
Wellcome back my story
Jangan lupa like dan comen
Happy reading all
HATI HATI TYPO BERTEBARAN
----------
Tiba tiba persendian tubuh Ana membeku ketika mendengar pertanyaan sang ayah tadi, ia menelan slivannya payah. Ia harus menjelaskan apa kepada ayahnya tentang sore semalam pergi dari rumah dan pulangnya hampir tengah malam. Sorot mata sang ayah yang penuh dengan introgasi itu pun mampu membuat mental Ana menciut dan seakan mulutnya telah di jahit sehingga ia bungkam karena bingung kata kata apa yang ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan yang ayahnya berikan.
Toni mendekati sang anak yang masih saja bungkam belum mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Toni mengamati anaknya yang sudah berada di depan mata dengan kebencian yang mendalam. Toni rasanya ingin sekali menyiksa anak perempuan berumur 17 tahun yang ada di hadapannya ini. Wajah yang di miliki Ana mengingat kan ia tentang seseorang yang sangat ia benci kehadiran di dalam hidupnya waktu dahulu.
"Jawab papa. Kamu dari mana Annaa!!" Ucap Toni yang bersusah payah untuk menahan api di kompor agar tidak meledak.
Ana tetap diam. Ia tidak menjawab pertanyaan sang ayah kepada dirinya. Ia berdiri acuh tidak peduli dengan ayahnya yang terus bertanya dari mana ia malam tadi. Bahkan Ana tidak takut sama sekali jika ia nanti mendapatkan kemarahan sang ayah. Terkadang Ana merasa heran, sudah tua ko ayahnya sering marah marah, nggak takut apa kalau misalnnya nanti ayahnya terkena serangan darah tinggi.
"Penting buat papa Ana dari mana malam tadi?" Ana terkekeh pilu saat mengatakan itu.
"Pa! Papa nggak pernah peduli kan dengan Ana? Ana mau dari mana kek itu bukan ursan papa. Jadi papa jangan sok perhatian mau nanya Ana dari mana," lanjut Ana dengan kedua sudut bibir yang di kembangkan. Senyuman tersebut bukanlah senyuman bahagia, tetapi melainkan senyuman itu ialah cara Ana menahan sesak di dada yang melanda dirinya.
"Ana jangan lancang kamu dengan papa mu."
Sebuah suara geraman dari arah belakang Toni menimpali perkataan Ana tadi. Orang tersebut berjalan kearah mereka Ana dan Toni yang sedang beradu tanya jawab.
Ana melirikan matanya dari wajah Toni ke wajah sebelahnya yang berdiri di sebelah Toni. Ia menatap ibunya lirih, bentakan dari sang ibulah yang mampu membuat Ana terbius tidak berani menjawab.
"Lagian jika Ana jawab pasti Ana akan di marah sama papa dan mama, jadi Ana nggak akan jawab Ana dari mana. Lagian jawaban Ana tidak akan pernah membuat kalian peduli dengan Ana sama seperti kak Misla. Kak Mis! Jangan adu domba papa mama lagi buat ngebenci Ana."
Misla diam mendengar perkataan yang menohok menyinggung dirinya.
__ADS_1
"Diam kamu Ana, jangan pernah kamu ngatain Misla kalau dia yang mangadu domba kami buat benci kamu Ana. Lagian memang kamu yang selalu berbuat masalah, dan juga kamu nggak pernah ngebanggain kami, yang ada hanyalah membuat susah orang tua, nggak bisa apa apa, tukang ulah malu keluraga. Sedangkan Misla, ia selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga ini. Coba kamu contoh kaka kamu Ana," ujar Toni yang membela sang anak kesayangan.
"Belain aja terus kak Misla sampai berkembang! Dan satu lagi Ana bukan kak Misla dan kak Misla bukan Ana, jadi Ana gak pernah bisa jadi kak Misla dan kak Misla juga gak bisa jadi Ana."
Stelah mengatakan itu, Ana langsung meninggalkan ruang makan tersebut dan ia pergi ke garasi untuk mengambil motornya yang terparkir di sana setelah subuh tadi supir Dika mengantar motornya. Padahal Ana pagi ini ingin happy happy saja, tetapi kenyataan berkata sebaliknya. Sakit rasanya hati ini mendengar sang ayah yang selalu membeda bedakan dirinya dengan Misla yang di anggap sempurna di keluarga ini.
---------
Ana menyusiri koridor dengan bersenandung ria untuk menetralisir dan menghibur perasaanya yang berantakan. Ia melewati sebuah lorong sepi yang tidak terpakai, bukan berarti lorong ini tidak ada orang di sana, asalkan kalian tau lorong ini ada orang yang melewatinya tetapi hanya beberapa orang saja, dan sepertinya kebetulan sekali saat ini hanya Ana yang melewati lorong yang merupakan jalan pintas kearah kelasnya terletak.
Ia membuka headphone di telinganya. Ia memasang headphone tadi pas waktu ia di parkiaran tadi. Musik yang ia putar adalah musik yang bergendrekan K-POP yang mana gendre musik tersebut lagi hot hot nya di Indonesia.
