SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 22 B


__ADS_3

Wellcome back my story


Jangan lupa like dan comen


Happy reading all ♡%


TYPO BERTEBARAN


__________________


*******


Tanggal: Jakarta 28 Juni 2018


Dear Kamu yang tersayang


Tidak tau apa lagi yang ingin ku ungkapkan kepada selembar kertas putih ini. Serangkaian kalimat yang mewakili rasa cinta kepadamu tidak bisa ku tulis lagi, sebab rasa rinduku teruntuk kamu lebih dari apapun sehingga sangat sulit sekali aku untuk menjelaskan rindu yang mendekam jauh di lubuk hati.....


Rindu, rindu, dan rindu. Itulah kata yang selalu ku ungkapkan di setiap surat cinta ku. Mungkin jika kau membaca semua surat surat ku pasti kau akan bosan membacanya, karena hanya itu itu saja yang aku ungkapkan....


Yah itulah kenyataan aku merindukanmu hadir di dalam hidupku. Aku berharap surat cintaku ini akan membawa dan memberitahukan betapa rindunya hatiku kepada mu.....


Di tengah gelapnya malam, ku tulis surat cinta ini. Di tengah derasnya hujan dan petir yang menggelegar di malam hari, ku rangkai kalimat kalimat riduku untukmu. Ya hanya untukmu kekasihku.


From yang merindukanmu


******


Ana meletakan surat yang telah ia rangkai dengan tangan dan fikirannya sendiri kedalam peti surat yang baru, ia memang baru saja membeli tempat surat yang baru setelah keesokannya bekas paska ia kehilangan peti suratnya kemarin di cafe.

__ADS_1


Lalu ia meletakan peti surat tersebut kedalam lemarinya. Ia berjalan mengahmpiri tempat tidur setelah meletakan peti surat tadi. Ia membaringkan tubuhnya yang sangat terasa sekali akan letih dan capeknya.


Ana berbaring dengan posisi yang bertelentang dan tangan kanan cewek itu ia gunakan sebagai bantalannya. Ana menatap atas kamarnya dengan pandangan yang kosong seperti tidak ada sama sekali tanda tanda kehidupan di dalam netra gadis itu.


Matanya tak henti menatapi langit langit kamar yang sama sekali tak ada warna lain selain warna putih yang menjadi cat langit langit kamar itu. Ia menarik napas panjang untuk menetralkan perasaan yang sama sekali tak mengenakan hatinya.


Entahlah ia juga tidak tau mengapa hari hari belakangan ini ia memiliki perasaan tidak enak, seperti ada yang mengganjal di hatinya tentang keluarga di rumah ini. Dengan cepat Ana menepis fikiran buruk yang tiba tiba saja timbul di benak gadis itu.


'Tidak Ana kamu harus berpikiran positif dengan keluarga mu ini, tidak semua orang jika tidak di anggap di dalam suatu keluarga ia bukan merupakan bagian keluarga itu, kamu pasti anak kandung dari papa dan mama,' kata hati Ana meyakinkan dirinya.


Ia memejamkan matanya sambil mengingat tentang betapa kejam keluarganya kepada dirinya selama ini. Ana merasa bahawa kata 'bahagia' seakan enggan menghampiri kehidupannya. Dia tidak tau apa itu bahagia bagaimana itu perhatian, yang ia hanya ketahui adalah rasa sakit yang terus membelenggu hatinya terus menerus berkepanjangan.


Ia tetap saja berpikir keras tentang semua rasa yang beragam menghampiri hidupnya. Ana memelekan matanya saat ia merasakan kepalanya seakan berputar hebat. Ia memijat kepala tersebut untuk mengurangi rasa pening meskipun hanya bisa membantu sedikit.


Dengan susah ia mengangkat berat badannya agar ia dapat bangun. Dengan sembyongan ia berjalan kearah meja belajarnya. Di meja belajar, Ana mebuka laci yang ada di meja belajarnya dan mengambil tempat obat pereda rasa sakit yang ia simpan di sana.


Sebelum beranjak Ana menutup kembali tutup obat tersebut dan meletekannya ketempat asal di dalam laci. Ana mengambil air putih tersebut dan ia pegang di tangan kirinya. Ia memasukan obat yang berbentuk kapsul tersebut kedalam mulutnya, dan barulah kemudian ia meminum air putih dengan satu tegukan.


