
Pemandangan kota London terlihat sangat cerah di pagi hari. Ana tersenyum dari atas jendela melihat pemandangan indah itu.
Wanita tersebut memakai syal juga baju tebal karena kebetulan sedang musim salju. Wanita itu menatap ke arah depan dengan pandangan sayu.
Rasa rindu terselip di wajah wanita tersebut. Perasaan yang hanya mampu ia simpan di dalam lubuk hatinya tanpa bisa ia tumpahkan.
Sudah satu minggu lamanya ia berada di kota London ini. Ana juga sudah mendaftar di sekolah barunya. Memang pernah menjadi impiannya untuk sekolah di sini tetapi jika dilakukan dengan cara mendadak dan ia juga hampir melakukan ujian nasional di sekolah nya yang dulu dan rasanya membuat Ana sangat patah hati.
Apalagi ia hampir saja mengulang kembali kelas yang sama untuk 1 tahun. Ana meminta orang tuanya agar mengurus semua berkas-berkas agar dirinya tetap berada di kelas yang sama tanpa diturunkan satu kelas.
Untungnya Toni menyetujui keinginan Ana. Entah hal apa yang membuat Toni berbaik hati kepada Ana.
Ana menghela nafas panjang lalu menatap tangannya yang memerah karena sensitif dengan musim dingin.
"Dika," ujar Ana pelan sambil mengingat wajah pria itu kembali.
Jika terus begini entah sampai kapan Ana akan mengenang laki-laki tersebut. Ia juga mengkhawatirkan Dika dan wanita tersebut berharap Dika di sana dapat menerima kepergiannya dan juga tidak marah padanya.
Semua akun sosial media Ana dan juga nomornya disita oleh Toni dan Vanessa lalu digantikan dengan sosial media baru dan nomor baru.
"Mama kau sangat kejam kepada anak mu, bahkan kau tak ingin teman-teman ku tahu aku di sini. Mereka baik, kenapa kalian tetap menganggap mereka membawa pengaruh buruk untuk aku."
Ana masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua orang tuanya yang menganggap teman-temannya adalah orang yang nakal dan patut untuk Ana jauhi.
__ADS_1
Padahal sudah beberapa kali Ana menjelaskan kepada mereka bahwa teman-temannya adalah orang baik dan juga akan mengarahkannya kepada hal-hal yang baik.
Ana menundukkan kepala lalu meremas kedua tangannya. Wanita itu kemudian beranjak dari tempatnya lalu mengambil laptop. Ia mulai menulis sebuah cerita melanjutkan bab novel sebelumnya.
Karena ia juga seorang penulis dan itu menjadi sebuah hobi untuk Ana, makanya Ana melampiaskan rasa rindunya dengan menulis novel tersebut.
Di dalam tulisan itu ana juga mencurahkan perasaan dengan melalui dari tokoh karakter fiksi yang ada di dalam novel miliknya.
Cukup lama Ana mengerjakan 1 bab, hingga pada akhirnya ia pun bernafas lega ketika telah menyelesaikan tulisan novelnya.
"Akhirnya," ucap Ana lalu kemudian mengambil opsi untuk menerbitkan naskah bab tersebut.
____________
Semenjak kepergian Ana, perubahan pada diri Dika yang sebelumnya membaik kini kembali ke awal. Pria itu tanpa mengenal siapa orang laki-laki tersebut pasti akan memusuhinya termasuk itu teman-temannya sendiri.
Reyhan dan Diego dari tadi harus pasrah menerima amukan yang tidak jelas dari Dika. Laki-laki tersebut tidak terurus dan ia lebih sering marah-marah di kelas. Jika ada keributan sedikit yang membuat ketenangannya hancur maka Dika akan berteriak dan juga akan mengancam orang tersebut.
"Ada apa dengan teman lo itu?" tanya Diego kepada Reyhan.
Reyhan melirik sekilas temannya tersebut. Pria itu mendengus kasar kesal kepada Diego. Padahal mereka sama-sama teman dari Dika.
"Dih, temen lo juga kali," ujar Reyhan yang tidak terima.
__ADS_1
"Iye iye serah lo deh, tapi by the way kenapa dengan Dika, kenapa akhir-akhir ini mood nya buruk?"
"Lo nggak tahu ceritanya? Jadi si Dika itu ditinggal sama Ana ke Inggris. Dan lo tau nggak siapa pemilik surat yang pernah Dika ditemukan?"
"Siapa?" tanya Diego penasaran dan juga tertarik dengan ucapan temannya tersebut.
"Jadi orang yang pemilik surat tersebut tuh Ana. Si Ana ternyata suka sama Dika udah dari lama, dan bodohnya Dika ini malah tahu sekarang tentang perasaannya. Biasalah penyesalan kan selalu datang terakhir kalau di awal kan pendaftaran," ujar Reyhan yang mengejutkan Diego.
Laki-laki itu serempak memandang ke arah Dika dan Dika tampaknya tengah memperhatikannya dari tadi.
Seketika wajah kedua laki-laki tersebut menyengir berharap Dika tidak kembali marah-marah kepadanya.
"Lo semua udah puas kan ngelihat penderitaan gue? Terserah kalian mau ngehina gue bagaimana, tapi lo jangan sama sekali pernah menghina Ana."
Reyhan dan Diego mengangguk. Kemudian kedua pria itu bernapas lega melihat Dika tidak marah kepada mereka.
Dika keluar dari kelas. Laki-laki tersebut ingin menenangkan diri sebentar. Meskipun ia harus membolos kembali.
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1