SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 35


__ADS_3

Ana membuka pintu rumahnya dan melihat orangtunya yang tengah menunggunya. Ana mendecih menatap Vanesa ibu kandung tapi terasa seperti ibu tiri.


Entahlah Ana merasakan hal itu, dia sangat yakin bahwa dia bukanlah hal penting di keluarga ini.


"Kenapa pulang terlambat?" tanya Vanessa mengintrogasi Ana.


Ana menghela napas panjang dan berusaha tidak peduli pertanyaan dari ibunya. Tapi nyatanya Vanessa tidak tinggal diam.


"Ana!! Orangtua lagi ngomong didengerin!!"


Ana menarik napas panjang dan menatap ibunya. Tangannya terkepal, kenapa Vanesa masih peduli padanya?


"Mama kau masih peduli anak mu?"


"Ana!!" marah Vanessa dan menarik napas.


"Kenapa Ma? Kan kakak Misla adalah anak kesayangan Mama kenapa Mama gak pernah peduli Kaka kalau pulang telat."


"Tutup mulut kamu Ana!!" marah Vanessa dengan tangan terkepal.


Ana melihat ibunya yang menggenggam tangannya. Hati Ana teriris, dia sungguh berbeda dengan kakaknya yang disayang itu.


"Lain kali gak usah pedulikan Ana. Ana bukan anak kandung Mama kan? Lagian juga tidak ada kasih sayang mama yang menunjukkan Mama itu ibu kandung Ana."


Ana pergi dengan air mata yang menggenang. Vanessa tak henti-hentinya menarik napas panjang berusaha menahan amarah.


Wanita tersebut menggerang kesal. Kali ini Ana berhasil melawan dirinya. Nanti-nanti Vanessa tidak akan membiarkan kejadian seperti ini terulang lagi.


Ana menumpahkan tangisnya di dalam bantal. Wanita itu sangat kecewa saat melihat sang ibu yang sangat berbeda kepadanya.

__ADS_1


Ana selalu bertanya-tanya ada apakah gerangan, kenapa dia selalu dibeda-bedakan dengan Misla.


"Mama selalu aja ngeliat Kak Misla. Di mata Mama hanya ada kak Misla. Kenapa tidak ada aku? Kenapa?" lirih Ana lalu membuang bantal yang dipeluknya. "Apa aku harus jadi kak Misla dulu suapaya Mama peduli sama aku?" lirih Ana merasa miris dengan dirinya sendiri.


Ana mengambil kertas dan menatap kertas tersebut dengan lamat-lamat. Ia pun mencari pena miliknya dan mulai membuat kalimat indah.


Dear Mama dan Papa


Surat ini ku tulis dengan air mata. Aku tahu kalian sangat membenciku, tetapi alasan kalian membenci ku tidak pernah aku mengerti. Aku tahu aku adalah wanita bodoh, tetapi jika aku benar anakmu kenapa kalian memperlakukan aku seperti orang baru dan tidak seperti keluarga kalian? Mama mungkin surat ku seperti diary. Tetapi surat ini memang untuk kalian. Tidak tahu apakah suatu hari kalian akan membacanya atau membiarkannya. Aku anak mu, lihatlah aku. Aku sama seperti kak Misla, anak kalian. Aku ingin diperlakukan seperti kak Misla. Hari-hari memang terasa sakit, tapi tidak ada kalian aku juga sulit. Aku menyayangi kalian, tetapi kalian tidak pernah menyayangi aku. Semoga surat ini akan sampai kepada engkau, Mama, Papa ku.


From: Ana


Ana menatap goresan tinta di kertasnya. Wanita itu menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


Ana kembali membaca selembar surat itu lalu kemudian menangis kencang. Isi surat tersebut adalah suara hati miliknya.


"Aku... Aku ingin kalian melihat aku," ujar Ana terbata-bata sambil menarik ingus.


Hidup bagaikan pesawat kertas, terbang dan pergi membawa impian, sekuat tenaga dengan hembusan angin terus melaju terbang.


Itu adalah penggalan lagu yang membuat Ana selalu tabah. Lagu tersebut mengajarkan betapa hidup ini berjalan sangat lambat, dan semuanya butuh proses untuk memperoleh sesuatu.


Ana yakin dia pasti bisa melewati semua cobaan yang diberikan Tuhan untuknya.


"Udah jadi." Ana lantas menerbangkan pesawat kertas yang merupakan surat Ana tersebut keluar jendela. Memang tidak akan jauh terbangnya palingan akan jatuh ke sekitar.


Nyatanya dugaan Ana terbantahkan saat ia melihat angin yang berhembus kencang membawa terbang jauh pesawat kertas miliknya.


"Setinggi terbang mu dan setinggi itu pula harapan ku kepada orangtua ku."

__ADS_1


Ana menghela napas dan keluar dari balkon. Ia menatap ada Toni dan Vanessa yang berada di dalam kamarnya.


Cewek itu cukup terkejut melihat kehadiran kedua orangtuanya. Ana hanya terdiam sambil menatap mereka bosan.


"Ada apa kalian masuk ke kamar ku?" Ana melirik Vanessa, apakah Vanessa mengadu pada Toni kejadian tadi. Cih dasar pengadu.


"Ana!"


"Ya Papa?"


"Papa dan Mama memutuskan untuk kamu pindah sekolah ke Inggris." Mata Ana melotot mendengar pernyataan tersebut. Wanita itu menggeleng keras tidak ingin hal itu.


"Apa maksud Papa?"


Ana menatap Toni dan Vanessa bergantian. Jika dia pergi ke Inggris lantas dia akan meninggalkan Dika.


"Kamu belum paham juga Ana? Kamu akan Papa pindahkan ke Inggris, dan besok kita mulai berangkat. Malam ini cepat berkemas."


"PAPA!!" marah Ana brutal. Ia mengepalkan tangannya.


"Ana turunkan nada bicara mu!"


Toni dan Vanessa keluar dari dalam kamarnya. Ana menangis sesugukan di dalam kamar tersebut sambil menahan rasa marah.


"Kalian egois."


__________


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen setelah membaca.


__ADS_2