
Typo bertebaran
______________
Kini mereka telah sampai di depan sebuah gedung tua yang tidak terpakai lagi, Dika pun memarkirkan motornya di depan gedung tersebut. Ana tak mengerti mengapa Dika membawanya kemari, ia ingin bertanya kepada laki-laki itu, namun niatnya itu ia urungkan ketika dirinya merasakan hawa dingin menyelimuti cowok itu.
Dika turun dari motor seraya melepaskan helm yang masih melekat di kepalanya, lalu ia meletakan helm tersebut di dekat motornya.
Sedang kan Ana yang notabenya sudah turun duluan ketimbang dengan Dika, hanya menatap cowok itu dengan mata yang penuh permintaan tolong. Dika memandang Ana yang belum bergerak juga dari tempatnya, lalu ia berdecak ketika melihat helm belum terleps juga dari kepala cewek itu.
Ia pun berjalan mendekati Ana dan berdiri di depan perempuan tersebut dengan jarak yang lumayan dekat. Lalu tangannya terangkat membukakan helm dari kepala perempuan tersebut. Jantung Ana berdetak melebihi dari biasanya ketika melihat wajah Dika yang begitu dekat dengan wajahnya, mata Ana seakan terhepnotis dengan wajah sempurna tiada bandinganya milik Dika.
Tangannya yang tidak bisa di ajak kerja sama pun terangkat menyentuh hidung mancung Laki-laki itu yang tengah serius membukakan helm di kepalanya. Dika yang merasakan Ana menyentuh wajah bagian hidungnya langsung menghentikan aktivitas yang sedang ia jalankan, lalu ia juga ikut menatap wanita yang berada di depannya.
Pandangan mereka bertemu ketika Dika mengangkat wajahnya. Ana tertegun dengan manik mata indah Dika, ia seakan lupa dunia jika sudah melihat wajah pria itu, maka dari itulah akhir-akhir ini ia tidak mau bertemu atau bertatap muka langsung dengan Dika, karena jiwa ingin memiliki hati Dika yang tidak mungkin ia miliki memberontak.
"Terpesona heh!" Kata Dika yang sudah sadar terlebih dahulu.
Ana langsung sadar dari kahyalan sialanya itu dan dengan seketika ia menarik tangannya dari wajah Dika. Wajah perempuan tersebut memerah, refleks ia langsung memalingkan wajahnya dari Dika dan menatap ke tempat lain.
Tak sengaja Ana mengalihkan tatapannya kepada tong sampah yang penuh berada di dekat mereka, tetapi bukan hal itu yang membuat Ana ingin berteriak dan segera menghilang dari sana, tapi melainkan puluhan kecowak serta tikus yang membentuk geng sedang berkeliaran di sana lah membuat Ana akhirnya berteriak sekencang mungkin dan langsung berhambur memeluk tubuh maskulin Dika.
"Kyaaa Dikaaaaaaaa."
Dika mengernyit melihat Ana, ia membiarkan saja wanita itu memeluk tubuhnya, namun ia sama sekali enggan membalas pelukan perempuan tersebut. Kemudian Dika menatap kearah yang di tatap Ana tadi, lalu ia tersenyum sumringah.
"Gue rela tiap hari bawa tikus sama kecowak bila bertemu dengan lo, asalkan gue dapat bonus kaya gini setiap hari atau perlu lebih dari pada ini," ujar Dika sembari mengejek perempuan tersebut yang belum melepaskan pelukannya seakan perempuan itu tidak rela melepaskannya.
Mendengar perkataan dari Dika tadi, Ana baru menyadari jika ia tengah memeluk pria dingin itu, wajah Ana dalam hitungan detik langsung memanas dan ia pun sontak langsung melepaskan pelukannya dari Dika.
"Apaan sih Dik, nggak jelas," gerutu Ana yang sedang salah tingkah.
Dika pun memandang Ana yang berbicara kepada dirinya namun tak menatap wajahnya. Ia pun tersenyum miring kepada perempuan tersebut seraya mencubit gemas wajah Ana yang memerah.
"Kata orang wajah merah itu bertanda seseorang sedang gugup kepada orang yang di cintainya," kata Dika sambil memasukan sebelah tangannya kedalam saku celana.
Ana yang mendengar pernyataan dari Dika tadi, spontan menatap cowok itu.
"Kaya siapa?"
"Kaya elo,"
"Tapi gue nggak cinta sama lo."
