SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 10


__ADS_3

Wellcome back my story


Jangan lupa like dan comen


Happy reading all


_________


"Wah keren bro cara lo ngerjain tu anak cupu, gue bangga punya sahabat kaya lo yang punya otak licik," ucap Deigo sambil merangkul bahu Dika dan menepuk nepuknya pelan agar tidak menyakiti sang empu yang punya badan.


Mereka bertiga sudah sampai di depan pintu Rooftop. Reyhan meraih gembok yang bertengger di bagian tempat pengunci pintu yang mana gembok tersebut dalam keadaan terkunci. Sejenak Reyhan menatap Dika seolah olah ia sedang meminta sesuatu kepada cowok itu yang sedang berdiri diam dengan ekspresi datar.


Dika yang mengerti akan tatapan Reyhan langsung merogoh saku bajunya dan mengambil sesuatu di situ. Dika melemparkan kunci gembok yang baru saja ia ambil kearah Reyhan.


Reyhan yang melihat kunci tersebut di lemparkan Dika kearah dirinya dengan gesit menangkap kunci tersebut dengan hanya menggunakan satu tangan . Namun kejadian selanjutnya adalah Reyhan tidak berhasil menangkap kunci tersebut, sehingga kunci itu jatuh kelantai tepat di kaki Deigo yang sedang berdiri menunggu cowok itu membuka gemboknya.


Deigo yang melihat kunci tersebut jatuh tepat di depan dirinya langsung berdecak kesal. Reyhan selalu begitu selalu kebanyakan gaya, sok sokan ingn menangkap kunci dengan sebelah tangan tapi tidak berhasil.


"Kalau gak bisa nangkap kunci pakek sebelah tangan, usah sok sokan pengen nangkap pakai tangan sebelah. Gaya lo alay, tau gak sih Rey," ucap Deigo dengan kesal. Deigo menendang kunci yang bentuknya kecil tersebut menjauh dari depan kakinya.


Reyhan yang melihat kunci yang ingin ia ambil di tendang oleh kaki Deigo, sontak langsung menatap Deigo tidak suka. Bagaimana Reyhan tidak marah, ia baru saja mencondongkan tubuhnya dan menjulurkan tangan kearah kunci tersebut dengan maksud ingin mengambil kunci itu.


"Apa?" Tanya Deigo dengan nada ketus saat menyadari tatapan jengkel dari Reyhan.


"Gak usah di tendang juga kali Go."


"Emang kenapa kalau gue tendang?"


"Kan gue jadi susah ngambil kuncinya."


"Itu mah derita lo," kata Deigo dengan wajah tenangnya tanpa memperhatikan perubahan wajah Reyhan yang muram.


Dika yang jengah dengan mereka langsung menyambar kunci yang tergeletak di lantai di dekat pintu setelah Deigo menendang tadi dan yang tak kunjung juga di ambil oleh Reyhan. setelah mengambil kunci tersebut, Dika membuka gembok tersebut dengan kunci yang ia ambil tadi.


Gembok itu sudah di buka olehnya, dan Dika langsung melangkahkan kakinya kedalam memasuki Rooftop yang menjadi tempat markas mereka untuk membolos di jam pelajaran yang tak mereka sukai.


Dan kebetulan sekali Dika, Reyhan, dan Deigo satu kelas, Jadi memudahkan mereka untuk melakukan sesuatu dalam segala hal, contohnya adalah mereka kompak membolos saat jam pelajaran sedang berlangsung dan juga mereka akan bersama sama di hukum.


"Lo itu orang nya kaya perempuan suka mewek Rey," ujar Deigo yang masih melanjutkan pertengkaran mereka tadi.


"Palingan lo yang banci Go," kata Reyhan untuk membalikan kata kata Deigo yang tadi membilangi dirinya kaya perempuan, "iya gak Dik?"


Saat Reyhan mengalihakan pandangannya ketempat Dika berdiri tadi pun langsung terkejut karena dirinya tidak mendepatkan Dika disitu.

__ADS_1


"Loh Dika mana Go? Apa jangan jangan Dika di culik," Reyhan tidak melanjutkan kata katanya karena merasa seram jika benar Dika di culik oleh itutu, Seytan taukan. Reyhan menyilangkan kedua tangan nya dengan kedua tangan memegang tangannya sendiri seolah olah ia sedang merinding.


Deigo yang mendengar ucapan Dika tadi yang mengatakan kalau Dika tidak ada di tempatnya langsung menolehkan kepalanya ke arah Dika berdiri tadi. Ia melirikan matanya kearah Reyhan yang sedang merinding ketakutan.


"Lebay tau gak! Noh Dika," tunjuk Deigo kearah Dika yang berada di dalam Rooftop yang sedang duduk menatap keatas dengan kaki kanan di luruskan kedepan dan satunya lagi di tekuk dengan lengan kiri yang bertumpu di lutut dan sesekali menyesap rokok di mulutnya.


"****___ Orang udah ketakutan setengah mati, eh ternyata orang nya dah masuk duluan, dan lagi enak enak ngerokok," omel Reyhan kepada Dika yang berada di dalam Rooftop dengan suara pelan agar Dika tidak mendengar makiannya.


