
Lona dan Cika tak berhenti menangis menatap kedua batu nisan yang saling berdampingan. Ibu Dika bahkan tak mampu untuk menahan tangis dan histeris saat melihat makam anaknya.
Kisah cinta mereka begitu abadi dan sangat setia serta banyak menarik kalangan masyarakat. Ana dan Dika adalah dua pasang kekasih yang bahkan tidak terpisahkan.
Di mana Ana di situ juga ada Dika. Cukup penderitaan Dika tatkala ia ditinggalkan wanita itu ke Inggris sementara di Indonesia ia uring-uringan menunggu kehadiran wanita itu.
Pada saat mereka kembali bertemu namun maut menyatukan mereka bukan ikatan pernikahan yang hampir saja terjalin.
Bahkan saat ini Toni sekeluarga tengah dipenjara. Ia menyesali perbuatannya kepada anak kandungnya sendiri. Setelah menemukan sang istri meninggal kini ia harus menerima kenyataan jika anak perempuan dari orang yang sangat dicintainya juga sudah pergi.
Dika dan Ana mendapatkan doa yang melimpah dari berbagai masyarakat.
"Lo jahat banget, kalian janji kalau nikah bakal ngundang kita. Tapi kalian berdua malah menikmati kasih sayang kalian di alam lain. Gimana kita mu pergi," tangis Lona dan mengusap batu nisan keuda orang tersebut.
Air mata di wajah Chika begitu banyak hingga menghapus riasan wajahnya.
"Kalian berdua gak asik," ujar Reyhan sembari menatap batu nisan sahabatnya.
__ADS_1
Mereka tak pernah menyangka jika kedua sahabat mereka akan berakhir seperti ini. Mati dengan menggenaskan.
"Sebentar lagi lo wisuda Na. Kenapa lo gak dateng ke wisuda lo? Bukannya lo sendiri yang pengen banget hadir di wisuda dan lo pengen banget gelar yang bakal lo dapetin."
Anak ingin menjadi penulis novel terkenal. Semenjak kematiannya bersama Dika, Chika dan Lona berusaha untuk mewujudkan keinginan Ana.
Iya mantu menyebarkan naskah buatan Ana. Namun nyatanya naskah tersebut mirip dengan naskah percintaan Ana dengan Dika.
Seolah Wanita itu sudah mengetahui bagaimana akhir kisah cinta mereka. Sebuah cerita yang begitu menyayat hati dan sejarah tidak langsung mengisahkan tentang si penulis itu sendiri.
__________
Chika maju menggantikan Ana wisuda. Semua orang yang sudah mengetahui kejadian itu ikut menangis. Seharusnya yang menempati posisi Chika saat ini adalah Ana.
Namun wanita itu bahkan tidak hadir di acara wisuda ke lulusannya sendiri. Lona menatap Chika yang maju tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Kenapa orang-orang kok jahat sama lo Na. Seharusnya lo ada Na. Lo sama Dika saat ini wisuda sama-sama Na."
__ADS_1
Tiba saatnya sesi berfoto-foto. Ibu Dika menghampiri Chika dan Lona. Tampak wajah ibu Dika tersebut sembab dan tak terlihat baik-baik saja.
Di tangannya ia membawa foto anaknya.
"Apakah bisa kita foto bersama mewakili Ana dan Dika."
Mereka pun foto bersama. Melihat hasilnya mereka hanya bisa menahan sesak di dada.
Apalagi melihat foto keduanya yang tengah tersenyum ceria. Naina bahkan tak bisa sama sekali melupakan kenangan indah saat ia bersama sang kakak.
"Kakak aku merindukan mu. Aku tahu ini sudah terlambat. Tapi lihat kalian berdua wisuda bersama."
Mungkin saat ini keduanya melihat dari atas bersama-sama. Entah mereka tengah bersama atau tidak, tapi semoga Tuhan memberikan yang terbaik.
__________
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
__ADS_1