
Wellcome back my story
Jangan lupa like dan comen
Happy reading all
______
Sore sehabis pulang sekolah Ana berancana akan pergi kerumah neneknya, yaitu nenek yang selalu menjadi sandaran Ana di saat dirinya dalam keadaan sulit dan sedang ketimpa masalah. Hanya neneknya seorang lah yang masih perduli dengan dirinya, sedangkan keluarganya yang lain seperti tante, om, bahkan sepupunya tidak pernah peduli dengan dirinya. Setiap mereka jika bertemu dengan Ana selalu saja melemparkan tatapan tidak sukanya, dan hanya kepada ia lah keluarganya memandang Ana seperti itu, sedangkan dengan kakanya Misla, mereka selalu memuja muji.
Ana juga tidak tau apa kesalahan dan dosa yang telah ia perbuat sehingga ia harus menghadapi situasi yang sulit seperti ini, Ana tidak tau harus berbuat apa lagi, yang ia bisa lakukan saati ini hanyalah menjalaninya saja, Ia hanya bisa pasrah dan menerima apa adanya sesuai dengan takdir dan ketentuan Allah tentang hidupnya.
Ana memandang dirinya yang berada di dalam cermin untuk memastikan apakah pakaiannya sudah benar atau tidak ada lagi yang berantakan seperti ada bagian pakiannya yang kusut.
Hari ini Ana mengenakan setelan swetter dan straight pants yang bahannya terbuat dari levis berwarna putih ke biru biruan, rambut Ana yang sepanjang sebahu itu ia biarkan saja terurai.
Ana membuka lemarinya dan mengambil bandana di dalam sana. Kemudian bandana tersebut ia kenakan di kepalanya yang tidak ada hiasan sama sekali, Ana memandang dirinya sekali lagi di kaca meja riasnya, apakah masih ada lagi kekurangan yang terdapat pada penampilannya pada hari ini.
Serasa tidak ada lagi yang kurang, Ana mengambil tas selempangnya yang berada di rak tas, Ana memakai tas tersebut ke pundak dan berjalan kearah pintu untuk keluar dari kamar.
Ana meraih gagang pintu tersebut dan membuka pintu yang hanya tertutup tetapi tidak di kunci. Sesudah pintu terbuka, Ana tidak langsung keluar dari kamar. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan kembali napas tersebut. Ana melangkah keluar dan kemudaian ia berbalik lagi untuk mengunci pintu kamar.
Setelah mengunci pintu tersebut, Ana memasukan kunci itu kedalam kantong celananya yang di bagian belakang. Dan selanjutnya ia melangkah kan kedua kaki jenjangnya meninggalkan depan kamar milik Ana sendiri untuk menuju kearah luar.
Di tengah perjalannya Ana melewati ruangan yang sangat keramat dan penuh kenangan bagi keluarga yang bahagia yaitu ruang keluarga. Ana menatap sekeliling ruangan tersebut, namun ia sama sekali tidak ada melihat keluarganya yang sedang bercanda ria.
Ana tersenyum getir saat melihat ruang keluarga yang selalu saja kosong, keluarganya ini bukalah keluarga yang harmonis, mereka semua lebih mementingkan ego mereka masing masing dari pada kebahagiaan keluarga yang belum sama sekali ia pernah dapat kan.
Ayahnya selalu saja melakukan perjalanan bisnis dan akan pulang berminggu minggu, ibu juga sama ia lebih mementingkan berkumpul dengan teman teman sosiallitanya dari pada berkumpul dengan keluaraga senidiri, sedangkan Misla ia selalu saja mengembangkan kariernya sebagai dokter, dan Misla saat ini memiliki tempat paraktek sendiri sehingga mengakibatkan Misla sangat sibuk.
Ana rasanya ingin berteriak memberi tahu ke keluarganya semua untuk meluangkan waktu berkumpul bersama sama atau liburan keluarga kesuatu tempat, Namun apalah daya Ana ingin memberikan masukan tentang hal itu, ia sendiri saja tidak pernah di terima di tengah tengah keluarganya, ia bagaikan sampah di kelurga itu. Hal seperti ini lah yang membawa Ana harus pergi dari rumah kemaren, bukan hanya hari itu saja ia ingin keluar dari rumah ini, hari ini juga sama Ana ingin sekali kabur jika tidak ada ancaman sama sekali dari sang papa.
Ana melanjutkan perjalannya yang terhenti tadi, ia berjalan kearah luar rumah untuk segera keluar dari rumah neraka yang hawanya selalu saja panas. Namun aktivitas Ana yang ingin cepat cepat keluar dari sini harus terhenti saat pendengaranya menangkap sebuah suara dari belakang.
"Kamu mau kemana," seru salah satu pembantu dirumah itu dan ia memanggil Ana sama sekali tidak menggunakan embel embel NON.
