADS_1
Pakaian mereka sudah berserak di atas lantai, "Sayang..."
"Iya, aku tahu kau sudah tak bisa menahan diri lagi, aku akan bermain dengan penuh kenikmatan sayang..." setiap kata romantis terucap dalam posisi seperti ini, wajah Ariana selalu berhasil di buat merona merah olehnya.
Ariana mengangguk lalu memejamkan kedua matanya saat merasakan benda keramat sang suami membesar di dalam kelembutannya, dia bisa merasakannya.
"Emh..." desahannya membuah Reykhel hampir tak bisa mengontrol diri, namun dia harus ingat siapa yang ada di dalam rahim istrinya, Reykhel tak ingin menyakiti anak dan istrinya.
"Sayang pelan-pelan..."
jemari mereka saling meremas dengan hangat, hingga akhirnya pergumulan panas mereka pun selesai juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba-tiba saja Ariana merasakan sakit pada panggul dan perut bagian bawahnya.
"Ummmmmhhh!" Ariana mengernyit menahan sakit yang ia rasa, bahkan sampai mencengkeram kuat pinggiran sofa.
"Mama kenapa?"
Karena tak ingin membuat putri kesayangannya khawatir, Ariana pun menggeleng, "Tidak apa-apa sayang, hanya keram saja."
__ADS_1
Tapi Reyna tidak percaya begitu saja, matanya pun sama tajamnya seperti sang Papa, dia menunduk dan mendapati cairan bening yang menetesi kaki sang Mama.
"Mama!" Reyna menangis dan segera beranjak dari duduknya dia berlari keluar memanggil siapapun karena begitu paniknya, "Pelayan! pelayan! pelayan!"
Kebetulan sekali di bawah ada Clara, "Nona muda?" segera Clara menapaki anak tangga karena mendengar teriakan Reyna.
"Nona muda ada apa?"
"Pelayan tolong Mama, Mama kesakitan sepertinya adik bayi sudah mau keluar."
"Apa? Nona muda tunggu di sini saya akan meminta bantuan pak Jang dan yang lainnya... Nona jangan panik."
Selagi Clara turun untuk mencari pak Jang, Ariana yang masih di dalam kamar itu pun berusaha untuk bangun sembari menahan sakitnya kontraksi.
Ariana meraih hp yang ada di atas meja, lalu menelefon Reykhel namun tak kunjung di angkat juga.
"Sayang angkat telefonnya," pesan terkirim.
Tak ingin menyerah, Ariana mencoba menelefon Gerry, dan juga sama tidak di angkat juga.
"Ummmmmhhh!! Sakit sekali rasanya," hp yang tergenggam kuat itu pun jatuh ke lantai.
__ADS_1