
Suara notifikasi dari ponsel miliknya membuat Ana menghela napas beberapa kali. Dari tadi Ana tidak ada mood untuk membuka ponsel.
Ia menangis semalaman menahan rasa sesak di dadanya. Kenyataan bahwa sebentar lagi dia akan pindah ke Inggris membuat mood Ana rusak.
Ia marah kepada orangtuanya yang semena-mena kepadanya tanpa memperdulikan dirinya. Ana membenci akan hal itu.
Wanita tersebut kemudian memutuskan untuk meraih ponsel dan menatap benda pipih itu tanpa minat. Kemudian Ana membuka WhatsApp dan melihat salah satu grup wa yang jumlah pesan lebih dari seribu.
Ana mengernyit dan membuka grup tersebut dan terkejut melihat hal apa yang dihebohkan. Itu adalah video dirinya bertemu dengan Dika.
Ana melihat siapa pengirimnya. Ternyata adalah Reyhan. Ana memejamkan mata dan membaca chat selanjutnya. Ia melihat Dika yang marah besar di grup itu.
Selain itu puluhan tag didapatkan oleh Ana. Ia menarik napas panjang dan mematikan ponselnya tidak minat.
Hal itu malah membuat mood nya semakin buruk. Banyak orang-orang yang mengirimnya pesan pribadi hanya ingin bertanya hubungannya dengan Dika.
Ada yang tidak terima, Ana tadi sempat membaca sekilas chat yang ia dapatkan.
"Kenapa orang-orang terlalu kepo dengan kehidupan orang lain."
Ana menatap ponsel tadi dan menyalakannya kembali. Wanita itu mencari kontak temannya dan menghubungi Lona dan Cika sambung tiga.
"Halo Ana! Lo pacaran sama Dika?"
Belum sempat Ana membuka pembicaraan dia sudah diintrogasi oleh Lona.
"Lo beneran Na sama Dika?"
"Gue cuman sahabatan. Jangan aneh-aneh deh."
"Lho lho beneran?"
"Kenapa emang gak boleh ya?" tanya Ana memastikan.
"Bukan begitu Na."
"Udah-udah, gue mau kasih tau kalian sesuatu." Ana tiba-tiba menangis membuat Lona dan Cika yang tiba-tiba terkejut dengan reaksi wanita itu.
"Na! Lo gara-gara kita tanyain gini doang nangis?" tanya Cika terkejut.
__ADS_1
"Bukan..."
"Na, lo baik-baik deh, mending cerita sama kita. Lo dibully sama mereka yang gak senang lo deket sama Dika?"
"Gak. Bukan itu." Ana menarik napasnya panjang. Ia harus menyiapkan mental yang sangat kuat untuk menyatakan hal yang sebenarnya, "gue... Gue bakal pindah ke Inggris," ucap Ana to the point membuat mereka terkejut tanpa terkecuali satupun.
"Lo kalau mau ngeprnak kita bukan kaya gini caranya cuy. Lo kira bercanda kaya gini lucu hah?" tanya Lona penuh dengan emosi di seberang sana.
"Gue gak boong sumpah."
"Jadi beneran? Kenapa?"
"Lo tau kan Papa dan Mama gue kaya apa? Mereka bahkan maksa gue buat pindah ke Inggris."
Terdengar decakan Cika dan Lona di seberang sana. Kedua wanita itu marah besar tidak terima sahabat terbaik mereka Ana dipaksa untuk sekolah di Inggris.
"Kayaknya emak lo emang halal dirujak. Bisa-bisanya ada orang tua kandung kaya dia. Dia mah duta ortu terkejam. Anjay keren kan gue?"
Cika menahan napas mendengar Lona. Wanita itu sempat-sempatnya bertanya hal seperti itu di dalam situasi seperti ini.
"Lona!"
"Terus lo bakal kaya apa?" tanya Lona.
"Gue terpaksa buat nurutin. Dan malam ini gue bakal siap-siap."
"Na!" lirih Cika.
"Na, ini Dika chat gue, dia nelpon lo kok gak masuk."
"Kan gue lagi telponan sama kalian ya pantas gak masuk."
"Oh iya ya. Bentar gue balas."
"Gue cuman mau nyampein itu. Gue pengen kalian jangan ngomong ke Dika masalah ini, gue gak tega buat dia sakit hati dan ninggalin dia."
"Sip."
Ana mematikan sambungan telepon tersebut. Air matanya berlinangan. Wanita itu tengah menahan rasa sakit di dadanya.
__ADS_1
Ana menatap meja belajarnya. Orangtunya berbeda pendapat dengan ia. Dan memaksakan pendapat mereka yang tak sesuai dengannya itu kepadanya.
"Gue benci kalian." Ana menatap ke arah jendela, " Dika maafin gue. Gue harap lo baik-baik di sini."
Ana memejamkan mata dan mengambil kertas membuat surat untuk Dika. Mungkin ini adalah percakapan terakhir kalinya.
Goresan demi goresan membantu huruf, Ana coret di atas kertas tersebut. Ana menghela napas panjang dan menatap surat yang sudah ia tulis.
Air mata Ana menetes di atas selembar surat tersebut.
"Gue harap lo ngerti dengan keputusan gue dan nerima semuanya."
Ana memejamkan mata dan tak lama hp nya berdering. Ana mengambil handphone miliknya dan melihat Dika yang menelpon dirinya.
Ana tersenyum dan mulai menekan layar hijau.
"Halo? Akhirnya kesambung juga. Gue
kira lo kenapa," ujar Dika seakan tengah lega.
"Ada apa?"
"Lo marah anak-anak kirim video kita?"
"Gak mikirin. Lagian juga buat apa kedekatan kita disembunyikan."
"..."
"Dika, ini doang yang mau lo omongin?"
"Sebenarnya lebih dari ini. Kita bisa sleep call?"
"Boleh."
Pembicaraan pun berlanjut hingga tengah malam.
_________
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like, komen setelah membaca