
Masa cuti menikah, pun, telah habis dan kini sudah waktunya untuk Reykhel dan Ariana kembali menjalani aktivitas mereka masing-masing.
Pagi ini Ariana sudah bersiap rapi untuk pergi ke kampus, bisa di tebak sedalam apa dia merindukan suasana kampusnya.
Ariana memakai jeans hitam dan kemeja navy, tas ransel hitam, serta rambutnya yang di ikat dengan gaya sisi ekor kuda.
Keluar dari kamar dan bertemu tuan muda Reykhel, pria itu mengernyitkan dahinya dengan tatapan yang super kesal.
"Apa-apaan ini? Dasar kampungan, cih!" Reykhel menarik bagian bawah rambut Ariana dengan kuat dan membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aaaaa! Sakit, sakit!" kepalanya bahkan sampai mengikuti arah tarikan rambutnya, tangannya tiada henti berusaha untuk menjauhkan tangan Reykhel dari rambutnya, "Tolong lepaskan rambut saya, sakit tuan!" kali ini Ariana bisa sedikit melawan.
"Pak Jang!" seru Reykhel pada kepala pelayan yang sudah ada di belakangnya dengan membawakan tas kerja.
"Iya Tuan?"
__ADS_1
"Panggil semua desainer terkenal di kota ini, dan suruh mereka membawa semua pakaian, gaun, atau outfit yang berkelas lalu buang semua pakaian nona muda mu, kalau perlu kau bakar saja sekalian! Berani-beraninya dia membuatku malu dengan penampilannya yang seperti ini!"
Apa? Memalukan? Apanya, memang seperti ini cara berpakaian ku dan tak pernah ada yang memprotesnya!
"Tuan, sakit! Tolong lepaskan jambakan rambutnya." seru Ariana.
"Baik Tuan muda, saya akan segera menghubungi madam Chyntia." seru pak Jang dengan cepat.
"Berani-beraninya kau memakai pakaian yang akan mencoreng nama baikku sebagai seorang CEO, apakah keluargamu tak mampu untuk membelikan mu pakaian bermerk, hah?!" seru Reykhel semakin kuat menjambak rambut Ariana, lalu dengan segera menghempaskan rambut Ariana.
Bruk!
"Ah!" Ariana mengernyit kesakitan saat dia di dorong hingga punggungnya membentur daun pintu kamar yang tertutup rapat.
Dasar pria gila! Kapan sih dia sadar kalau semua itu bukanlah hal yang utama! Ariana mengelus kepalanya, bagian kepala yang menjadi tempat akar rambut yang tertarik tadi pun menyisakan rasa perih. Dia mengelus bagian itu.
Manik cokelat Ariana sekilas menatap manik biru Reykhel yang tajam, lalu dengan cepat dia menundukan pandangannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini jam dinding sudah menunjukan pukul 08.13 waktu setempat, satu jam lagi jam kuliah akan segera di mulai.
Jangankan di mulai, berangkat dari rumah saja, belum. Posisinya saat ini masih berada di rumah, dan tak jauh darinya berdiri ada madam Chyntia yang juga membawa beberapa desainer terkenal lainnya. Jumlah mereka semuanya ada lima.
Yaitu Chyntia, Aurelie, Brigytha, Maureen, dan Jovanka. Masing-masing dari mereka membawa koleksi yang mewah.
"Silakan Nona pilih yang manapun, Tuan muda sudah menyiapkan anggaran biayanya," seru pak Jang yang berdiri di sampingnya, tangannya menunjuk koleksi yang menjadi andalan para desainer.
"Pak Jang? Tidak bisakah kita melakukannya, nanti? Soalnya saya ada jam kuliah pagi."
"Maaf Nona, Tuan muda sudah memerintahkannya seperti itu, jadi lebih baik Nona turuti saja. Bukankah Nona sendiri tahu seperti apa Tuan muda?"
"Jadi, lebih baik sekarang Nona mengikuti perintah itu, lebih cepat Nona melakukannya maka Nona pun bisa dengan cepat sampai di kampus."
Astaga... sebenarnya dia itu mau menyanjungku atau malah menghinaku, sih? tanya Ariana dari dalam hati.
__ADS_1