Ia meletakan kembali gelas tersebut di atas meja nakas. Ana menaiki ranjangnya, rasa pening yang ia rasakan mulai mereda dan perlahan lahan rasa pening tersebut berkurang dan tidak sesakit dan sepening tadi. Ia bersandar kepada kepala ranjang milik gadis itu.


"Huftt... Penyakitku kambuh lagi," ujar Ana dengan sedih.


"Kenapa kehidupanku seperti ini, seakan aku di ciptakan hanya untuk menanggung penderitaan beban dunia. Akankah suatu hari nanti aku dapat bahagia?" Tanya Ana kepada dirinya sendiri. Ia tertawa miris meratapi semua ini, sepertinya ia di ciptakan di dunia hanya untuk merasakan sakit, tidak mungkin ia akan bahagia.


Ana menutup matanya yang terasa berat. Hening. Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan kamar Ana saat ini. Di kamar yang tidak terlalu besar ini, hanya ada suara jarum jam berputar saja yang terdengar sangat kuat jika dalam keadaan hening seperti yang terjadi dengan kamarnya Ana.


Dalam keheningan yang mendominasi saat saat seperti ini, tiba tiba sebuah ingatan tentang Dika melintas dengan enaknya di kepala perempuan itu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ana kaget bukan main saat ia terbayang akan wajah Dika yang tampannya luar biasa.


Ia ingat tadi pagi saat ia mengobati cowok itu. Wajah tampan alamiah yang tidak di buat buat milik laki laki itu sukses membuat degup jantung Ana memburu cepat. Wajah yang begitu sempurna susah untuk di jelaskan, tetapi yang perlu di ketehui ialah bahwa wajah Dika sangatlah tampan.

__ADS_1


Ana akui bahwa Dika merupakan laki laki tertampan yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Namun ketampanan Dika memudar di mata Ana jika ia ingat kelakuan cowok itu yang terkadang menyakiti hatinya.


"Kok gue jadi mikirin cowok itu sih."


Ana menggelengkan kepalanya tidak mungkin. Ia tidak mungkin jatuh cinta kepada cowok yang telah sering mencaci dan membuliy dirinya. Berkali kali Ana menggelngkan kepala meyakinkan hatinya bahwa ia hanya memuji Dika dan tidak ada sama sekali terbesit rasa kepada cowok itu, lagian sangat tidak memungkinkan bahwa ia dengan mudahnya menetapkan hati kepada seseorang dengan hanya terbuay oleh pesona yang di miliki oleh laki laki itu.


"Apa gue jatuh cinta dengan Dika?" Ana meraba dadanya yang sedang berdenyut laju dari biasanya jika ia tengah memikirkan cowok itu, "nggak! Nggak mungkin gue cinta dengan Dika, Dika buakan tipe gue."


Sebuah rasa tidak percaya diri mengahampiri Ana saat ia mengingat siapa Dika di sekolahnya. Dika orang kaya yang keluarganya sangat terkenal di kalangan masayarakat, dan keluarga laki laki itu termasuk orang yang berpengaruh di Asia ini. Tidak hanya sampai di situ saja, ayah Dika merupakan donatur terbesar sekolah mereka, jadi apakah mungkin Dika akan suka kepada dirinya yang bukan siapa siapa dan tidak memiliki apa apa.


"Apa Dika akan suka dengan gue?"


"huh-Dika nggak akan pernah mau dekat dan apalagi cinta dengan orang yang kaya gue yang baginya hanyalah parasit di hidup cowok itu."


Ana menitikan air matanya memikirkan semua itu, apalah daya ia sama sekali tidak di butuhkan kehadirannya di dunia ini, apalagi ia harus mendampingi laki laki tersebut, sungguh itu tidak memungkinkan. Ana tersadar saat air mata terus mengalir deras membanjiri wajahnya, untuk apa ia menangisi Dika? Apa pentingnya cowok itu di dalam hidupnya?


Ah Ana tidak tau mengapa ia jadi begini, mengapa ia menangisi Dika, kenapa ia terus kepikiran cowok itu. Apakah ini namanya cinta?


"Jika benar yang aku alami saat ini adalah CINTA, ku mohon ya Allah agar engkau menghapus rasa ini! Sebab Dika sangat sulit untuk ku gapai. Jika takdirku memang dia, tolong secepatnya persatukan kami ya Allah tuhanku," doa Ana. Ia mengusap air mata yang menetes tanpa henti.


________________


Tbc


Jangan lupa like dan comen


Story by: Amanda.


Maaf guys amburadul

__ADS_1


__ADS_2