Deigo menggelengakan kepalanya saat melihat Reyhan yang sedari dulu otaknya selalu gesrek, meskipun di ajar oleh orang terpintar di dunia sekalipun tetap saja tidak ada kemajuan dari otak Reyhan yang selalu setengah setengah sedari bayi.


"Woy tungguin gue ngapa!" Teriak Reyhan mengejar Deigo yang sudah terlebih dahulu melangkah masuk kedalam Rooftop.


Dika membuang ** rokok kesembarang arah. Ia mengambil kotak yang berisi rokok di dalam kantong seragamnya, di karenakan rokok yang ia hisap tadi sudah habis. Dika juga mengambil pemetiknya di dalam saku celana abu abu. Kedua barang tersebut tidak pernah ia tinggal kan kemana pun sebab kedua barang itu merupakan salah satu aset yang paling berharga di dalam hidup Dika.


Dika menyelipkan ujung rokok tersebut kesela bibirnya dan mengarahkan pemetik ke ujung rokok yang satunya lagi dan menyalakan pemetik tersebut sehingga membakar ujung rokok itu dan mengueluarkan asap. Dika memasukan kembali pemetik yang ia gunakan tadi ke dalan saku celananya dan mulai menikmati setiap hisapan rokok dan hembusannya.


Dika menyesap rokok tersebut nikmat, kemudian ia memjauhkan tangannya sembari menarik rokok yang tinggal setengah tersebut dari bibirnya, setelah itu ia menghembuskan asap rokok tersebut.


Dika tetap saja menatap lurus kedepan yang objeknya sama sekali tidak menarik. Tiba tiba saja sebuah ingatan melintas di kepala cowok itu, tentang saat ia membaca surat yang tidak ia ketahui siapa penulis dan pemilik surat tersebut, Dika berharap dirinyalah yang menjadi tujuan oleh penulis itu.


Jujur dengan hanya membaca rangkaian kata kata yang di olah menjadi sebuah kalimat bisa membuat hati Dika jadi tersentuh dan merasakan sebuah perasaan yang belum pernah sama sekali ia rasakan di dalam hidupnya. Meskipun ia memiliki banyak sekali mantan pacar, tapi ia tidak pernah sama sekali memiliki persaan yang seperti ini kepada pacarnya yang terdahulu.


"Dik! Bagi rokok dong satu," seru Reyhan kepada Dika yang sedang melamun dengan tatapan lurus kedepan.


Dika yang mendapatkan permintaan dari Reyhan pun langsung menatap kearah cowok itu. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke kotak rokok yang berada di genggaman tangan kirinya. Dika melempar kotak rokok tersebut asal kearah Reyhan.


"Dik, sekalian pemetiknya, gue tadi lupa bawa pemetik."


"Ck," Dika berdecak malas dan merogoh saku celananya. Dika memberikan pemetik tersebut dengan cara di lempar.


Dika yang merasakan bosan itupun langsung mengambil handphone di saku celananya dan memainkan benda itu, untuk sesaat menenangkan pikiran yang terus menerus memikirkan surat yang ia temukan tempo hari.


Dika sengaja tidak menceritakan temuan suaratnya kepda Deigo dan Reyhan, karena ia tidak ingin menjadi bahan ejekan. Seorang Dika Rontiwa yang terkenal akan ke playboyannya dan memiliki hati sekeras batu jatuh cinta dengan hanya membaca goresan tinta di atas kertas, kan gak mungkin banget, mau di letakan di mana mukanya, di puncak monas?


"Dik!" Seru Deigo yang sedang duduk bersandar memperhatikan kegiatan Dika yang membosankan.


"Hmmm," Dika menjawab seruan Deigo dengan daheman dan mata masih menatap ke arah ponsel.


"Dik!"


"Hmmm."


"Lo gak kasihan dengan Ana, lo kerjaiin mulu. kok gue jadi kasihan ya liat dia di bully lo terus."

__ADS_1


Dika yang mendengar pernyataan dari Deigo tadi langsung mengangkat kepalanya menatap cowok itu dengan lekat, tatapan tersebut seperti mengisyaratkan bahwa Deigo tidak boleh memgkasihani Ana jika ia tidak ingin merasakan bagaimana rasanya kepala terpisah dari tubuh.


"Lo suka sama dia? Kalu benaran suka silahkan keluar dari sini dan persiapkan diri untuk gue penggal kepala lo," peringat Dika dengan sadis.


Deigo yang mendengar tanda bahaya dari mulut Dika itupun langsung menelan slivanya, ia tidak ingin di bunuh dengan sia sia oleh Dika yang seperti pisikopat. Deigo juga masih ingin hidup.


Deigo memang banar kasihan dengan Ana, jika di perhatikan dengan lekat wajah Ana sangat mirip dengannya dan di tambah lagi saat berdekatan dengan Ana seperti ada magnet menarik dirinya untuk lebih menempel lagi dengan Ana.