Dika mengangkat bahunya bertanda ia tak peduli, ia ingin berjalan pergi dari sana dan menuju ke tempat tujuannya, namun laki-laki itu langsung berhenti seraya menatap Ana. Ia pun mengacungkan jari telunjuk kearah perempuan tersebut. "Wait, kalau lo nggak suka sama gue, kenapa lo tadi merasa bahwa ucapan gue tadi bermaksud kalau lo menyukai gue, seharusnya kalau lo nggak cinta biasa aja dong. Fix gue simpulin kalau lo suka sama gue."
Tiba-tiba dunia perempuan tersebut seakan berhenti berputar mendengar penuturan Dika barusan. Rasa gugup yang semula tenang kini menggebu kembali dan bedetak lebih cepat seakan jantungnya telah konslet. Lalu cewek itu menatap kearah Dika yang sudah berjalan dan terlihat jauh.
"Tapi gue beneran nggak suka sama lo Dik!!!" Teriak Ana sembari mengejar laki-laki itu yang masuk kedalam gedung.
"Udah ngaku aja kalau lo cinta sama gue sebelum cinta lo itu masuk ke tahap stadium 100, asal lo tau di dunia ini nggak ada obat cinta sama gue selalin bunuh diri."
"Apa dia bilang bunuh diri. Cih gue nggak akan sampai segitunya kali," gerutu Ana halus.
"Beneran gue nggak cinta sama lo!!! Lagi pula mana ada stadium sampai 100 di dunia ini," teriak Ana yang mulai dekat dengan laki-laki itu.
"Orang bilang gak ada, tapi gue bilang ada," ujarnya ketus dan terus fokus dengan jalan.
Perempuan itu tak mengerti dengan jalan pikiran Dika yang telah termakan ajaran sesat sehingga laki-laki itu menyimpulkan dirinya semaunya. Meskipun simpulan Dika benar adanya, tau ah masa bodoh dengan hal itu.
"Dika kita mau kemana?" Tanya Ana sambil menatap cowok itu yang berjalan di sampingnya.
Dika tak menjawab pertanyaan Ana tadi. Matanya menatap dingin kearah depan tanpa ada ekspresi, dan raut wajah Dika yang seperti itu lah membuat Ana menajdi kesal, lantas perempuan tersebut memajukan bibirnya yang menggambarkan kalau ia kesal kepada laki-laki itu dan bahkan sangat-sangat kesal.
Kini sampailah mereka ke tempat yang di maksud Dika. Rooptof. Yah Dika sengaja membawa Ana ka gedung tua ini dan berdiri di bagian Rooptof untuk menikmati sunset.
Ana berdecak kagum ketika netranya menyaksikan kota jakarta dari atas, begitu indah. Lampu-lampu rumah penduduk pun menyala menambah kesan indah di sana. Wanita itu belum pernah menyaksikan kota Jakarta dari ketinggian seperti ini, lalu ia pun berlari di atas rooftop dan berputar-putar bahagia sembari berteriak kencang.
__ADS_1
Perempuan tersebut pun menghentikan putarannya dan menatap kearah Dika yang sedang berada di sisi rooftop dengan mata yang tak lepas dari keindahan ibu kota. Ia pun berjalan menghampiri Dika dan berdiri di samping laki-laki itu, lantas tersenyum melihat pemandangan yang menkjupkan tersebut.
"Suka?"
Ana menatap Dika sembari memamerkan senyum manisnya dan seraya mengangguk. "Sukaa banget."
"Lo sering kesini ya?" Tanya Ana dengan mata yang menatap kebawah ke pemandangan kota Jakarta, dan kemudian menatap kearah matahari yang malu-malu untuk menenggelamkan diri.
"Hmm." Ana langsung menatap kearah Dika.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya."
"Kenapa lo sering kesini?"
Dika pun menatap Ana yang berada di samping, namun ia tak langsung menjawab pertanyaan dari perempuan tersebut, ia begitu menikmati wajah Ana yang di tiup angin hingga beberapa helai dari rambut perempuan tersebut terbang dan menutupi wajah perempuan itu.
"Ketika gue merasa kesepian, gue selalu ke sini." Terdapat kesedihan yang mendalam saat laki-laki tersebut mengatakan hal itu. Berbanding terbalik dengan Ana, jika ia merasa sedih maupun kesepian maka ia akan menyibukan dirinya dengan menulis surat serta Novel, karena bagi Ana, kegitan tersebut dapat membantu melupakan kesedihan.
