
Ariana pun segera menghabiskan makan malamnya dengan lahap, dia terlihat sangat lapar dan rakus.
Terburu-buru menyantap makanan membuatnya tersedak, "Uhuk!" segera di ambilnya air segelas untuk di minum.
"Ah, leganya..." masih tersisa beberapa suapan lagi, untungnya sejak kecil dia di biasakan oleh Bi Laurance untuk menyantap makanan di piring tanpa sisa.
Selesai makan malam Ariana segera kembali ke dalam kamarnya, dia duduk di tepi ranjang sembari memijit kedua kakinya secara bergantian.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 malam waktu setempat, kedua matanya pun sudah memerah akibat menahan kantuk.
"Hoam..." Ariana menguap, mulutnya pun tertutup oleh tangan, "Aaaaaa... Tuhan, mengantuk sekali diriku."
Malam bersambut kantuk, dia menutup aktifitasnya dengan sesuatu yang tak pernah ia duga seumur hidupnya.
Baru saja Ariana memejamkan kedua matanya, lagi-lagi dia mendengarkan suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Nona?" itu suara pak Jang.
"Astaga ya Tuhan, ada apa lagi ini?" kesal Ariana menggeram tak suka, segera Ariana beranjak bangun dengan wajah lelah menahan kantuk, dia turun dari ranjang untuk membukakan pintu kamar.
"Ya, pak Jang? Ada apa?" tanya Ariana dengan suaranya yang sedikit parau.
"Maaf Nona, tetapi Tuan muda meminta saya untuk memanggilkan Nona -"
"Kenapa dia tidak mati saja, sih?"
__ADS_1
sungut Ariana tanpa sadar di hadapan pak Jang.
"Apa Nona?"
"Ah tidak-tidak, ma- maksud saya ada nyamuk yang sejak tadi menggigiti saya... sepertinya kamar ini perlu di bersihkan," hahaha... astaga Tuhan, bodohnya aku.
Kedua manik cokelatnya pun seketika langsung segar bugar, "Baiklah pak Jang, saya akan segera ke kamar Tuan muda setelah mencuci muka."
"Baiklah Nona, akan segera saya sampaikan kepada Tuan."
Pak Jang mengangguk hormat pada Ariana dan segera pergi menuju lantai dua, kamar utama tuan muda Reykhel.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tok tok tok ...
"Masuk."
Semoga permintaannya tidak yang aneh-aneh, aku cukup lelah dan sangat mengantuk! "Tuan memerlukan sesuatu?"
"Duduklah," Reykhel menunjuk tepi rajang itu dengan sorot matanya yang tajam, apa lagi kali ini?
Ariana pun mengangguk dan duduk di tempat itu.
"Kau lihat buku antologi di atas nakas itu?" pandangan Ariana menatap ke objek tersebut, Ariana mengangguk.
__ADS_1
"Iya Tuan, apakah tuan ingin saya mengembalikannya ke ruang baca?”
"Bodoh! Aku bahkan belum membacanya sama sekali!"
Hah? Jadi maksudmu kau ingin aku lagi yang membacakannya untukmu? Ah, Ariana sudah sangat geram dibuatnya. Tidak tahukah dia ini sudah jam berapa?
"Cepat ambil!" seru Reykhel yang langsung menyandarkan tubuhnya pada sanggahan ranjang, "Cepat!"
"Baik, Tuan."
Ariana pun segera mengambil buku antologi nya dan memberikannya pada sang tuan muda.
"Jangan tidur sebelum aku selesai membacanya, mengerti?!” tegas Reykhel menitahnya tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu.
Hah? Sudah gila, ya!
Terlihat jelas guratan di kening mulusnya itu.
Ariana pun segera memposisikan tubuhnya untuk duduk—sebagai pendengar yang baik.
Waktupun terus berlalu, Ariana benar-benar tak kuasa menahna kantuk membuatnya berulang kali menguap, begitupun juga dengan Reykhel jarak penglihatannya mulai samar, buku di tangannya jatuh tergeletak begitu saja di atas ranjang dekat tubuh sebelah kirinya.
Kepala Ariana mulai mengangguk bukan karena untuk mengakhiri aktifitasnya dan pergi dari kamar, melainkan karena rasa kantuk yang sangat kuat menyerangnya.
Kelopak matanya pun mulai buka-tutup, hingga akhirnya, pluk!
__ADS_1
Tubuhnya rebah di samping Tuan muda, tanpa ia sadari.