_______


Kringgggg


Ana yang mendengar bel bertanda pulang berbunyi itupun langsung meraih tas punggungnya dan memasukan buku catatan kedalam tas yang berukuran kecil, kemudian ia memakai tas berwarna biru toska itu kepunggunya. Sedangkan buku cetak ia bawa dengan tangan kanannya, di karenakan tas Ana tidak muat menampung buku tersebut.


Serasa tidak ada lagi yang ketinggalan Ana berlari kearah luar kelas dengan terburu buru. kebetulan sekali hari ini pak Reto selaku guru Fisika tidak masuk karena istrinya bentar lagi lahiran, jadi mereka hanya di beri tugas membaca buku Fisika, sebab Pertemuan selanjutnya pak Reto akan memberikan tugas ulangan Fisika di kelas XII Ipa.3 yang merupakan kelas Ana.


Kenapa Ana bisa berada di dalam kelas bukannya di UKS? Jawabannya adalah tadi Ana yang merasakan badannya sudah mendingan langsung menyuruh Cika dan Lona mengantarkan dirinya ke kelas. Bagi Ana sungguh sangat rugi bila ia ketinggalan pelajaran.


Meskipun otak yang di miliki Ana tidak akan pernah mampu menampung banayaknya ilmu, tapi ia tetap berusaha masuk jurusan IPA yang notabenya sangat payah di sebabkan juga banyak Matematikanya. Ia tidak seperti Anak Anak yang lain, jika memiliki otak tidak mampu akan malas belajar, Namun tidak dengan Ana, ia akan berusaha semaksimal mungkin belajar meskipun daya ingatnya sangat kurang.


Ana terus lari terburu buru sehingga ia beberapa kali menabrak sisiwa yang sedang berjalan di koridor, Sehingga setiap siswa yang ia tabrak menggeram dan mengeluarkan sumpah serapah dari mulut mereka.


Setiap siswa / siswi yang menjdi korban senggolannya, Ana akan meminta maaf kepada mereka, walaupun ia belum mengetahui apakah dirinya di maafkan atau tidak oleh orang itu, yang terpenting ia sudah minta maaf.


Ana yang tidak terlalu memperhatikan jalan yang di padati oleh para sisiwa Mutiara Hati yang rata rata semua tujuannya adalah untuk segera pulang itupun menabrak salah seorang siswa sehingga ia dan orang itu terjatuh.


Buku cetak yang semulanya memenuhi tangan Ana ikut terjatuh dari tangannya sehingga buku tersebut berserakan di lantai. Ana segera mengambil buku cetak yang berserakan tersebut dan mengumpulkannya menjadi tumpukan buku.


Orang yang di tabrak oleh Ana tadipun ikut membantu Ana menyusun bukunya. Orang yang berjenis kelamin laki laki itupun juga membantu Ana untuk berdiri saat ia melihat Ana yang susah sekali bangun dari duduknya.


"Maksih ya, Maaf gue udah nabrak lo!" Ujar Ana meminta maaf kepada orang yang telah ia tabrak, "kalau gitu gue duluan."


Orang yang di tabrak Ana tadi pun mengangguk. Ana segera pergi dari situ untuk pulang kerumah yang sangat ia benci. Namun ia lupa mengambil sebuah kertas yang tadi ia selipkan di buku cetak yang ia bawa, kertas tersebut ikut terjatuh saat buku yang ia bawa terjatuh. Orang tersebut yang melihat Ana pergi, juga ikut meninggalkan depan kelas XII IPS.2 yang merupakan tempat kejadian perkara.


Surat tersebut tidak di ambil oleh Ana, karena ia tidak melihat surat tersebut jatuh sehingga Ana maupun orang itu tidak mengambil suarat itu.


Tak berapa lama kelas XII IPS.2 sebentar lagi murid akan keluar dari kelas tersebut karena proses belajar mengajar telah berakhir, maka para sisiwa akan pulang kerumah mereka masing masing.


Dika keluar terlebih dahulu dari kelas tanpa ikut memberikan salam penutup pelajaran dan sama sekali tidak menegur dan meminta izin kepada ibu Rahmah yang merupakan guru B.Inggris.


Di saat kakinya baru selangkah keluar dari pintu, Dika langsung menghentikan langkahnya saat matanya tak sengaja memandang sebuah kertas HVS tergeletak di lantai di depan pintu. Dika yang penasaran pun langsung mengambil kertas itu.


Dika menyatukan alisnya bingung saat ia melihat kertas tersebut sama berisikan surat dengan kertas yang ia temukan di dalam cafe beberapa hari yang lalu. Tidak ingin ambil pusing, Dika langsung memasukan kertas tersebut cepat ke dalam tasnya untuk ia baca di rumah, Sebab Dika sangat yakin jika surat tersebut di tujukan kepada dirinya, dan yang membuat Dika semakin yakin adalah penulis surat yang ia cari cari, bersekolah yang sama dengan dirinya. Dika tersenyum saat ia mengetahui di mana sekolah penulis tersebut berada, kemudian ia melanjutakan langkahnya dari depan pintu menuju parkiran.

__ADS_1


_________


Tbc


__ADS_2