
Reykhel segera menutup pintu kamarnya meninggalkan Ariana sendirian di dalam kamarnya.
Lalu menuruni anak tangga dengan terburu-buru dia menemui Megan, napasnya sedikit terengah-engah saat ia sampai.
"Megan?"
Megan tersenyum, dia mendekat namun terhenti saat Reykhel mengangkat tangannya setengah dada, "Mengapa kau kembali? Kau sudah tidak punya hak lagi atas diriku, setelah kepergian mu dua tahun yang lalu!"
"Rey, sungguh demi apapun tolong berikan aku kesempatan kedua..."
Reykhel menggeleng dengan menatap sendu pada wanita yang pernah mengisi ruang hatinya itu, "Kau sudah tak layak lagi untukku! Pergilah, kehadiranmu disini sudah tak ada tempat lagi!"
Saat Reykhel berbalik badan, "Kau berjanji mau menikahi ku dihadapan makam mamaku, Rey!"
"Dan kepergian mu telah menghancurkan janji itu! Pak Jang, tunjukan padanya di mana pintu keluar, jika dia masih tidak tahu, maka antarkan saja dia sampai ke tempat tinggalnya!"
Reykhel sudah tak mempedulikannya lagi, baginya Megan hanyalah masa lalu dari sebuah hubungan yang kandas.
"Kau bohong Rey, aku bisa melihat jelas cinta untukku dari matamu."
Katakan saja apapun selagi kau bisa meyakinkannya, Megan. Sama halnya dengan urat malu mu yang sudah putus.
__ADS_1
"Aku tahu itu, aku sangat mengenal dirimu Rey. Akan ku katakan yang sebenarnya sekarang... papamu melarang ku untuk menemui mu, aku sadar siapa diriku ini, hanya putri dari seorang Tuan yang menggelapkan dana perusahaan..." Megan mencurahkan segala isi hatinya, dia pun menangis saat itu juga.
"Tutup mulutmu! Berani-beraninya kau membawa-bawa papa ku dalam hal ini!" pekik Reykhel yang kemudian kembali menghadapkan tubuhnya menatap Megan.
"Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya kepada papamu sendiri." lirih Megan sembari mengusap air matanya, "Semenjak orang tua ku meninggal, papa mu datang dengan membawakan selembar tiket dan juga cek, dia memintaku untuk pergi... dua tahun lamanya aku menantikan penantian ini, setelah aku menjadi sukses, aku mendengar kabar pernikahanmu..."
"Papa mu yang salah, lalu mengapa harus aku yang menerima kebencian mu, Rey." Megan sampai tersedu-sedu, hidungnya memerah matanya pun menjadi sembab.
"Kau pikir aku peduli dengan semua itu? Kau yang memilih untuk menutupinya, jika kau berpikir itu adalah kebenarannya, lalu untuk apa kau menutupinya dariku... jika dua tahun yang lalu kau mengatakan yang sejujurnya kepadaku, mungkin semuanya masih akan tetap sama."
Megan menggeleng, dia masih berada di dalam tangisan yang dalam, sedih, merasa menyesal karena telah menutupi semua itu.
"Apakah dia punya pekerjaan yang mendesak? Tidak mungkin, kan, dia kembali ke kantor dengan memakai baju biasa."
Ariana menatap bekas makanannya, "Sudahlah, lebih baik aku turun saja ke bawah, tidak baik juga jika aku membiarkan bekas makanan terlalu lama."
Akhirnya Ariana pun memutuskan untuk turun ke dapur sembari membawa bekas makannya yang ia letakkan di atas nampan stenlis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya Ariana di anak tangga terkahir, dia bisa melihat tiga manusia di sana.
__ADS_1
Siapa wanita cantik itu? Tinggi, dan juga anggun... gumam Ariana, dia pun melihat pelayan Min yang berjalan menuju dapur, "Min?"
"Iya Nona, saya?"
"Tolong bawakan ini ke dapur ya..."
"Baik, Nona."
Karena penasaran, akhirnya Ariana pun melangkah mendekat, baru saja beberapa langkah, dan Megan bisa melihat sosok gadis mungil itu.
"Sayang?" seru Megan yang berlari kecil ke arah Reykhel lalu memeluknya, erat.
Deg!
Ariana terdiam di tempatnya, dia berada di belakang pak Jang, yang bahkan kepala pelayan itu sendiri tak menyadari kedatangannya.
Siapa dia, jika bukan orang terkhusus, dan memanggil sayang, Tuan bahkan tak menyangkalnya.
Benar, sejujurnya di dalam hati Reykhel masih memiliki sebuah rasa yang kecil untuk Megan. Jika di pupuk kembali maka perasaan kecil itu akan tumbuh menjadi perasaan cinta yang bersemi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1