Ana berbalik ke belakang dari posisi yang semula menjadi menghadap kearah pembantu yang memanggil Ana tadi. Ana melemparkan semnyuman kepada pembabtu tersebut yang sedang berdiri angkuh dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku baju khusus seorang pembantu, seolah olah ia adalah majikan di sini sedangkan Ana adalah seorang pelayan.
"Ana mau pergi keluar sebentar, ntar kalau nyonya atau tuan yang nanya Ana kemana bilang aja Ana pergi kerumah teman," Ana sengaja tidak memberitahukan yang sesungguhnya kepada pembantu yang sedang berdiri tepat di hadpannya dan memandang Ana dengan penuh selidik.
Sebab Ana tidak memberi tahu yang sebebnarnya adalah, jika pembantu yang sok cari muka di depan keluarganya itu mengadu ke ayahnya yang ada Ana tidak bakalan mendapatkan izin karena nantik sang ayah akan menyangka Ana akan memberi tahukan semua penderitannya kepada sang nenek yang sudah berumur 60.
__ADS_1
"Hmmm," jawab pembantu yang namanya adalah Susanti itu dengan gaya angkuh padahal ia hanyalah seorang pembatu di sini tetapi lagaknya seperti seorang majikan, sepertinya pembantu itu bercita cita menjadi majikan tetapi tidak kesampaian.
Ana menggelngkan kepala melihat sang pembantu itu yang berbalik berjalan kearah dapur dengan gaya yang lebay, Ana juga sama ikut berbalik dan berjalan kearah luar lebih tepatnya lagi ia berjalan kearah garasi untuk mengambil motor miliknya.
Ana memasuki garasi dan berjalan kearah motornya yang terparkir di paling sudut ruangan itu. Ana menunggangi motor tersebut saat ia telah berhasil mengeluarkan motor dari garasi. Ana menggunakan motor Vario berwarna merah itu untuk ia jadikan alat transportasi yang mengantarkannya kerumah nenek.
Motor yang Ana gunakan sekarang ini ialah motor dari hasil jerit payahnya menjadi seorang penulis untuk menghasilkan uang. Bisa di katakan Ana hanyalah mengontrak geratis saja di rumah besar yang menjadi habitat nya saat sekarang ini, karena selama Ana tinggal di situ sangat jarang orang tuanya memberikan uang saku kepada Ana, kalau pernah pun mereka memberikan uang kepada Ana itupun hanya sesekali dan nominalnya hanya sedikit yang mana hanya cukup untuk Ana nikmati dalam sehari.
Ana melajukan motor Vario tersebut menyusuri padatnya jalanan Jakarta dengan alamat tujuan adalah kerumah nenek.
_________
Ana mermarkirkan motor Varionya di depan halaman rumah nenek dan bergegas segera turun dari motor, ia berlari kearah rumah nenek yang sudah berada di depan matanya dengan rasa rindu yang sudat tak terbendung lagi.
Ana sudah sejak lama tidak pernah bertemu dengan nenek setelah paska ia kabur dari rumah beberapa tahun yang lalu, jadi sangat wajar dong jikalau ia sangat merindukan nenek yang selalu cerewet terhadap Ana, meskipun begitu Ana tetep menyayangi sang nenek.
Saking cepatnya Ana berlari hingga tas yang ia gunakan itu jatuh ketanah akibat dari Ana yang tidak bisa mengondisikan tasnya yang terayun ayun akibat cepatnya Ana berlari. Ana megerem larinya dan mencondongkan badan seraya meraih tas yang terjatuh, Ana mengenakan tas tersebut kembali ke pundaknya.
Ana kembali berlari kearah rumah nenek yang sebentar lagi dapat ia capai karena saat ini posisi Ana sudah dekat dengan teras sang nenek.
Ana membuka pegahalang jalannya untuk masuk kedalam rumah yaitu pintu dengan keras, kemudian ia menghentikan larinya dan berdiam sejenak dengan keadaan kedua tangan bertumpu di kedua lutut dan napas yang tersengal sengal akibat larinya yang laju tadi, saking lajunya ia berlari mungkin rusa kalah dengan lari Ana barusan.
hos hos hos
"Nenek!!!!" Teriak Ana memanggil sang nenek.
"Nek! Ana datang!!"
"Nenek ada di mana sih, Ana kangen sama nenek,"
Ana terus saja memanggil sang nenek, namun Ana tidak mendapatkan sahutan atas panggilannya. Tak berapa lama pembantu yang bekerja di rumah itu keluar dari arah dapur dan menghampiri Ana yang sedang celengak celenguk mencari nenek di setiap sudut di ruang tamu.
"Ih apa nenek gak mau ketemu sama Ana ya," ucap Ana sedih karena tidak mendapat sahutan dari sang nenek yang sangat ia rindui, "apa nenek sama gak mau ketemu dengan Ana."
