SURAT CINTA UNTUK....?

SURAT CINTA UNTUK....?
Part 60


__ADS_3

Dika tak berhenti menitikkan air mata sambil menggenggam tangan Ana. Ia tak menyangka jika Ana berpamitan untuk ke rumah keluarganya.


Pria itu patah hati yang sangat dalam saat melihat kondisi sang kekasih yang dirawat di rumah sakit. Kondisinya benar-benar kritis dan juga kekurangan darah. Golongan darah Ana tergolong sangat langka.


Tidak ada yang bisa menemukan darah untuk Ana karena stok di rumah sakit juga sudah habis.


Toni berserta keluarganya sudah melarikan diri. Jika Toni ada di sini mungkin ia bisa meminta bantuan pria itu untuk mendonorkan darah untuk Aurora.


Dika harus menunggu Ana dalam masa kritisnya. Entah bagaimana keadaan Ana yang sebenernya seorang. Namun Ana benar-benar tak ada sinyal untuk bangun.


"Ana bangunlah. Jika aku tahu kau akan ke rumah mu, aku tidak akan membiarkannya. Kau tak perlu memberikan undangan pertunangan kita kepada ayah mu. Kau kenapa ingin melakukan ini," ujar Dika sambil mengusap air matanya.


Laki-laki itu mengepalkan tangan dengan sangat erat. Dika tak akan perang memaafkan Toni yang sudah membuat kekasih hatinya terluka parah seperti ini.


Dokter pun membuka pintu. Dika mengusap air matanya dan melihat dokter


"Pasti saya akan menyelamatkan pacar Anda. Itu sesuai dengan kemampuan tubuhnya untuk bertahan. Namun jika dilihat, pasien susah untuk diselamatkan karena pasien tengah mengidap penyakit kangker payudara stadium dua dan juga ia kekurangan darah."


Dika terdiam dengan harapan yang jatuh sejatuh-jatuhnya. Ia tak menyangka jika Ana memiliki penyakit kangker.


Dika tersenyum miris sambil tertawa. Laki-laki itu tampak sudah putus asa. Dika membiarkan air mata mengalir di wajahnya. Ia meninjau dinding dengan kencang sambil berteriak nyaring.


"Mas-mas ini rumah sakit, pasien bisa terganggu. Harap pengertiannya."


"Kenapa pacar saya yang harus menerima semua ini? Kenapa tidak saya sendiri."


Monitor yang memperlihatkan detak jantung Ana pun semakin lemah dan dokter pun langsung panik dan berusaha untuk menyelamatkan Ana.


"Mas bisa keluar lebih dulu?"


"Kenapa saya harus keluar? Saya ingin melihat pacar saya, kalian ini bagaimana sih, saya sudah bayar kalian dan kalian malah melarang saya masuk dan ingin melihat pacar saya."


"Bukan begitu Mas... Tapi..."


"Bacott.. diam lo semua anji.ngg!!" Dika pun tak bisa lagi untuk menahan kata-katanya. Kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari mulutnya.


Namun Dika yang histeris tersebut dipaksa para suster untuk keluar sambil dibantu satpam. Raka yang baru saja datang pun langsung menenangkan anaknya.

__ADS_1


"Tenanglah Dika, semuanya pasti akan baik-baik saja."


"Baik-baik gimana?!! Ana lagi kritis di dalam dan kalian bilang akan baik-baik saja. Gak ngerti gue sama kalian!"


Dokter dan suster pun berusaha untuk menyelamatkan nyawa Ana di dalam. Selang beberapa jam dokter pun keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang tak terbaca.


"Bagaimana keadaan pacar saya?"


"Keluarga pasien ada?"


"Gak usah nannya keluarganya. Gue juga keluarganya. Ana gak butuh punya keluarga kaya Toni Bangs.at!" ujar Dika berapi-api.


"Dika, jaga mulut mu."


"Diam lo."


Dokter itu menghela napas yang sangat dalam. Tampak penyesalan di wajahnya yang membuat Dika merasa tak tenang dan dunianya seakan hendak runtuh.


"Ada apa?" tanya Raka lebih lembut dari anaknya.


Dika langsung terdiam usai mendengar kalimat tersebut. Ia mengepalkan tangannya dan berusaha untuk tetap tegar.


"Lo bohong kan anj?? Lo... Gak becus lo jadi dokter...." teriak Dika dan ingin mengajak duel dokter tersebut.


"Dika, Dika...."


Dika tersungkur di lantai. Pria itu berteriak nyaring sambil menyebut nama Ana.


"ANA!!!!"


____________


Dika menatap batu nisan yang terukir nama Ana. Para sahabat dan hanya Dika saja yang tertinggal. Mereka semua seakan tak mau beranjak dari makam Ana.


"Dika yang sabar yah lo, gue tau lo hancur banget, tapi gak baik kalau lo terus berlarut-larut dalam masalah lo."


"Lo gak liat Ana gimana? Gara-gara orang gila si Toni Ana jadi begini. Kalau gue ketemu Toni gue bakal buat dia ngerasain apa yang dirasakan oleh Ana."

__ADS_1


"Gue tau lo marah tapi ko gak boleh marah di atas kuburan Ana."


Dika mengepalkan tangan dan menatap batu nisan tersebut. Dika menahan napas dan air matanya kembali keluar.


"Gue udah mau tunangan sama dia. Andai gue yang ke sana."


"Mungkin ini sudah takdirnya!"


"Bacot lo anjin.g!!"


"DIKA! INI KUBURAN ANA!! LO GAK BOLEH NGOMONG KAYA GITU DI ATAS KUBURAN DIA!!" Dika pun menatap kuburan Ana dan tersenyum tipis.


Ia menyentuh batu nisan tersebut dan mengusapnya dengan sangat lembut. Apakah ini benar-benar Ana? Kekasihnya?


Oh sangat malang sekali nasib Ana.


Dika terus berada di atas makam Ana tanpa mau untuk pulang. Laki-laki tersebut menangis di atas makam Ana sambil mengepalkan tangannya.


"Lo tau gak gue sakit hati Ana. Lo janji sama gue kalau kita bakal sama-sama tapi kenapa lo pergi duluan... Kenapa lo gak ajak-ajak gue?!!"


Hingga akhirnya hujan deras pun mengguyur tubuh Dika dan Dika belum ingin beranjak dari makam Ana.


Ia terus menatap makam itu hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang. Dika belum benar-benar sadar ia masih berlarut dalam kepergian Ana.


Dika tak menyadari jika ada mobil yang melintas dengan kelajuan penuh dan menabrak tubuh Dika hingga Dika benar-benar terhempas dan kemudian juga terlindas. Tubuh Dika tak terbentuk sama sekali.


"Ana, gue bener-bener nyusul lo. Akhirnya...."


Dika pun menutup matanya dan kegelapan pun menguasainya dan hingga tubuh Dika dan nyawanya terpisah. Cukup cinta sejati ini menggambarkan semuanya. Bagaimana mereka terpisah dan bagaimana kesetiaan tersebut terjalin.


Dua orang yang sama-sama tak mendapatkan kebahagiaan dari kedua orang tua mereka. Toni dan sekeluarga telah ditangkap dan diberikan hukuman yang sangat berat atas kejahatan yang ia perbuat.


Mungkin hukuman itu belum cukup untuk diterima Toni, karena keegoisannya ia telah menghilangkan dua nyawa yang saling mencintai.


___________


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2