
Fajar menyingsing hari baru di ufuk timur, deburan pelan ombak di tepi laut di mana pagi ini sepasang suami istri itu sedang jalan-jalan santai, membuat jejak kaki mereka tersapu dengan begitu mudahnya oleh sapuan ombak.
Bergandengan tangan menikmati sunset, semua penjaga sudah berada di posisinya masing-masing.
"Ariana?"
"Iya?"
"Kau bisa berenang?" tanya Reykhel sembari memeluk istrinya dari belakang, menghadap sunset pagi.
"Aku tidak bisa berenang, karena sewaktu kecil aku pernah hampir mati tenggelam."
Reykhel diam sejenak, lalu dia mencium pundak Ariana, "Selama ada aku di sisimu, maka aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, Ariana."
"Iya aku percaya padamu, suamiku..."
Waktu pagi hampir menunjukkan pukul 06.00 waktu Jepang, "Suamiku, ayo kita masuk di sini mulai dingin."
"Tidak apa-apa, ada aku yang menghangatkan mu..."
"Emh..." napas panah sedang membentur daun telinganya, tangan yang sedang meraba bagian tubuhnya, "Suamiku -"
Reykhel membalikkan tubuh Ariana agar bisa bersihadap dengannya, lalu tanpa memberi celah mulai menuntun Ariana ke dalam permainannya.
__ADS_1
"Suamiku jangan di sini," lirih Ariana dengan rona merah di wajahnya.
"Tidak akan ada yang melihatnya," Reykhel pun mulai membaringkan tubuh Ariana tepat berada di bawah kungkungannya, setiap pagi benda keramatnya selalu menegang dan membesar, dia ingin segera membuat Ariana menerima keperkasaannya.
"Su- suamiku, emh..." kedua matanya terpejam saat merasakan pusaka Reykhel memaksa masuk di antara celah dinding yang lembut dan mulai basah itu.
Melakukannya di gazebo atas laut, satu tarikan membuat tirai penghalang turun menutupi setiap sisi dari tempat itu. Tempat yang hanya tertutup tirai penghalang, yang terbuat dari bambu mahal di setiap sisinya.
Ariana mulai menikmati permainan Reykhel, sampai membuatnya serasa terbang di atas awang. Seolah-olah jiwa keduanya melayang dengan penuh kenikmatan.
Desahan mereka saling bersahutan dengan permainan yang mulai memanas, membuat Ariana bisa lagi mengikuti permainan suaminya.
Dia mulai lemas, napasnya pun sudah tersengal, "Emh..." tangannya memeluk erat Reykhel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selepas mandi dan sudah waktunya untuk sarapan, kali ini mereka tidak menyantap hidangan di dalam kamar.
Jackson, Ariana, dan Reykhel sudah duduk di kursi masing-masing, menikmati sarapan yang di hidangkan.
"Suamiku?"
"Hm?"
__ADS_1
"Setelah ini, aku ingin jalan-jalan..." sela Ariana meminta, tapi Reykhel hanya diam saja. Diamnya lelaki, itu artinya, tidak!
Ariana pun terlihat sedikit lesu tak bersemangat, dia menundukan pandangannya menatap piring yang sudah habis isinya.
"Iya, tidak masalah... bersiaplah," seru Reykhel yang langsung mengembalikan senyum di wajah manis Ariana.
"Benarkah?"
"Hm..." Reykhel tersenyum padanya, dia ingin belajar membahagiakan Ariana, dan semua itu di mulai dari hal kecil terlebih dahulu.
"Aaaaaa... baiklah, aku ganti baju dulu."
Jackson hanya diam saja, masih menikmati sarapan, tapi juga gelisah, karena nanti pasti Tuan muda akan menggangu waktu istirahatnya.
Ini sih namanya bukan liburan, melainkan memastikan liburan orang lain berjalan lancar, (눈‸눈)
"Cepat selesaikan sarapan mu, setelah ini ikut kami..."
Jackson sangat berpikir keras, "Aaaaa! Perut saya sakit, Tuan... maaf!"
secepat kilat dia meninggalkan ruangan makan dengan tak sopan seperti itu.
"Hei -" seru Reykhel yang terpotong.
__ADS_1
Jackson membalikan tubuhnya, dan langsung memberikan bow dengan ekspresi wajah yang kesakitan, bohong!