
Kedua gadis itu pun saling bersitatap, sementara itu Sebastian hanya diam saja. Dia juga tahu jika bukan karena hal fatal, maka tak akan mungkin seorang mahasiswi ataupun mahasiswa akan dipanggil sampai ke ruangan Rektor.
Masih bersyukur karena dia tak terlibat sampai sejauh itu, tapi tak lama kemudian juga terdengar suara yang mengudara dari interkom itu, panggilan untuk Sebastian yang mengharuskannya ke ruangan kemahasiswaan.
Semua mata memandang heran kepada ketiganya, terlibat masalah apa mereka?
Sebastian pun segera keluar demi menghindari tatapan mata mereka, yang kemudian di susul oleh Maura dan Natalia.
Mereka melangkah di jalur masing-masing.
"Natali, apakah menurutmu ini ada hubungannya dengan Ariana? Ku dengar dia di skorsing selama satu bulan, dan semua nilai mata kuliahnya telah di hapus," seru Maura yang juga ikut merasa cemas.
"Sudahlah Maura, kau tenang saja jangan terlalu memikirkannya... karena mungkin saja kita di panggil Rektor karena hal lainnya, kan?" imbuh Natali seraya mengusap pundak sahabatnya itu.
Sementara itu Sebastian yang baru saja tiba di ruangan kemahasiswaan, dia duduk di depan meja seorang wanita paruh baya yang memakai kemeja kotak-kotak dan memakai kaca mata min itu, namanya Miss Andrea.
Miss Andrea menyodorkannya sebuah amplop putih, "Ambil ini dan bacalah dengan seksama."
__ADS_1
"Apa itu, Miss?"
Miss Andrea hanya diam saja, dan menyuruhnya membuka amplop itu dengan kedua matanya.
Sebastian mulai merasakan firasat buruk, dengan tak sabar dia mulai merobek ujung amplopnya, lalu menarik lipatan kertas yang berlogo kampus VN.
Di bacanya dengan seksama hingga membuatnya menelan, di remasnya dengan kuat surat itu.
"Baiklah Miss, saya sudah membacanya, terimakasih karena telah memberitahukan saya secepat ini." Sebastian beranjak dari duduknya lalu memberikannya bow, "Selamat pagi."
"Pagi."
"Ariana, seandainya saja aku menyadari perasaan ku kepadamu, dulu ... sejak awal, apakah semuanya akan menjadi sama seperti ini?"
Dia pun segera pergi meninggalkan tempat itu, amplop putih itu berisikan surat peringatan, Jackson masih memberinya kesempatan kedua. Itulah sebabnya dirinya tak di DO saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Maura dan Natali yang baru saja tiba di depan pintu ruangan Rektor, "Ayo ketuk saja pintunya," pinta Natali yang di angguki Maura.
Saat pintu itu hampir ia ketuk, keduanya terkesiap saat melihat sosok tinggi dan tampan membukakan pintunya dari dalam, dialah sekretaris Jackson.
"Silakan masuk, Nona-nona... Tuan muda sudah menunggu kalian."
Lagi, keduanya pun saling bersitatap heran.
Tuan muda? Siapa? Tanya Maura dari dalam hatinya.
Sementara Natali, dia mencoba mengingat sosok Jackson, sepertinya dia pernah melihat pria itu. Beberapa menit kemudian dia pun teringat, jika Jackson adalah pria yang ia lihat datang ke kampus.
Dan menyangka nya sebagai pria yang menjadikan Ariana sebagai simpanannya.
Glek!
Melihat sosok tegap itu saja sudah membuat Natali menelan dengan sangat kuat, dia tak bergerak sama sekali saat Maura mulai melangkahkan kakinya menuju sofa yang telah di huni oleh sang tuan muda berwajah dingin itu.
__ADS_1
"Hei, Natali, apa yang kau lakukan? Jangan melamun. Ayo cepat!" Maura menarik tangan Natali dan membuatnya terkejut.
"Ah, i- iya."