
Jackson pun sampai di kamar tamu, "Mulai saat ini, kamar tamu ini adalah kamar tidur Nona."
Memperlakukan istri sendiri seperti tamu, "Terima kasih," tutur Ariana dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Ariana pun duduk di kursi, di depan meja rias, dia memandangi dirinya sendiri, menatap wajahnya.
"Apakah ini yang di namakan takdir hidup? Mengapa Tuhan malah memilihku untuk hidup di muka bumi ini?"
Ariana menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan pintu, "Nona muda... maaf mengganggu, apakah saya boleh masuk?"
"Sebentar..."
Klek!
Ariana membuka pintu kamar dan mendapati pelayan Min, "Siapa?" tanya Ariana dengan ramah.
"Saya Min, nona.... saya yang akan menjadi pelayan pribadi nona muda..."
Panjang lebar mereka berbicang layaknya orang yang sudah kenal lama, "Apakah ada yang ingin nona tanyakan?"
"Mmm... tuan muda biasanya akan bangun dan tidur di jam berapa, Min? Dan juga apa yang tuan sukai..."
"Tuan akan tidur setelah pekerjaannya selesai, biasanya di jam 23.00 adalah waktu tercepatnya dan tuan akan bangun pagi sekali nona. Lalu, tuan muda snagat menyukai teh madu... jadi karena itulah di rumah ini tidak ada susu—"
"Gila!"
__ADS_1
Pelayan Min membulatkan matanya saat mendengar kata itu terlontar dari mulut Ariana, "Maksudnya?"
"Ah, tidak... hahaha..." Ariana terkekeh menutup mulutnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menepuk bahu pelayan Min, "Tidak apa-apa Min, tolong jangan di ambil hati ya..."
"Ah iya baiklah nona, tidak apa-apa. Apakah masih ada hal lainnya yang belum nona mengerti?"
"Bisakah kau mengajari ku bagaimana caranya membuat teh madu kesukaan tuan muda?"
Pelayan Min mengangguk, "Baik nona, mari... kita langsung saja ke dapur..."
Banyak hal yang mereka perbincangkan mulai dari apa saja yang di sukai Reykhel, dia tak mau mati akibat hal bodoh yang ia lakukan.
Mati di usia muda? Ah, hahaha... yang benar sajalah. Membayangkannya sendiri pun sudah membuat bulu kuduknya mengembang sempurna.
Dia merinding, rasanya saat membayangkan hal menakutkan itu, membuat Ariana serasa ada di dalam kuburan yang di penuhi oleh tulang belulang.
Ariana menggedik kan kedua bahunya dengan sangat pelan, bersamaan dengan gelengan kepalanya.
"Nona kenapa? Nona?" seru Pelayan Min seraya menepuk dengan pelan bahu Ariana.
"Ti- tidak apa-apa kok," Ariana menatap ke samping kiri seraya mengelus napasnya dengan sangat pelan.
"Min, boleh kah aku bertanya sesuatu padamu tentang hal lainnya?"
Pelayan Min mengangguk, "Iya nona tentu saja boleh, memangnya apa yang ingin nona tanyakan?"
__ADS_1
"Apakah kau sudah menikah?"
Pertanyaan itu membuat wajah pelayan Min memerah samar, "Be- belum nona."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
👉👉👉Next Chapter👇👇👇
Mungkin hanya di hukum ringan saja, itu yang ada di dalam pikirannya sebelum apa yang di katakan pelayan Min membuatnya menelan sekuat-kuatnya.
"Dan, Tuan muda mematahkan tangannya!"
Keringat dingin mendadak menetes dari pelipisnya, seolah terjun bebas begitu saja.
Ruang udara di sekitarnya serasa panas, membuat Ariana seketika kembali merinding. Membayangkan tangannya di patahkan, ah tidak!
Glek!
Ariana menelan kuat.
"Nona tidak perlu khawatir, Tuan muda tidak akan marah ataupun menghukum seseorang jika Tuan muda tak di buat marah."
Bagaimana aku bisa menjadi tenang saat tahu siapa pria yang aku nikahi, konyol...
Dari ambang pintu dapur Reykhel datang meneriaki Ariana.
__ADS_1