SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Reykhel Sakit


__ADS_3

Setibanya Reykhel di rumah dia pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, sedangkan Ariana juga sudah bersiap di tempatnya.


Baru saja Reykhel melepaskan tas dan sepatu kerjanya, tiba-tiba dia merasa pusing.


"Tuan muda, anda tidak apa-apa?" tanya Ariana sembari memegang lengannya.


Suhu tubuh pada punggung tangannya sedikit panas, "Tuan, sepertinya anda demam."


"Aku tidak apa-apa, menyingkirlah."


Ariana mengangguk, dia menuruti semua kata-kata Reykhel.


"Air."


Gerak cepat Ariana segera menuangkan air putih dari teko beling ke dalam gelas berukuran sedang, "Ini, Tuan."


Reykhel menerimanya dengan tangan kiri, lalu meminumnya dalam dua kali tegukan, tegukan yang besar.


"Hm," Reykhel kembali menyerahkan gelas itu kepada Ariana, lalu duduk bersandar bantal.


Ariana merasa kasihan dengan wajah lelahnya, "Tuan, wajah Anda terlihat pucat... saya ambilkan thermometer dulu."


Reykhel memang merasa tidak enak badan, juga merasa hangat dari biasanya, jadi, dia pun diam tak menolak sampai pada akhirnya Ariana datang dengan membawakannya Thermometer.


"Tuan, bisakah anda membuka mulut sebentar saja?" ucap Ariana seraya menyalakan benda di tangannya itu.

__ADS_1


Reykhel menurut, dan Ariana pun dengan leluasa melakukannya. Beberapa menit kemudian Thermometer itu pun berbunyi menunjukkan suhu tubuh Reykhel di angka 38.9°.


"Astaga, tinggi sekali demamnya."


Saat Ariana hendak pergi untuk mengambil obat penurun demam, Reykhel mencengkeram tangannya dengan napas yang memanas.


Semakin kuat cengkeraman tangannya membuat Ariana meringis kesakitan, "Tuan, sakit... tolong lepas -"


Bruk!


Tuan muda pingsan dan rebah sembari menarik Ariana yang malah terjerembab di atas tubuh Reykhel.


"Tuan?" seru Ariana yang terkejut akan keadaan itu.


Cepat-cepat Ariana beranjak dari posisinya dan segera menemui pak Jang di lantai bawah, ruang kerjanya.


"Nona Ariana ada apa? Mengapa begitu panik?"


"Pak Jang, Tuan muda demam dan pingsan."


Pak Jang yang terkejut pun sontak langsung beranjak dari tempatnya, dan segera menelefon dokter David untuk segera memeriksa kondisi Tuan mudanya, begitupun setelah selesai menelfon dokter David, pak Jang segera menelefon sekretaris Jackson untuk segera datang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Engh..." perlahan kedua mata Tuan muda pun terbuka, berkali-kali dia mengerjap untuk menyesuaikan bias cahaya yang menerangi pandangannya, "Air," lirih Tuan muda Reykhel yang langsung di penuhi oleh Ariana.

__ADS_1


Sebelum memberikan segelas air itu, Ariana terlebih membantu Reykhel untuk bangun dan duduk bersandarkan bantal.


"Ini Tuan air minumnya."


Reykhel melirik malas padanya, dia menerima gelas itu masih dengan raut wajahnya yang enggan mengucapkan terimakasih.


Belum habis air di dalam gelas yang ia genggam, Prang!


Ariana bahkan sampai terkejut, begitu juga dengan yang lainnya.


"Dingin! Kau ingin membuatku batuk? Kapan otakmu itu akan menjadi pintar!" sungut Tuan muda yang membuat hati Ariana bergetar perih.


Segera Ariana memungut pecahan gelas itu, "Ma- maafkan saya, Tuan. Akan segera saya ambilkan air hangat."


Kedua manik indahnya itu mulai berkaca-kaca.


"Bawakan aku teh madu." lanjut tuan muda Reykhel tanpa menatapnya.


"Baik, Tuan."


Ariana pun bergegas melangkah keluar dari kamar Tuan muda, membawa pecahan gelas itu ke dapur.


Di dalam kamar...


"Tuan muda, bagaimana perasaan Anda sekarang?" tanya Jackson.

__ADS_1


"Sedikit membaik, sejak kapan kalian ada di sini?" tanya Reykhel kepada Jackson, dan juga David, lalu dia menatap pak Jang.


"Sebenarnya Nona Ariana yang memberitahu saya jika Tuan muda demam dan pingsan, jadi, saya segera menghubungi tuan Jackson dan juga dokter David," jawab pak Jang yang kemudian menganggukkan kepala sopan, sebagai permintaan maaf.


__ADS_2