Langkahnya harus terhenti saat Ana tak sengaja mendengar suara berisik di dalam lorong tersebut. Ana mengernyit bingung, bukankah di lorong ini hanya ada dia sendiri. Wait!! bentar suara itu bukan suara sisiwa yang sedang mengobrol tetapi melainkan sura tersebut ialah suara pertengakran atau lebih tepatnya lagi adalah suara seseorang sedang bentrokan.
Ana berjalan mengikuti suara itu yang setiap langkahnya suara tersebut semakin menggema di telinganya. Sebenarnya ada rasa takut saat menelusri lorong yang minim cahaya, di sini cahaya di hasilkan dari lubang lubang angin saja, dan keadaan seperti itulah membuat pertahanan Ana runtuh. Bulu roma Ana meremang saat ia semakin dalam menyusuri lorong tersebut, Ana ingin memutar tubuhnya kembali tidak jadi ingin melihat apa hal yang terjadi dari suara yang ia dengar.
Namun kegiatan Ana harus terhenti saat ia mendengar sebuah suara jeritan kesakitan dari arah lorong tersebut. Ana tercekat, ia di landa penasaran yang tinggi. Kini Ana memutuskan kembali untuk menghampiri suara pertikaian tersebut, ia tidak peduli lagi dengan rasa takutnya, kini rasa penasaran yang tinggi lah yang telah menguasai Ana sepenuhnya.
Ana terperangah karena ruangan lorong ini lampunya yang perasaan Ana telah rusak tetapi kini lampu tersebut menyala. Ia memang saat ini berada jauh dari ruangan yang terdapat lampu tersebut. Ana terkejut setengah mati saat ia melihat Dika di keroyok 5 orang siswa. Ana yang melihat itu langsung berlari mendekat kearah Dika yang sudah di buat babak belur oleh sekelompok orang tersebut.
Dika yang sudah letih menahan sakitnya pun mendongak setelah mendengar suara Ana. Ia berdecih melihat Ana yang sangat terlihat sekali jika ia hanya berpura pura berani kepada preman tersebut dan sok menjadi pahlawan. Bodoh sekali Ana, yang ada jika Ana di situ ia juga terkena imbasnya karena telah berani menolong dirinya.
Namun dugaan Dika salah, kini ketua kelompok tersebut menginstruksikan kepada yang lain agar pergi dari sini.
"Cabut," titah sang ketua kelompok tersebut. Dika menatap orang orang yang telah mengeroyoknya tidak percaya, hanya dengan leraian dari sang perempuan orang orang itu berhenti memukuli dirinya.
"Tapi bos--" ujar salah satu di antara mereka yang belum puas memukuli Dika.
Orang itu berhasil mendapatkan pelototan dari Ana saat ia ingin merayu sang ketua untuk melanjutkan aksinya tadi. Ana membuka sepatu sekolahnya dan menenteng sepatu tersebut kearah sekelompok sisiwa tersebut.
"Pergi nggak kalian dari sini!!! Kalau tidak siap siap aja kalian ngerasain gimana rasanya di lempar pakai sepatu," perintah Ana dengan tangan kanan yang berisikan sepatu tersebut bersiap siap untuk melempar sepatu sekolahnya.
__ADS_1
Sontak sekelompok siswa itu yang mendapat ancaman dari Ana langsung lari kebirit birit takut jikalau kena lempar pakai sepatu super oleh Ana. Ana yang melihat orang orang tersebut telah lari, memakai sepatunya kembali ke telapak kaki yang beralaskan kaos kaki hitam putih.
Ana menatap kearah Dika yang sedang terduduk menahan rasa sakit yang di rasakannya. Dika menekan nekan bagian wajahnya yang lebam karena bekas pukulan tersebut. Ia meringis saat ia menekan lebam pada pipinya dengan kuat.
"Akhhh..."
Ana berjongkok di samping Dika dan mengamati wajah Dika yang lebam lebam tersebut. Ia ikut meringis saat mendengar Dika meringis merasa sakit pada wajahnya.
"Sakit gak Dik?"
Dika memandang kearah Ana, "ya sakit lah begok! Gak liat muka gue apa yang biru biru gini."
"Dimana lo tau kalau muka lo biru biru. Bukannya lo nggak liat muka lo sendiri."
"steres gue ngmong sama lo! Buruan kek lo cari obat buat ngobatin muka gue. Jangan ngajakin gue ngborol aja, itu bukan ngurangin rasa sakitnya tetapi menambah penderitaan gue tau nggak."
"Lo bisa berdiri kan?"
Dika mengangguk. Ana membantu Dika yang kelihatan kesusahan untuk berdiri. Ana meletakan lengan kekar Dika di pundak nya untuk menuntun cowok itu berjalan dan juga sebagai penahan Dika agar tidak oleng menahan beban berat badannya.
"Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Dika.
"Ikutin aja gue."
Dika memghela napas dan terpaksa mengikuti Ana yang membawa dirinya entah kemana.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN COMEN
__ADS_1
IG:amandaferina6
FB: Nda