Ana tertunduk dan memandang lantai keramik dengan sedih, ia ingin membalikan badannya dan pulang dari sini dengan perasaan yang sedih karena tidak mendapatkan respon dari sang nenek.
Namun baru 90 derajat ia memuatarkan tubuhnya, langkah seseorang menghentikan kegiatan Ana yang ingin meninggalkan rumah nenek. Ana tersenyum pasti orang yang berada di belakang adalah neneknya.
"Ne___," rasa bahagia yang sempat menyelimuti Ana tadi pun hilang begitu saja saat ia melihat bukan neneknya yang ada di depan Ana saat ini tetapi melainkan seorang pembantu yang belum pernah Ana lihat sebelumnya, mungkin pembantu baru kali ya.
"Cari siapa non?" Tanya pembantu itu ramah.
__ADS_1
"Orang nya ada bi,"
"Ada kok non. si non siapa ya?" Tanya pembantu itu untuk memastikan gadis yang belum pernah ia lihat di rumah ini sebelumnya apakah orang jahat atau bukan.
"Nama saya Ana Pricila, panggil aja Ana, Orang yang punya rumah ini adalah kelurga Ana. pemilik rumah ini mana bi?"
"Oh keluarga enon toh. Orangnya ada di kolam renang, non tunggu aja di sini biar bibi yang manggil."
"Nggak bi, Ana mau kasih kejutan," ujar Ana dan berlari kerah kolam renang.
"Tapi non____," belum sempat pembantu itu memberi tahu sesuatu, Ana sudah pergi duluan ke kolam renang dan tidak menghiraukan lagi seruan sang pembantu. "Aduh gimana ini pasti nanti kena marah, apa aku kejar aja ya nona itu sebelum dia sempat masuk ke ruangan renang."
Pembantu tersebut mengejar Ana yang sudah jauh berlari kearah ruang renang yang menjadi tempat bermain dan berenangnya waktu dahulu.
Sedangkan di lain tempat, Ana terus saja memanggil sang nenek yang sudah lama ia tak jumpai, "Nenekkkk!!!"
Saking semangatnya untuk bertemu sang nenek, Ana tidak terlalu memperhatikan arena sisi kolam renang yang licin dan banyak bekas cipratan air, sepertinya ada yang berenang di sini. Ana berlari kecil dan kakinya menyentuh genangan air hingga ia terpeleset.
"Aaaaa," teriak Ana, entah mengapa beberapa hari belakangan ini ia sering sekali terjatuh.
Ana yang menyadari dirinya terpeleset itu pun langsung menutup mata untuk persiapan merasakan bagaimana dinginnya lantai dan sakitnya bokong, Ana pasrah untuk merasa kan itu semua. Namun Ana sangat heran kenapa ia tak menyentuh nyentuh lantai juga apa dirinya jatuh ke surga ya, maka ia sama sekali tak merasakan sakit.
Ana yang penasaran dengan hal itu pun langsung membuka kedua matanya. Dan pemandangan yang di atas dirinya mampu membuat Ana sangat shok dan tidak bisa di cegah lagi ia langsung berteriak sekekras kerasnya.
"AAAA HANTUUUU," teriak Ana kuat dan sesaat kemudian ia terdiam saat ia melihat pemandangan laki laki yang tanpa busana dan hanya mengenakan celana dalam yang basah sepanjang lutut, laki laki itu sangat tampan dan di tambah bagian perut yang sobek sobek sungguh sangat menambah kesan gagah bagi Ana saat ia melihat dari bawah, ya laki laki itu yang menangkap Ana saat hendak terjatuh kelantai, ia memegang pinggang Ana agar Ana tidak menyentuh kerasnya lantai.
"Tampan," gumam Ana tanpa sadar melihat ketampanan laki laki itu dengan jelas di mukanya.
Orang itu yang mendengar gumaman Ana yang seperti bisikan tersebut pun sontak langsung melepaskan tangannya dari pinggang Ana sehingga Ana terjatuh kelantai.
Saat Ana ingin terjatuh ia meraih tangan laki laki itu dan menarik tangan tersebut, sehingga orang yang di tarikpun ikut terjatuh, dan orang tersebut tidak sengaja menempelkan bibirnya di bibir Ana dengan posisi Ana yang berada di bawah dan orang itu pas berada di atas Ana. Ana yang merasakan ada benda kenyal dan basah menyentuh bibirnya pun melotot tidak percaya. Frits kiss Ana.
Sedangkan pembantu yang melihat itupun langsung terdiam di dekat ambang pintu masuk kolam renang saat melihat anak majikannya yang sesadang berciuman. "Aden," gumam pembantu tersebut agar tidak kedengaran oleh orang yang ia panggil aden tadi.
_____________
Tbc
jangan lupa like dan comen
ig:amandaferina6
__ADS_1
fb:Nda