Dika pun meraih rambut Ana yang menutupi keindahan wajah perempuan itu dan kemudian ia menyelipkan helaian rambut wanita tersebut di telinga. Sedangakan Ana tidak bisa menahan gugupnya, ia memperhatikan Dika yang sedang menyelipkan rambutnya, sesaat kemudian perempuan itu pun sedih ketika ia ingat siapa Dika dan siapa dirinya. Rasa itu kembali muncul saat laki-laki itu memperlakukannya begitu manis, ia tidak bisa menenggelam kan rasa ini jauh-jauh.
Jika sdah seperti ini ia tidak bisa menahan lagi, entah sejak kapan rasa itu bersemi di hati perempuan tersebut. Tangan Ana pun menahan tangan Dika yang sedang sibuk mengatur rambutnya yang terus berterbangan.
Spontan Dika langsung menatap Ana, ia pun mengernyitkan alis melihat Ana yang menjauhkan tangannya.
"Kenapa?"
"Nggak papa, nggak enak aja." Ana pun menatap kembali kearah rumah penduduk serta gedung-gedung pencakar langit, air mata terus saja ingin menembus pertahanannya, rasa ini terus menggebu-gebu di dada.
"Kenapa lo ngajak gue kesini? Emang lo nggak sholat Dik?" Dika ikut memalingkan badannya menatap ke depan.
"Pengen aja. Malas," jawabnya singkat namun penuh mengandung arti, "Lo sendiri kenapa nggak sholat?"
Ana bingung ingin menjawab pertanyaan dari Dika, ia celngak-celenguk untuk menacari alasan, sebab ia sangat malu menjawab pertanyaan dari Dika tadi.
"PMS," jawabnya pelan bahkan mungkin tidak terdengar. Namun dugaan Ana salah, pendengaran Dika sangat tajam, lantas cowok itu terkekeh dan kemudian mengacak rambut kepala Ana halus.
Seluruh tubuh Ana menegang dengan perlakuan Dika, sumpah ia belum pernah merasakan di perlakukan dengan semanis mungkin seperti ini, dan apalagi pelakunya adalah Dika. Orang yang selalu menggapnya hanyalah sampah, dan sering di permalukan di tempat umum oleh laki-laki itu.
"Pantas, kaya ada manis-manisnya gitu," ujar Dika sembari terkekeh lagi.
"Heh. Emang gue le mineral apa?" Kesal Ana.
"Mungkin!"
"Maksud lo?"
"Coba lo perhatikan, le mineral itu dari air pegunungan, air pegunungan itu mengalir terus. Sama dengan kecantikan lo, selalu mengalir terus," ujarnya sembari menatap Ana dan tersenyum tulus yang belum pernah sama sekali ia tamapakan di depan Ana.
Ana terhanyut dengan senyuman laki-laki itu sekali gus ia juga terhanyut dengan kata-kata manis cowok itu yang di ucapkan kepadanya. Tidak, ia tidak boleh berharap lebih dari Dika, mencintai Dika tantanganya adalah sakit, ia belum siap akan hal itu, dirinya dan Dika bagaikan air dan minyak, sama-sama cair tapi tidak akan pernah bisa bersatu.
"Tumben lo bilang gue cantik," ucap Ana seraya menundukan kepala.
"Lagi mau aja."
"Berarti lo nggak tulus dong, mujinya." Ada rasa sakit tersendiri mendengar jawaban dari Dika, padahal bunga-bunga di hatinya telah mekar begitu indah, dan kini layu kembali dan menjadi padang yang tandus dan sangat menggersangkan di dunia.
Laki-laki itu tak menjawab pertanyaan dari Ana, tetapi malahan laki-laki yang berpostur cukup tinggi dari Ana tersebut menggengam tangan Ana di bawah sana. Refleks cewek tersebut memandang Dika yang begitu serius menatap matahari yang tinggal sepenggalah menghilang dari bumi dan menggantikan siang menjadi malam.
"Dik," lirih Ana seraya melihat tangan mereka yang bertautan.
"Biarkan saja seperti ini," ujarnya semakin mengeratakan genggamn tangannya pada tangan Ana. "Lo suka nulis suarat cinta nggak?"
Seketika Ana tersadar dan hatinya tiba-tiba menjadi gelisah, pasalnya tidak ada satu orang pun yang tau bahwa ia sering sekali menulis surat cinta selain dirinya dan tuhan. Tetapi ini, kenapa Dika bertanya seperti itu? apa Dika tau rutinitasnya?
__ADS_1
"Enggak," jawab Ana sembari menggaruk telinganya serta tersenyum agar dapat meyakinkan Dika.
