
Ana berjalan santai bersama Joe. Pria itu bersama Ana tertawa renyah sambil berjalan kecil.
Seolah tidak ada beban di antara keduanya. Selalu bersama dan selalu tertawa bahagia, jika terdapat susah maka akan dilewati oleh mereka bersama-sama.
Bahkan orang-orang sampai iri dengan kedekatan mereka berdua. Namun sayang persahabatan antara dua orang berbeda gender tidak selamanya berjalan dengan baik pasti ada salah satu di antara mereka yang menyimpan perasaan lebih.
Ana mengirup udara dengan banyak dan menatap pemandangan indah di kampus mereka.
"Joe di sini sangat asri sekali, aku menyukai Inggris tetapi aku juga menyukai Indonesia."
Joe diam seribu bahasa tak bisa mengatakan apa-apa. Ia tahu jika Ana sangatlah merindukan tanah airnya. Lebih tepatnya kepada salah satu warga negara yang tinggal di Indonesia.
Wanita itu sering bercerita mengenai Dika beberapa kali kepadanya. Meskipun sakit, Joe tentang menahan perasaan ini di dadanya tanpa mau mengatakan yang sebenarnya kepada Ana.
Memang salahnya sendiri yang mencintai orang namun hatinya bukan untuknya malah untuk lelaki lain. Maka dari itu Joe ikhlas jika Ana mencintai Dika.
"Aku tahu apa yang kau rasakan Ana, tenanglah kau pasti sebentar lagi bisa pulang ke Indonesia."
"Belum tentu Joe, sekalipun aku sudah lolos dari universitas ini pasti mereka tidak akan mau menerima aku di sana. Selama ada kakak Misla maka hanya dialah yang selalu diperhatikan oleh ibu."
"Ana, aku yakin suatu hari Ibu dan ayahmu akan mendapatkan balasannya sendiri karena sudah mengabaikan kau serta menyakiti hatimu."
__ADS_1
"Joe, aku memang sangat kejam namun aku rasa tidak sekejam itu," ujar Aurora dan menghela napas panjang.
Kemudian mereka pun tertawa bersama-sama. Tak sengaja Ana menatap ke depan dan seketika buku-buku yang ada di tangannya jatuh berantakan di lantai.
Ana tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Wanita itu mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang ia lihat adalah benar bukan salah lihat, dan benar saja dia ada di sini.
Joe mengikuti arah pandang Ana dan pria itu melihat seorang pria berdiri tak jauh di depan mereka. Wajah laki-laki tersebut terlihat dingin dan tak bersahabat. Apalagi saat ia menata pria tersebut, Joe melihat aura permusuhan yang sangat kental.
"Siapa dia Ana? Kau mengenal dia?"
Ana meneguk ludahnya dan seluruh tubuhnya menegang. Ana sama sekali tak menghiraukan ucapan Joe dan malah ingin mengejar pria tersebut.
Sayangnya laki-laki itu malah pergi begitu saja seorang menghindari Ana.ana berhenti berjalan dan ia tak mampu mengeluarkan kata-kata ketika mengetahui bahwa dirinya tak dianggap penting oleh pria itu.
"Ada apa dengan mu Ana?" Kau mengenal siapa dia?"
Ana menatap Joe dengan getir. Seluruh tubuh wanita itu bergetar saking syoknya. Ia menggenggam tangan Joe dan memeluk tubuh pria itu.
"Hiks, Joe dia ada di sini, hiks, aku tidak salah lihat, tapi kenapa dia langsung pergi dan tidak mengenali aku?" tanya Ana dengan sedih, "apakah dia benar-benar sudah meluapkan aku?"
"Ana siapa dia?"
__ADS_1
Ana memandang Joe. Ia menatap tempat pria itu tadi berdiri dan tersenyum tipis.
"Dia adalah Dika. Aku tak tahu hanya mirip atau memang itu adalah dirinya. Tapi, jika itu adalah Dika kenapa dia bisa ada di sini?"
"Di...dia Dika?" tanya Joe pelan. Pria itu menahan perasaannya yang sungguh sangat sesak. Pria itu menatap ke arah langit dengan perasaan bergemuruh di dadanya.
Ia kira Ana di Inggris bisa melupakan Dika dan ternyata sampai kapanpun Ana tidak akan pernah bisa melupakan Dika. Terlebih jika Dika ada disini, peluangnya untuk mendapatkan Ana sama sekali tidak ada.
"Ana kau tidak boleh berlarut seperti ini, belum tentu itu dia, kau tahu banyak orang yang sama di muka bumi ini," ujar Joe menenangkan Aurora.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Joe, tetapi rasanya itu benar-benar Dika. Ana bisa merasakan aura itu sendiri. Ana menghilang nafas selalu mengusap air matanya.
Joe tersenyum lembut lalu kemudian mengusap kepala Ana dengan hikmat. Pria itu menggenggam tangan Ana dengan kuat.
"Tidak boleh bersedih, sebagai sahabatku kau harus ceria terus," ucap Joe dengan cukup tegas tanpa mau dibantah.
Anak yang sudah hafal dengan watak pria itu pun sedikit terkekeh. Iya kemudian berjalan di samping Joe. Mungkin memang benar bahwa itu bukanlah Dika, tidak mungkin pula dia itu mau menyusulnya ke Inggris atau bersekolah di Inggris.
Atau bahkan mungkin pria itu tidak pernah mengingatnya sama sekali. Memang sangat miris hidup seorang Ana Pricilla. Tidak pernah bahagia dalam percintaan, dan juga tidak pernah bahagia dalam lingkungan keluarga.
__________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA