
Tak sesuai harapan, Dika dan Ana sedang asyik dengan hubungan mereka yang baru dimulai dan tiba-tiba keluarga Ana datang ke Inggris secara mendadak.
Ana menatap orangtunya bersama kakaknya yang tengah menatapnya dengan pandangan berbeda. Wanita itu tak bisa menjelaskan kepada ibunya maupun kakaknya. Ana hanya terdiam dengan Dika yang juga ada di sampingnya.
"Dika?" tanya ayah Ana kepada pria itu.
Laki-laki itu mengangguk membenarkan bahwasanya pria itu memang Dika. An terdiam berantisipasi takut-takut jika ayahnya akan memarahi Dika maupun mengusirnya.
"Lo ke Inggris itu buat kuliah bukan buat pacaran Ana!"
Ana memandang sang kakak yang membentaknya. Ana menahan napas dengan mata yang memanas. Ana bersusah payah mencengkram tangannya menenangkan dirinya. Ia tersenyum tipis walau pahit.
"Iya Kaka aku tau, tapi gimana dengan kakak sendiri?"
"Lo gak usah lancang!!"
Vanessa membulatkan matanya seolah tak boleh bertengkar dengan anak kesayangannya. Ana sudah lelah kepada kedua orangtunya. Mereka sama sekali tidak mengerti dan memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Ana saat ini.
Wanita itu menatap ayahnya. Apakah benar dirinya ini anak mereka? Kenapa perlakuannya sama seperti anak tiri.
"Pa, Ma, Ana tuh capek sama kalian. Capek banget, Ana pengen kalian gak ngurusin Ana lagi. Kalian gak pernah peduli sama Ana juga, kan? Anak kalian cuman Kak Misla, dan aku bukan anak kalian. Bener, kan? Palingan aku cuman anak angkat atupun anak pungut kalian."
Dika terkejut mendengar sang kekasih berucap kalimat tersebut. Ia mengusap punggung Ana menenangkan wanita itu agar tidak terlalu terbawa emosi. Tapi nyatanya Ana sudah terlalu lelah untuk bersabar. Ia ingin menumpahkan segala perasaannya.
"Sayang, sabar. Kalau mereka ngapa-ngapain kamu ada aku." Dika menatap ke arah ayahnya Ana, "Om, Om sadar gak apa yang sudah om lakukan ke Ana itu bakal nyakitin hati Ana. Bayangkan Om berada di posisi Ana sekarang, bagaimana perasaan Om? Atau Om memang tidak memiliki perasaan?"
__ADS_1
"Dika," tegur Ana. Ia tak ingin Dika terserat dalam masalah keluarganya. Biarkan ini menjadi urusan Ana sendiri.
"Gak papa. Tapi gue emang udah gedek banget sama papa kamu."
"Kamu anak kecil berani sekali memotong pembicaraan saya ya!!" marah Toni dan menunjuk wajah Dika.
Dika memutar bola matanya malas. Tatapannya ke arah Misla, apakah Misla sebaik yang ada di pikiran keluarga mereka? Tentunya tidak. Dika tahu betul bagaimana sifat Misla sebenarnya dan wanita itu salah satu simpanannya.
Ia sering bermain sama Misla dan mungkin karena hubungan ini yang membuat wanita itu kesal kepadanya dan melampiaskan kemarahannya kepada adiknya sendiri.
Karena ketidak sadaran Misla pula saat itu hingga Dika mengetahui keberadaan Ana di Inggris.
"Kenapa Om!!"
"Dika!!" geram Misla kepadanya. Dika mengangkat satu alisnya menantang wanita itu.
Bak disambar petir, hati Misla langsung tidak tenang mengetahui Dika akan mengatakan yang sebenarnya kepada orangtuanya.
Ia ingin melawan dari ancaman itu tetapi ini Dika yang tidak takut dengan ancaman. Ia juga anak orang kaya yang tentunya Misla akan percuma melawan pria itu.
"Misla! Apa yang kau lakukan?" tanya Vanessa yang terkejut dengan rahasia yang dimiliki oleh anaknya.
Tidak jauh berbeda dengan Misla, sejatinya Aja juga sangat terkejut. Tak mengetahui rahasia apa yang wanita itu simpan bersama kekasihnya.
"Ada apa? Apa yang udah kamu sembunyikan dari aku Dika?"
__ADS_1
Dika tersenyum melihat kekasihnya. Dika mengecup kening wanita itu dan menatap mata Ana dengan seksama.
"Maafkan aku."
"Ya ada apa?"
Misla yang melihat sang adik tengah menuntut jawaban dari Dika berpikir bahwasanya Ana akan marah jika mengerjakan kebenarannya. Lebih baik ia mengatakan yang sebenarnya dan bonusnya adalah kerusakan hubungan mereka.
Misla maju ke tengah-tengah dan tersenyum tak tahu malu. Ini akan mempertahankan martabatnya.
"Gue pacarnya dia. Dan gua lebih dulu pernah tidur sama dia."
Ana terdiam dan mencengkram kuat tangannya. Apa yang ia dengar tidak salah, bukan? Dika memiliki hubungan dengan Misla.
"Masih berhubungan Dika?"
"Udah putusin seminggu yang lalu sih. Kamu juga tau aku kaya gimana masa gak ngerti aku."
Ana terdiam. Masalahnya wanita itu adalah kakaknya dan Dika telah tidur dengannya. Bagaimana Ana tidak syok dan merasakan sakit yang sangat luar biasa. Ia pikir semua ini akan baik-baik saja dan Aja dapat menerima kekurangan Dika dan masa lalunya.
Ternyata sesakit itu untuk mencoba ikhlas. Rasa yang terpaksa diabaikan dan dianggap baik-baik saja. Hati mana yang sanggup berada di posisi Ana.
Ana berusaha agar tetap tegar dan meyakinkan dirinya.
________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA