
Pergantian waktu terasa begitu cepat, Ariana dan Reykhel baru saja selesai menikmati makan malam.
Ariana tak banyak bicara, dia menyimpun semua bekas makan mereka ke dalam wastafel, pelayan Min yang akan mencucinya.
"Saya yang akan mencucinya Nona, lebih baik Nona istirahat saja... Nona pasti lelah, kan?"
"Tidak ingin ku bantu?"
Pelayan Min menggeleng, "Tidak, Nona."
"Um baiklah kalau begitu aku mau kembali ke kamar ku dulu." Ariana berjalan melewati meja makan malam, sudah tak ada Reykhel di sana.
"Dia pasti sudah kembali ke kamarnya, syukurlah... jadi aku pun bisa tidur di kamar ku."
Klek!
Pintu kamarnya terbuka, Ariana yang tadinya tersenyum sekarang malah terlihat kesal.
Ternyata Reykhel sedang duduk di tepi ranjangnya, "Kenapa diam di situ, cepat kemari." pinta Reykhel sembari menepuk tempat kosong di dekatnya.
Sial sekali! Kenapa malah di kamar ku sih?
"Ariana!"
__ADS_1
"Iya."
Spontan dia menjawab, dan segera mendekat untuk memenuhi panggilan suaminya.
Dia duduk di sebelah Reykhel, saling berpandangan, pria itu benar-benar ingin kembali menanamkan benihnya.
"Lepaskan pakaianmu."
Ariana sedikit terkejut mendengarnya, karena tumben sekali dia memintanya dengan sopan.
"Kau ingin membukanya sendiri, atau kau ingin aku yang membukanya?"
Saat tangan Reykhel sudah menempel di dada Perusahaan Taenchi, "Aku yang akan membukanya."
"Emh..." kedua matanya terpejam menikmati sentuhan hangatnya.
"Aku menginginkan seorang anak laki-laki," tiba-tiba saja dia menggunakannya, membuat Ariana membuka kedua mata.
Gadis itu menatap tak percaya, seorang Reykhel menginginkan anak darinya? Apakah itu artinya dia telah jatuh cinta?
Wajah Ariana merona merah samar, dia merangkul kan tangannya ke leher Reykhel, membiarkannya menciumi ceruk lehernya.
"A- apakah itu artinya, Tuan telah mencintaiku?" pertanyaan yang cukup berani untuk mengetahui statusnya.
__ADS_1
"Aku seorang pria, bisa melakukan percintaan ini tanpa cinta. Aku hanya menginginkan anak darimu, bukan karena aku mencintaimu. Aku hanya memerlukan seorang penerus keluarga Wilson. Persetan Dengan cinta!"
Deg!
Mata Ariana seketika berkaca-kaca, lalu apa ini? Selama ini mereka terus bercumbu dengan mesra hingga berkali-kali, namun tak secuil pun cinta datang di hatinya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam kemudian pergumulan panas mereka pun selesai, Reykhel segera memakai pakaian lengkapnya lalu kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Ariana tanpa sepatah katapun.
Gadis itu meraih selimut untuk menutupi tubuh polos berjejak nya, dia menundukan wajahnya yang sudah basah berurai air mata.
"Mama..." dia menangis sesegukan, baru menyadari kehadirannya di rumah ini hanya sebagai sebatas penghangat ranjang, yang di haruskan melahirkan seorang anak laki-laki untuk pria itu.
Memikirkan itu semua membuatnya semakin sulit menjalani kehidupan, padahal anak perempuan juga tidak buruk.
Jika tidak ada anak perempuan, maka laki-laki juga tidak akan ada di dunia ini, bukankah mereka di ciptakan untuk saling melengkapi?
Apakah karena Ariana yang seorang perempuan yang juga lebih mudah di tindas oleh Reykhel, sehingga membuat pria itu berfikir bahwa perempuan hanya pantas untuk di sakiti, di tindas, dan di perlakukan secara tidak adil?
Belum kering juga air mata Ariana, dia sampai sesegukan.
"Besok pagi adalah jadwal untuk melakukan pemeriksaan, Jackson akan menjemputmu, dan juga ada Gerry yang akan ikut."
__ADS_1
Itu kalimat yang Reykhel lontarkan di tengah percintaan mereka yang panas.