"Oh."
'Kenapa gue bisa mikir bahwa Ana penulis surat tersebut sih. Yah enggak lah Dika, mana mungkin Ana yang nulis surat tersebut. Ah bodoh lu, malu-maluin aja.' Dika memaki dirinya sendiri di dalam hati.
"Emang kenapa?"
"Enggak papa."
Ana pun mangguk-mangguk mengerti. "Dik kamu tau nggak kalau ada hal lain yang lebih indah dari sunset?"
"Tau."
"Apa??" Tanya Ana penuh harap.
"Hati. Keindahan sunset hanyalah sementara, pabila malam telah tiba maka sunset pun hilang. Tetapi keindahan yang lebih menyenangkan dan bahkan selalu di kenang sepanjang masa adalah keindahan hati, orang selalu senang dengan orang yang baik hati bahkan kebaikannya selalu di ingat sepanjang masa."
"Nah tu lo tau."
"Emang gue tau," Dika pun menatap Ana, "Maksud lo nanya gitu mau ngejek gue? Asal lo tau ya Na, kepompong itu butuh proses dan waktu untuk menjadi kupu-kupu yang indah, dan apalagi gue, gue juga membutuhkan waktu dan proses untuk menjadi seorang laki-laki yang baik. Di dunia ini tidak ada satu pun yang instan, sedangkan mie yang di juluki makanan instan pun butuh proses baru dapat kita makan."
"Maaf," lirih Ana. Niatnya ingin menjebak laki-laki itu tetapi ternyata Dika lebih pintar menanggulangi jebakannya.
Ana pun memandang ke arah yang lain, dan ia tak sengaja melihat bekas-bekas ** rokok yang berserakan. Lau wanita itu dengan cepat memandang Dika.
"Lo ngerokok Dik?"
"Iya."
"Oh."
"Yaudah kita pulang. Entar orang tua lo marah lagi ke gue, karena gue nggak ngantar anak gadis nya pulang," ucapnya semabri terkekeh dan menarik tangan Ana.
Perempuan tersebut tersenyum kecut ketika Dika mengatakan jika orang tuanya akan marah, rasanya ia tak yakin akan di perhatikan sampai segitunya.
____________
Suara mesin motor memnuhi depan gerbang rumah Ana. lantas Ana pun turun dari motor Dika dan begitu pula dengan laki-laki itu.
"Jadi ini rumah lo?" Tanya Dika sembari memperhatikan rumah Ana yang begitu besar dan mewah.
"Iya. Mau mampir dulu nggak?"
"Enggak. Gue buru-buru, malam ini gue ada tanding balapan motor, mau ngambil motor si Reyhan dari Reno. Jadi lo doakan gue ya semoga menang!"
"Emang kenapa dengan motor Reyhan?"
"Ceritanya panjang, besok aja gue ceritain. Oh ya mana HP lo?"
"Ini," kata Ana seraya menunjukan ponselnya pada Dika.
"Sini." Dika pun mengetikan beberapa angka di sana dan mememanggil nomor tersebut. Tak lama ponsel Dika pun berdering, lalu Dika pun menyimpan nomornya di handphone Ana.
"Kalu lo kangen dengan gue telpon aja," ujarnya sembari menyerahkan ponsel milik Ana.
"Apaan sih Dik." Dika terkekeh seraya mendekati Ana dan mencium puncak kepala perempuan tersebut dengan hikmat dan durasinya yang cukup lama, tak lama baru lah Dika menjauhkan bibirnya dari puncak kepala Ana.
Ana terkesiap dengan ciuman Dika di puncak kepalanya, lalu ia melihat Dika yang menaiki motornya dan memasang helm di kepala laki-laki itu. Perempuan tersebut tidak bisa berkutik lagi, namun pada saat Dika ingin menjalankan motornya, Ana langsung menahan lengan Dika.
"Kenapa lo baik sama gue hari ini?" Tanya Ana dengan serius.
Dika pun menatap Ana, "Karena mood gue lagi baik sama lo." Selepas mengatakan itu Dika melajukan motornya meninggalkan Ana di depan gerbang.
"Kenapa lo lakuin itu ke gue Dik? Dengan sikap lo yang begitu gue makin susah ngelupin lo." Air kristal pun luruh dari pelupuk mata Ana, cewek itu pun mengusapnya seraya beranjak dari situ dan membuka pintu gerbang, lantas ia pun masuk kedalam.
_________
__ADS_1
TBC