
Dika mendengus kasar dan memandang partner tidurnya dengan padangan jijik. Pria itu beranjak dari tempat tidur tersebut lalu memungut pakaiannya kemudian keluar dari dalam kamar hotel tersebut setelah memberikan tumpukan uang untuk sang wanita.
Sikap brengseknya semakin berkembang ketika tidak ada satu orang pun yang menjadi pendorong hidupnya. Ia semakin tersesat ditambah ia merupakan anak broken home.
Orangtunya setiap hari bertengkar yang membuat mereka tidak terlalu memperhatikan anak mereka baik Dika maupun Naina. Untuk Dika pria itu tidak bisa lagi untuk dikembalikan kepada jalan yang benar, sementara Naina adiknya masih berada di jalan yang benar dan tinggal bersama kakek neneknya.
Dika menghela napas panjang dan mengeluarkan sebilah rokok dari kantong bajunya lalu menghidupkan pemetik hingga dari ujung rokok tersebut keluar asap yang sangat menggebul.
Dika menyesap rokok tersebut lalu menghembuskan asap tersebut ke udara. Hal itu terus ia lakukan hingga sampai ke parkiran. Sesampainya di sana Dika membuang sisa rokoknya dan kemudian memijak puntung rokok tersebut.
"Dika?" tanya Cika yang kebetulan baru saja keluar dari hotel yang sama dengan Dika.
Dika melirik wanita yang memanggil namanya. Ia mengangkat satu alis lalu memperhatikan wanita itu dari atas hingga ke bawah.
"Lo siapa?" tanya Dika dengan nada dingin.
Mata Cika membulat sempurna saat mendengar ucapan Dika. Ia memandang Dika dengan bingung.
"Lo gak kenal gue?" tanya Cika sekali lagi berharap untuk kali ini Dika mengenali dirinya.
__ADS_1
"Sampah lo. Buat apa gue tau sama lo," ujar Dika dan mendengus. Pria itu membuka pintu mobil namun Cika cepat menahan tangan Dika.
"Serius lo gak kenal gue? Gue Cika."
"Gue gak kenal Cika. An.jing," ujar Dika dan menatap marah ke arah Cika.
"Cika temennya Ana. Gak inget lo?" Mendengar nama Ana membuat Dika terbungkam.
Nama Ana tidak asing di telinganya. Bahkan Dika tidak akan pernah melupakan nama wanita itu yang sangat indah terdengar di telinganya.
Seketika wajah Dika mengeras mendengar nama itu kembali. Napasnya memburu dan Dika menatap Cika dengan seksama.
"Nah itu. Giliran Aja aja lo inget. Pas gue enggak."
"Oh."
"Gimana kabar lo?" tanya Cika dengan antusias.
Dika tersenyum tipis. "Kenapa? Lo mau jadi deretan cewek gue selanjutnya."
__ADS_1
"Gak anj.ing.. Dika Lo brengsek banget."
"Gak ada yang penting, kan? Mending gue cabut. Gue banyak urusan. Gak lo doang."
Dika berlalu begitu saja dan masuk ke dalam mobilnya. Sementara Cika berteriak nyaring kepada pria itu yang semena-mena dan tampak sangat merendahkan derajat seorang wanita.
Sementara di dalam mobil Dika mengendari mobil tersebut dengan kecepatan penuh. Rasa sesak kembali bersarang di dalam dadanya. Mengingat luka lama itu kembali membuat Dika tak kuasa mengontrol perasaannya.
"Ana di mana lo sekarang? Kenapa Lo gak pernah balas chat gue? Anj.engg!!" umpat Dika lalu memukul stir dengan kuat.
Pria itu menatap jalanan dengan mata elangnya. Sesekali helaan napas terdengar dari pria itu.
Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang hendak melintas di jalan tersebut. Mata Dika melotot dan refleks ia membanting stir hingga mobil tersebut tidak terkendali dan Dika menabrak pagar pembatas jalan.
________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1