SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Menjenguk Mama


__ADS_3

Tak lama setelahnya dokter Marya yang bertugas untuk memantau kondisi Papa Ariana, pun, datang.


"Selamat malam maaf semuanya, saya akan memeriksa kondisi tuan Adijaya terlebih dahulu."


Marya dokter yang cantik, tubuh tinggi semampai, berambut pirang dan panjang sedada.


"Baik Dok, silakan..." imbuh Ariana yang langsung turun dari bed, dia berdiri di samping suaminya.


Dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian Marya memeriksa kondisi papa Ariana, "Kondisi Tuan sudah lebih baik dari semenjak beliau datang ke rumah sakit ini."


"Dokter, sebenarnya Papa saya sakit apa?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Reykhel sedikit memundurkan langkahnya ke belakang, dia menatap Marya dengan tajam sembari menggeleng pelan, memberinya isyarat untuk mengatakan baik-baik saja.


"Tuan Adijaya hanya kelelahan saja, Nona... dan Nona juga tidak perlu khawatir, karena kondisi Tuan sudah stabil, tuan Adijaya sudah boleh keluar ruangan besok pagi..."


"Berada di dalam kamar inap pasti akan membuat seseorang jenuh, jadi tidak ada salahnya untuk jalan-jalan sebentar."


"Benarkah? Wah..." kebahagiaan yang tak terkira membuat Ariana tersenyum lebar, dia meremas tangan Reykhel, "Sayang dengar, kan, besok Papa boleh jalan-jalan..."


"Ya, aku mendengarnya dengan baik."

__ADS_1


"Ariana," panggil Papa dengan lirih, menggerakkan tangannya meminta putri semata wayangnya itu mendekat.


"Iya Pa? Apakah Papa membutuhkan sesuatu?" Ariana kembali duduk di tepi bed.


Sementara itu dokter Marya pun segera pamit dari ruangan tersebut, "Tuan dan Nona, maaf saya harus segera memeriksa pasien lainnya, jika terjadi sesuatu bisa segera menghubungi saya... permisi, selamat malam."


Reykhel mengangguk.


"Sekali lagi terima kasih, dok.."


Marya tersenyum dan segera beranjak dari situ setelah memberi bow.


Papa menggeleng, dia mengusap perut buncit Ariana, dan merasakan tendangan baby dari dalam perutnya, "Ini Opa, sayang..." Papa diam sejenak, dia meneteskan air matanya, masih teringat saat dulu dia mengusap perut istrinya yang tengah mengandung Ariana.


"Ariana, waktu begitu cepat berlalu sayang..." lanjut Papa masih dengan mengusap-usap perut Ariana.


"Besok pagi, Papa ingin berziarah ke makam Mama dan juga Kakakmu... kau mau ikut?"


Ariana mengangguk, "Tentu Pa, Ariana juga sudah lama tidak berziarah ke makam..." lalu Ariana menatap suaminya, "Sayang, besok aku bolehkan pergi berziarah?"


"Iya, aku juga ingin menemui Mama mu dan berterimakasih padanya."

__ADS_1


Malam itu pun mereka banyak berbincang hangat, di mulai dengan rentetan kejadian sehari yang terasa tak pernah ada habisnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam pun bersambut pagi, cahaya pagi menyilaukan wajah yang masih terlelap. Semalaman Ariana dan Reykhel menginap di rumah sakit, tak usah khawatirkan masalah kamar.


Seorang penguasa bisa mendapatkannya dengan mudah, semalam Ariana baru tidur saat selesai mengerjakan tugas kuliah online di jam sepuluh malam.


Jadi tak heran jika pagi ini, waktu telah menunjukkan pukul 08.25 watu Amsterdam pun, Ariana masih belum bangun.


"Sayang ayo bangun, kau ingin membuat Papa menunggu?" bujuk Reykhel saat membangunkan Ariana.


"Engh... hm... iya..." jawab Ariana dengan suara paraunya di pagi hari, dia meregangkan tubuhnya dengan pelan, "Sebentar lagi sayang, lima belas menit lagi, ya?"


"Baiklah, lima belas menit dengan bonus waktu satu jam, titik!" tangannya bergerak meraba kelembutan Ariana yang ada di bawah sana.


"Ah, sayang jangan... baiklah aku akan ba -"


"Aku sudah bangkit seperti ini dan kau sekarang dengan seenaknya malah ingin bangun? Enak saja, tidak boleh!"


Akhirnya mereka berdua pun mengawali hari dengan yang hangat-hangat juga di atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2